— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan yang variatif pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Pelaku pasar secara aktif mencermati sejumlah sentimen penting yang datang dari kancah global maupun domestik.

Pada sesi pertama perdagangan, IHSG tercatat mengalami penurunan tipis sebesar 4,78 poin atau 0,07%, membawanya ke level 6.496. Pergerakan pasar ini sangat dipengaruhi oleh dinamika perkembangan geopolitik di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak dunia, kebijakan ekonomi Tiongkok, proyeksi ekonomi Indonesia, hingga agenda penting terkait pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI).

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa sejumlah sentimen tersebut menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam menentukan arah perdagangan selanjutnya. Salah satu sentimen yang mulai memberikan dampak positif bagi pasar global adalah perkembangan konflik di Timur Tengah. Terdapat indikasi kemajuan dalam upaya perundingan untuk meredakan konflik, yang berpotensi mengurangi kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global.

“Terdapat tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan untuk meredakan konflik sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi mulai berkurang,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Rabu (26/8/2026). Laporan lebih lanjut menyebutkan bahwa Pakistan telah mengonfirmasi kemajuan signifikan dalam negosiasi dengan Teheran untuk mengakhiri perang. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran dan Oman dilaporkan telah membahas rencana pembentukan koridor transit sementara melalui Selat Hormuz, serta proyek pembersihan ranjau di jalur tersebut. Perkembangan ini turut mendorong penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi, yang pada gilirannya berpotensi mengurangi tekanan inflasi global.

Sentimen kedua yang menjadi sorotan berasal dari Tiongkok. Pelaku pasar secara cermat memantau pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional China yang dijadwalkan berlangsung pada 25-28 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi krusial karena pasar menanti sinyal dukungan kebijakan dari pemerintah Tiongkok, terutama setelah beberapa data ekonomi menunjukkan adanya pelemahan. “Investor berharap pemerintah China kembali mengeluarkan kebijakan untuk menopang pertumbuhan ekonomi,” tambah Pilarmas.

Sentimen ketiga, menurut Pilarmas, datang dari pasar domestik yang mencermati prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini diperkuat oleh penilaian Fitch Ratings yang menganggap asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun 2027 dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 lebih realistis. Meskipun demikian, Fitch tetap memberikan beberapa catatan penting. Ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak, serta risiko kebijakan fiskal yang dianggap kurang disiplin, dinilai berpotensi memengaruhi pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Calon Gubernur BI Jadi Perhatian

Sentimen keempat yang disorot adalah proses pergantian Gubernur Bank Indonesia. Pasar secara antusias menanti hasil uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur BI yang dijadwalkan berlangsung di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (26/8/2026). Destry Damayanti merupakan calon tunggal yang diajukan oleh pemerintah untuk mengisi posisi strategis tersebut. “Pelaku pasar menanti pandangan dan strategi calon Gubernur BI terkait arah kebijakan moneter, pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta upaya menjaga arus modal asing,” jelas Pilarmas.

Selain itu, pasar juga memberikan perhatian pada rencana aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung di kompleks MPR/DPR RI pada Kamis (27/8/2026). Salah satu tuntutan utama yang akan dibawa dalam aksi tersebut adalah terkait pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset. Stabilitas keamanan nasional menjadi perhatian krusial bagi investor, mengingat kondisi sosial dan politik dapat secara signifikan memengaruhi sentimen serta keputusan investasi di pasar modal. “Pelaku pasar berharap aksi tersebut berjalan damai sehingga stabilitas keamanan dalam negeri tetap terjaga,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya.

Di tengah pergerakan IHSG yang cenderung datar, sejumlah saham berhasil mencatat kenaikan signifikan pada sesi pertama perdagangan. Lima saham dengan penguatan terbesar adalah PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO), PT City Retail Developments Tbk (NICE), PT Steady Safe Tbk (SAFE), PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk (BIKE), dan PT Pelita Samudera Shipping Tbk (PICO). Sebaliknya, saham-saham yang mengalami tekanan terbesar antara lain PT Murni Sadar Tbk (TAMA), PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), PT Multi Makmur Investama Tbk (PIPA), dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH).

Untuk perdagangan sesi kedua, Pilarmas merekomendasikan strategi beli untuk saham PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA), dengan area support berada di level 308 dan resistance di 356.