— Harga emas dunia masih berpeluang mencetak rekor baru dan menembus level US$ 5.000 per ons troi hingga akhir tahun ini. Peluang ini muncul meski saat ini emas tengah mengalami koreksi setelah reli yang sangat kuat.

Research & Development ICDX, Tiffani Safinia, menilai pelemahan harga emas saat ini lebih tepat dilihat sebagai fase konsolidasi dan normalisasi, bukan sebagai perubahan tren jangka panjang. “Pelemahan emas dipandang sebagai koreksi dan normalisasi setelah reli yang sangat kuat, tetapi belum dapat sepenuhnya mengesampingkan risiko tren turun yang lebih panjang,” kata Tiffani.

Menurut Tiffani, faktor paling dominan yang memengaruhi pergerakan harga emas dalam jangka pendek adalah ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan pergerakan imbal hasil (yield) obligasi AS. Pergerakan dolar AS yang mengikuti perubahan ekspektasi tersebut juga turut memengaruhi harga emas.

Emas merupakan aset yang tidak memberikan kupon atau bunga. Ketika pasar memperkirakan suku bunga akan lebih tinggi, aset berbunga menjadi lebih menarik sehingga biaya peluang untuk memegang emas meningkat. Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga cenderung menjadi katalis positif bagi emas.

Tiffani menambahkan, tekanan terhadap emas saat ini juga diperumit oleh lonjakan harga minyak. Konflik di Timur Tengah memang dapat meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas. Namun, kenaikan harga energi juga berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi, yang kemudian membuat pasar memperkirakan suku bunga akan lebih tinggi pula.

“Jika eskalasi berlanjut, permintaan safe haven dapat meningkat, tetapi kenaikan minyak juga dapat memperkuat tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga,” jelas Tiffani.

Target US$ 5.000 Masih Terbuka

Meskipun demikian, Tiffani melihat peluang emas menuju US$ 5.000 per ons troi masih terbuka. Skenario optimistis ini membutuhkan kombinasi dari The Fed yang lebih akomodatif, pelemahan dolar AS, penurunan yield obligasi, peningkatan pembelian emas oleh bank sentral global, serta arus dana masuk ke ETF emas, dan risiko geopolitik yang tetap tinggi.

“Target US$ 5.000 per ons troi masih memungkinkan, tetapi membutuhkan dukungan dari sejumlah katalis yang cukup kuat,” ujarnya.

Sebaliknya, jika inflasi tetap tinggi, The Fed mempertahankan kebijakan moneternya yang ketat, dolar AS menguat, dan arus investasi emas melemah, harga emas berpotensi berada di kisaran US$ 4.000–4.300 per ons troi hingga akhir tahun.

Tiffani menambahkan, pembelian oleh bank sentral masih menjadi penopang struktural bagi harga emas. Data World Gold Council menunjukkan bank sentral mencatat pembelian bersih 23 ton emas pada Juli 2026. China tercatat membeli 20 ton, sementara Polandia menambah 8 ton.

Untuk mencetak rekor baru, emas membutuhkan kombinasi pelemahan dolar AS, penurunan yield, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, serta berlanjutnya permintaan dari investor institusional dan bank sentral.

Risiko terbesar justru berpotensi berasal dari perubahan ekspektasi pasar menjadi lebih hawkish. Jika inflasi kembali meningkat dan pasar melihat suku bunga perlu dipertahankan tinggi atau bahkan dinaikkan lebih lanjut, yield Treasury dan dolar AS dapat kembali menguat sehingga menekan harga emas.

“Untuk jangka pendek, data inflasi dan keputusan The Fed masih menjadi sumber volatilitas utama,” pungkas Tiffani.