— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi pekan yang krusial. Perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan dirilis pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September mendatang. Keputusan ini diprediksi menjadi katalis utama yang akan menentukan arah pasar saham di tengah tantangan inflasi dan kenaikan harga energi di AS.

Kekhawatiran mengenai kebijakan The Fed menguat setelah harga minyak mentah dunia menembus level US$100 per barel, data inflasi produsen AS yang masih tinggi, serta imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 5%. Kondisi ini meningkatkan probabilitas The Fed untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat atau hawkish.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai bahwa situasi ini berpotensi membuat IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan untuk konsolidasi terlebih dahulu. Menurutnya, respons pasar akan sangat bergantung pada sinyal kebijakan yang akan diberikan oleh The Fed.

“Jika The Fed memberikan sinyal yang lebih hawkish, tekanan terhadap emerging market termasuk Indonesia berpotensi berlanjut. Sebaliknya, jika keputusan yang diambil lebih dovish dari ekspektasi, hal itu dapat memicu relief rally,” ujar Elandry kepada Investor Daily.

Dengan kondisi tersebut, Elandry memprediksi investor akan menjadi lebih selektif dalam memilih instrumen investasi. Akibatnya, pergerakan saham secara sektoral berpotensi lebih dominan dibandingkan penguatan indeks secara merata.

Secara teknikal, Elandry menjelaskan bahwa struktur IHSG dalam jangka pendek menunjukkan pelemahan. Hal ini terlihat setelah indeks keluar dari area uptrend pendek dan turun di bawah rata-rata pergerakan harga jangka pendek (moving average). “Area 6.450–6.500 menjadi support penting bagi IHSG,” tuturnya.

Jika level support tersebut bertahan, IHSG berpeluang untuk melakukan rebound menuju level 6.600, dan selanjutnya ke kisaran 6.680–6.700. Namun, jika level 6.450 berhasil ditembus dengan volume perdagangan yang signifikan, koreksi lebih lanjut berpotensi terjadi hingga sekitar 6.400.

“Oleh karena itu, strategi yang lebih ideal untuk sementara waktu adalah buy on weakness dibandingkan mengejar harga ketika terjadi rebound,” saran Elandry.

Rekomendasi Saham

Elandry merekomendasikan investor untuk mencermati emiten-emiten yang memiliki katalis dari sektor komoditas atau fundamental yang relatif defensif. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dinilai menarik dari sisi tema emas dan mineral. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) masih mendapatkan dukungan positif dari kenaikan harga minyak.

Untuk saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, Elandry menyarankan untuk mencermati saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) apabila tekanan jual mulai mereda. Saham-saham ini berpotensi menjadi penggerak utama penguatan IHSG.

“Strateginya tetap melakukan trading buy secara bertahap pada area support, dan tetap menjaga disiplin stop loss. Hal ini penting mengingat volatilitas pasar diperkirakan masih cukup tinggi pada pekan mendatang,” ungkap Elandry.

Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk menguat, meskipun dengan ruang yang terbatas. Ia memproyeksikan level support di angka 6.440 dan level resistance di 6.623 untuk pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan.

Herditya menambahkan bahwa pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh hasil rapat FOMC. Sikap The Fed yang masih cenderung hawkish, didorong oleh kenaikan harga energi dan data producer price index (PPI) AS yang menunjukkan tekanan harga tinggi, menjadi faktor utama. Selain itu, investor juga akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta arus dana asing (foreign flow) di IHSG.

Untuk pilihan saham, Herditya merekomendasikan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dengan target harga Rp1.710–1.765. Ia juga merekomendasikan PT Indonesian Network Entertainment Tbk (INET) dengan target harga Rp366–400, dan PT Nusantara Citra Lestari Tbk (NCKL) yang ditargetkan mencapai Rp980–1.060.

Pasar Surat Utang

Selain pergerakan pasar saham, kebijakan The Fed juga akan menjadi salah satu penentu arah pergerakan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) dalam jangka pendek. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menyatakan bahwa jika The Fed mengambil sikap yang lebih hawkish dan imbal hasil Treasury AS bertahan di sekitar 4,9-5%, maka yield SUN tenor 5 dan 10 tahun berpotensi naik 5-15 basis poin dari level pasar sekunder sebelumnya.

“Sebaliknya, apabila komunikasi The Fed lebih netral dan pasar melihat tekanan kenaikan suku bunga AS mulai mereda, tekanan terhadap pasar SUN diperkirakan akan lebih terbatas,” kata Yusuf.

Pergerakan yield Treasury AS juga akan berdampak pada nilai tukar rupiah. Ketika yield aset AS meningkat, dolar AS berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor global, yang pada gilirannya akan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi penting karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan premi risiko yang diminta oleh investor dalam membeli Surat Berharga Negara (SBN). Yusuf memperkirakan, secara umum, ruang stabilitas pasar SUN masih terbuka selama nilai tukar rupiah tidak melemah secara signifikan dan yield Treasury AS tidak menetap jauh di atas 5%.

Untuk jangka pendek, Yusuf memproyeksikan yield SUN akan bergerak sideways dengan kecenderungan meningkat hingga akhir September 2026. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi bahwa nilai tukar rupiah tetap berada di bawah level Rp17.800 per dolar AS dan yield Treasury tenor 10 tahun tidak bertahan jauh di atas 5%.

Dalam skenario tersebut, yield SUN tenor 5 tahun diperkirakan bergerak dalam rentang 6,95%-7,10%, sedangkan tenor 10 tahun berada pada kisaran 7,10%-7,30%.

Sementara itu, bid-to-cover ratio pada lelang Surat Utang Negara pekan depan diperkirakan berada di kisaran 1,6-2,1 kali, dengan potensi serapan pemerintah sekitar Rp30 triliun-Rp36 triliun. Dengan proyeksi tersebut, lelang SUN sepekan ke depan kemungkinan belum menjadi ujian besar dari sisi kemampuan pemerintah dalam memperoleh pembiayaan.

Incoming bids yang diperkirakan masih mencapai Rp55 triliun-Rp70 triliun menunjukkan bahwa investor domestik masih memiliki kapasitas yang memadai untuk menyerap penerbitan surat utang oleh pemerintah.