— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan potensi untuk melanjutkan penguatannya pada pekan mendatang. Setelah berhasil mencatat kenaikan sebesar 2,7% dalam sepekan terakhir dan ditutup pada level 6.409,6, minat investor terhadap pasar saham terpantau mulai membaik. Saham-saham seperti BUMI, SRTG, BULL, dan BRPT menjadi sorotan.

Analis pasar modal dan pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, memperkirakan IHSG berpeluang menembus area psikologis 6.500. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya konsolidasi atau aksi ambil untung (profit taking) setelah penguatan yang cukup signifikan.

Penguatan IHSG dinilai semakin menarik karena diiringi peningkatan aktivitas perdagangan dan aliran dana asing yang positif. Tercatat, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 494 miliar di pasar reguler. “Kondisi tersebut menunjukkan penguatan IHSG tidak hanya ditopang aktivitas investor domestik, tetapi mulai memperoleh dukungan investor asing,” ujar Hendra.

Menurut Hendra, katalis penguatan IHSG saat ini merupakan kombinasi dari faktor domestik dan global. Dari sisi domestik, pelaku pasar merespons perkembangan terkait kandidat Gubernur Bank Indonesia (BI) yang diharapkan dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter, stabilitas rupiah, dan arah suku bunga. Selain itu, investor juga mulai mencermati musim laporan keuangan emiten. Kinerja perusahaan pada kuartal II-2026 yang menunjukkan pertumbuhan laba dan pendapatan solid dapat menjadi alasan bagi investor untuk mempertahankan posisi di pasar saham.

Likuiditas perekonomian juga menjadi perhatian setelah pertumbuhan adjusted base money mencapai 17,1% secara tahunan pada Juli 2026. Hendra menilai peningkatan ini berpotensi mendukung aktivitas pasar.

Secara teknikal, momentum IHSG menunjukkan perbaikan. Indikator MACD mingguan telah membentuk golden cross dan histogram MACD masuk ke area positif, mengindikasikan momentum penguatan bertambah. Namun, stochastic RSI sudah berada di area overbought, yang menandakan peluang konsolidasi atau profit taking jangka pendek tetap terbuka.

IHSG juga mulai mendekati Moving Average 20 (MA20) mingguan di sekitar level 6.488. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang IHSG melanjutkan kenaikan menuju 6.500 akan semakin terbuka. “Sebaliknya, jika gagal melewati level resistance tersebut, pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi terlebih dahulu,” jelasnya.

Phintraco Sekuritas menyampaikan pandangan serupa. Dengan MACD IHSG membentuk golden cross dan stochastic RSI memasuki area overbought, IHSG diprediksi berpotensi menguji level 6.500 pada pekan depan apabila mampu menembus MA20 mingguan di sekitar 6.488.

Hendra menambahkan, investor saat ini lebih tertarik pada saham dengan fundamental kuat, pertumbuhan laba jelas, dan katalis spesifik, dibandingkan saham yang sudah naik tinggi. Sektor infrastruktur masih menarik dicermati, setelah menjadi sektor penguatan terbesar pada perdagangan terakhir. Saham-saham seperti Indosat (ISAT), Telkom Indonesia (TLKM), dan Jasa Marga (JSMR) menjadi contoh.

Sektor bahan baku dan energi juga menjadi perhatian, masing-masing menguat 1,6% dan 1,2%. Kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak, masih menjadi katalis bagi saham energi, didorong oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini dapat memberikan sentimen positif, meskipun perlu dicermati potensi tekanan inflasi global.

Di sektor komoditas, saham Bumi Resources (BUMI) menarik dicermati seiring momentum harga dan tingginya aktivitas transaksi. Secara teknikal, BUMI berpeluang menguat menuju target terdekat Rp 200 dan Rp 220 selama momentum dan volume perdagangan terjaga.

Saham Barito Pacific (BRPT) juga dinilai menarik untuk strategi trading buy dengan target harga Rp 2.000 dan Rp 2.200. Saham Saratoga Investama Sedaya (SRTG) memiliki peluang menuju Rp 1.915 dan Rp 2.000, sementara saham Buana Lintas Lautan (BULL) bersifat speculative buy dengan target harga Rp 480.

Investor disarankan untuk tetap selektif, memanfaatkan momentum pada saham yang memiliki kombinasi fundamental, katalis, dan teknikal kuat, serta tidak mengejar saham yang telah mengalami kenaikan terlalu tinggi.