— PT Jakarta International Container Terminal (JICT) meningkatkan kesiapan dalam menghadapi potensi gangguan siber dengan menggelar latihan respons insiden siber dan pemulihan operasional. Kegiatan ini mengambil tema “21 Hours to Recover – From Incident to Recovery”, yang bertujuan untuk menguji ketahanan sistem secara menyeluruh, mulai dari pemulihan sistem TI hingga keberlanjutan operasi dan pengelolaan komunikasi krisis.

Direktur Utama JICT, Ade Hartono, menekankan bahwa ketahanan siber kini tidak hanya menjadi tanggung jawab departemen teknologi informasi, melainkan telah menjadi bagian integral dari ketahanan operasional terminal secara keseluruhan. Menurutnya, latihan ini tidak hanya mengukur kecepatan pemulihan sistem, tetapi juga kemampuan organisasi dalam mengambil keputusan strategis, menjaga kendali operasi, mengelola komunikasi publik, dan memastikan layanan kembali berfungsi secara optimal dari awal hingga akhir.

Ade menjelaskan bahwa proses pemulihan harus melalui tahap validasi yang ketat sebelum operasi dinyatakan kembali normal sepenuhnya. Validasi ini mencakup seluruh tingkatan pengguna dan proses bisnis, untuk memastikan bahwa aplikasi, basis data, konektivitas jaringan, integrasi sistem, serta seluruh transaksi operasional dapat berjalan sesuai dengan fungsi yang seharusnya. “Sistem yang sudah kembali aktif belum tentu berarti layanan telah pulih sepenuhnya. Seluruh elemen di JICT wajib melakukan validasi layanan dan memastikan semua kriteria untuk kembali normal terpenuhi,” tegasnya.

Latihan ini juga melibatkan koordinasi antara JICT dan TPK Koja. Tujuannya adalah untuk menguji kelancaran konektivitas dan integrasi layanan antara kedua sistem. Selama pelaksanaan latihan, waktu pemulihan dipantau secara ketat menggunakan parameter Recovery Time Objective (RTO), dengan target maksimal pemulihan adalah 21 jam. Ade menambahkan, “Ketahanan siber bukanlah sesuatu yang bisa dibangun saat insiden sudah terjadi. Ia harus dipersiapkan, diuji, dan terus ditingkatkan. Tujuan kami sederhana: ketika gangguan terjadi, setiap orang memahami perannya, keputusan dapat diambil dengan cepat, operasi tetap terkendali, dan JICT mampu pulih sebagai satu kesatuan organisasi.”