— JAKARTA – IBM Indonesia dan Dicoding Indonesia telah menyelesaikan program Pijak 2026, sebuah inisiatif yang dirancang untuk membekali ribuan peserta dengan keterampilan kecerdasan buatan (AI) dan kesiapan kerja melalui pembelajaran berbasis proyek.

General Manager IBM ASEAN, Catherine Lian, menekankan bahwa pesatnya perkembangan AI secara signifikan meningkatkan permintaan akan tenaga kerja yang mahir di bidang tersebut. “Inovasi AI terus menghadirkan tantangan sekaligus menginspirasi berbagai organisasi lintas industri, sehingga kebutuhan akan talenta yang siap menghadapi era AI menjadi makin penting,” ujar Catherine.

Catherine menambahkan bahwa kemudahan akses terhadap model AI open-source akan mempercepat perubahan di dunia kerja. Oleh karena itu, kemampuan menggunakan AI harus dibarengi dengan pemahaman mendalam mengenai kolaborasi dengan sistem AI, tata kelola yang bertanggung jawab, serta pengembangan solusi inovatif berbasis teknologi tersebut.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Dicoding Indonesia, Narenda Wicaksono, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada proses pembelajaran, tetapi juga bertujuan untuk memperluas peluang peserta dalam memasuki dunia kerja.

Program yang diselenggarakan melalui kolaborasi IBM SkillsBuild dan Dicoding ini diikuti oleh lebih dari 20.000 peserta. Mereka mendapatkan akses ke materi dasar mulai dari pengenalan AI, AI generatif, etika AI, hingga keterampilan pengelolaan karier. Dari jumlah tersebut, lebih dari 600 peserta dengan performa terbaik melanjutkan ke tahap pembelajaran berbasis proyek yang intensif.

Tahapan pembelajaran berbasis proyek ini mencakup lebih dari 900 jam pembelajaran yang didampingi oleh praktisi industri. Selama program berlangsung, para peserta berhasil menghasilkan lebih dari 100 proyek akhir atau capstone project yang bertujuan untuk menjawab berbagai persoalan di masyarakat dan industri.

Salah satu proyek yang berhasil dikembangkan adalah Sigap AI, sebuah platform berbasis AI yang dirancang khusus untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam memantau ulasan pelanggan. Platform ini mampu menganalisis sentimen, mengidentifikasi isu utama, serta menyusun rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti oleh para pelaku UMKM.

Menyusul penyelesaian program, Dicoding dijadwalkan akan menggelar Pijak Career Fair pada 18 hingga 31 Agustus 2026. Acara ini bertujuan untuk mempertemukan para peserta program dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga digital terampil. “Selain menghadirkan pengalaman pembelajaran terbaik, kami juga ingin memastikan para peserta yang telah menyelesaikan program memiliki peluang lebih luas untuk memasuki dunia kerja,” ungkap Narenda.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. med. Setiawan, dr., mengapresiasi keterampilan AI yang diperoleh peserta dan menilai potensi pemanfaatannya untuk mengembangkan solusi di berbagai sektor. Ia juga mendorong agar program serupa dapat terus dilanjutkan guna memperluas akses talenta digital Indonesia terhadap pengembangan keterampilan AI. “Keterampilan AI yang diperoleh melalui Pijak dapat memberdayakan para peserta untuk menjawab berbagai tantangan nyata serta mengembangkan solusi inovatif bagi beragam sektor industri,” ucap Prof. Setiawan.

Program Pijak 2026 juga melibatkan lebih dari 1.200 institusi pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Keterlibatan institusi pendidikan ini merupakan bagian dari upaya memperluas akses terhadap pembelajaran AI dan keterampilan digital di kalangan akademik. Kolaborasi antara sektor pendidikan dan industri dinilai semakin penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan pemanfaatan AI dalam proses transformasi digital nasional.