DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami pelemahan pada Kamis (24/9/2026), ditutup anjlok 1,2% ke level 6.298,6. Tekanan terhadap IHSG merupakan kombinasi antara sentimen global yang menguat dan faktor domestik yang membuat investor cenderung mengambil posisi defensif.
Pelemahan IHSG terutama dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi, serta arus keluar modal asing yang terus terjadi.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana mengungkapkan, tekanan global menguat setelah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun kembali menembus angka 5%, sementara tenor 2 tahun berada di kisaran 4,9%. Kondisi ini membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik dan meningkatkan tuntutan imbal hasil terhadap aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Di pasar domestik, pelemahan nilai tukar rupiah dan aksi jual bersih oleh investor asing (foreign outflow) semakin memperbesar tekanan pada IHSG. Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara juga turut diperhitungkan oleh pasar, meskipun Hendra menilai faktor tersebut bukan penyebab utama koreksi. Pergantian jabatan tersebut berlangsung pada September 2026.
Suahasil telah menegaskan komitmen terhadap kesinambungan kebijakan fiskal, dengan proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 mencapai 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB). “Isu pergantian menteri lebih tepat dilihat sebagai tambahan terhadap persepsi risiko investor,” kata Hendra di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Aksi jual oleh investor asing juga dinilai sudah melampaui sekadar pengambilan keuntungan (profit taking). Hingga 24 September 2026, investor asing mencatat total jual bersih (net sell) sebesar Rp 104,3 triliun di pasar reguler Bursa Efek Indonesia (BEI) secara year to date.
“Pola ini lebih tepat dibaca sebagai kombinasi perubahan alokasi aset dan pengurangan risiko,” ujar pendiri Republik Investor tersebut. Menurut dia, saham-saham dari sektor perbankan besar (big banks) menjadi sasaran karena likuiditasnya yang besar dan mudah digunakan investor asing untuk mengurangi eksposur mereka di Indonesia.
Proyeksi IHSG dan Saham Pilihan
Hendra melihat level 6.230 sebagai level kunci bagi IHSG. Jika level ini bertahan, peluang untuk pembalikan teknikal (technical rebound) terbuka menuju 6.371 dan 6.447. Bahkan, IHSG berpotensi mencapai 6.586 jika level resistansi lanjutan berhasil ditembus. Namun, jika level 6.230 jebol, risiko pelemahan lebih lanjut meningkat ke kisaran 6.035–6.000.
Untuk strategi perdagangan (trading), Hendra mempertahankan rekomendasi speculative buy untuk saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan target harga Rp 7.425, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga Rp 1.695, dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dengan target harga Rp 670.
ICBP ditopang oleh karakternya sebagai saham consumer staples yang defensif. MAPI mendapat katalis positif dari konsumsi domestik dan sektor ritel, sementara ERAA didukung oleh siklus pergantian perangkat teknologi serta ekosistem digital yang terus berkembang.
Meskipun demikian, Hendra menyarankan investor untuk menerapkan strategi pembelian bertahap dan disiplin terhadap risiko. “Fundamental emiten yang baik tidak otomatis membuat harga saham kebal terhadap tekanan IHSG dan foreign outflow,” pungkasnya.
Ikuti DailyFX.ID
