— Kepolisian Daerah Banten mengonfirmasi kelanjutan proses pencocokan DNA antara sampel antemortem keluarga penumpang kapal cepat KM Arupadatu I dan jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu. Proses identifikasi ini diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua pekan.

“Data antemortem dan sampel DNA keluarga dari posko kita di Banten sudah diserahkan ke Polda Bengkulu untuk persesuaian. Saat ini masih proses identifikasi, dan umumnya memakan waktu lebih kurang dua minggu,” ujar Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli A Hutapea dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis petang.

Jenazah berjenis kelamin laki-laki tersebut diperkirakan berusia 50 tahun dengan tinggi badan sekitar 163 cm dan ditemukan mengenakan celana pendek selancar di kawasan Pulau Enggano. Awalnya, jenazah tersebut dimakamkan oleh pihak forkopimcam setempat karena tidak ada warga lokal yang merasa kehilangan.

Namun, menyusul koordinasi lintas wilayah antara Polda Banten dan Polda Bengkulu, makam jenazah tersebut kembali digali. Jenazah kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu untuk menjalani otopsi serta identifikasi postmortem.

Dari delapan penumpang KM Arupadatu I yang terdiri atas lima jurnalis, dua kru kapal, dan satu pemandu, enam di antaranya tercatat sebagai warga ber-KTP Provinsi Banten. Polda Banten memastikan akan terus berkomunikasi dan memberikan pendampingan penuh kepada pihak keluarga untuk memantau perkembangan medis resmi dari Tim DVI Polri.

“Yang paling dibutuhkan keluarga hari ini adalah dukungan dan informasi, karena keluarga dan kita semua masih memelihara harapan bahwa kawan-kawan kita, saudara-saudara kita ini masih bisa ditemukan. Oleh karena itu kami akan terus menjaga komunikasi untuk berkoordinasi dengan para pihak keluarga,” kata Maruli.

Penyelarasan data DNA antemortem keluarga korban dengan sampel jenazah postmortem ini menjadi harapan besar untuk memastikan apakah jenazah tersebut merupakan bagian dari delapan penumpang kapal. Harapan ini muncul di tengah kebuntuan tim SAR yang belum mendapatkan hasil positif hingga operasi gabungan dihentikan pada hari ke-10.

Selama pencarian, 523 personel SAR gabungan telah menyisir pulau-perairan sekitar Gunung Anak Krakatau di wilayah Banten, Lampung, dan Bengkulu sejak kapal dilaporkan hilang kontak pada Senin (7/9). Delapan orang yang dicari meliputi lima jurnalis: M Bagus Khoirunnas (ANTARA Biro Banten), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas). Tiga lainnya adalah Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), dan Heriyanto (pemandu).

Jenazah pria tanpa identitas itu dilaporkan ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu (12/9) oleh Kantor SAR Bengkulu dan warga setempat.