— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Senin (14/9/2026). Pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2026), IHSG tercatat melemah 47,9 poin atau 0,73% ke level 6.541. Sektor kesehatan menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,91%, sementara sektor barang konsumen primer mengalami pelemahan terdalam sebesar 1,25%.

Pilarmas Investindo Sekuritas dalam ulasannya pada Senin (14/9/2026) memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang support 6.440 dan resistance 6.600. Analis mengingatkan adanya potensi koreksi, sehingga investor disarankan untuk tetap berhati-hati.

Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meningkat menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak WTI telah menembus US$ 100 per barel, sementara Brent mencapai US$ 104,6 per barel. Gangguan pada pipa minyak Arab Saudi akibat serangan semakin memperparah tekanan pada harga minyak mentah, bensin, dan solar, yang berimplikasi pada kenaikan harga barang dan jasa.

Tekanan inflasi juga datang dari sektor perangkat lunak dan aksesoris komputer yang mengalami kenaikan harga hingga 25,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Harga komputer, periferal, dan asisten rumah pintar pun tercatat naik 8,4%. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut berkontribusi pada kenaikan harga berbagai barang, ditambah dengan permintaan yang kuat.

Data inflasi yang dirilis meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada pekan depan menjadi 88,1%, dengan proyeksi kenaikan sebesar 25 basis poin (bps). Hal ini diperkirakan akan memberikan tekanan pada pasar saham dan obligasi. Imbal hasil obligasi US Treasury berpotensi meningkat terbatas, mengingat kenaikan signifikan telah terjadi sebelumnya.

Penguatan dolar AS diperkirakan akan kembali terjadi, yang berpotensi menekan nilai tukar Rupiah. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan melakukan mitigasi dengan cepat dan terukur. Dengan selisih suku bunga sebesar 200-225 bps, tekanan pada Rupiah diperkirakan masih terbatas. Pilarmas memandang BI akan memantau perkembangan dengan cermat. Jika Rupiah melemah di atas Rp 18.000, ada kemungkinan BI akan menaikkan suku bunga hingga 6%. Pilarmas memprediksi era suku bunga tinggi akan kembali terjadi menjelang akhir tahun hingga tahun depan.

Dari Amerika Serikat, pasar menantikan data penjualan ritel yang diproyeksikan meningkat, serta Import Price Index. Data ketenagakerjaan diperkirakan stabil. Pertemuan The Fed pada 17 September mendatang menjadi sorotan utama, dengan proyeksi kenaikan suku bunga 25 bps, terutama mengingat harga minyak yang telah menembus US$ 100 per barel.

Di Eropa, data inflasi (CPI MoM dan YoY, CPI Core YoY) diproyeksikan stabil. Sementara itu, data ekonomi dari Tiongkok, termasuk penjualan ritel, produksi industri, serta investasi aset tetap dan properti, diproyeksikan terus mengalami penurunan yang mengkhawatirkan.

Jepang juga akan merilis sejumlah data ekonomi penting seperti Industrial Production, Ekspor, Impor, dan Trade Balance yang diproyeksikan masih dalam posisi defisit. Data Japan Natl. CPI YoY dan CPI Core YoY diproyeksikan mengalami kenaikan, yang akan menjadi perhatian Bank Sentral Jepang dalam pertemuan mereka pada 18 September, dengan proyeksi kenaikan suku bunga 25 bps.

Pekan ini menjadi krusial sebagai modal bagi pertemuan kebijakan Bank Sentral Indonesia pekan depan. Di sisi lain, pemerintah perlu mengejar tambahan penerimaan sekitar Rp 440 triliun dibandingkan realisasi pajak 2025 untuk mencapai target 2026. Realisasi penerimaan hingga Agustus masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2021-2024.

Penahanan restitusi pajak yang dilakukan pemerintah dapat membantu menjaga penerimaan jangka pendek, namun berpotensi memengaruhi arus kas perusahaan dan aktivitas dunia usaha. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mencapai target penerimaan pajak 2026 di tengah kebutuhan pembiayaan program-program pemerintah.

Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan fokus pemerintah ke depan adalah optimalisasi penerimaan pajak tanpa menekan aktivitas ekonomi dan dunia usaha. Untuk trading pada Senin (14/9/2026), Pilarmas merekomendasikan saham INET, DSNG, dan PTBA.