DailyFX.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan dibayangi potensi koreksi pada perdagangan Kamis, 24 September 2026.
CGS International Sekuritas Indonesia mengemukakan bahwa pelemahan mayoritas harga komoditas dan bursa Wall Street menjadi sentimen negatif. Hal ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan kembali pada akhir Oktober.
Namun, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan berpeluang menjadi sentimen positif bagi IHSG.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.300-6.225 dan resist 6.450-6.525,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasannya, Kamis (24/9/2026).
Perdagangan Rabu waktu Amerika Serikat mencatat pelemahan indeks di bursa Wall Street. Hal ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di tengah kekhawatiran investor mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed.
Kenaikan imbal hasil obligasi terjadi setelah adanya komentar dari Gubernur Federal Reserve, Michael Barr, yang menyatakan perlunya penyesuaian kebijakan moneter di masa mendatang. Data Purchasing Manager Index yang lebih tinggi dari sebelumnya juga turut memengaruhi.
Imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun kembali menembus level 5%, tepatnya di 5.135%, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2007. Kenaikan harian ini juga tercatat sebagai yang tertinggi sejak April 2025. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 2 tahun mencapai level tertingginya sejak Mei 2024 di 4.947%.
Saat ini, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober tercatat naik menjadi 66%, dari sebelumnya 55,4%.
Untuk perdagangan hari ini, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham TINS, ANTM, EMAS, ARCI, PTBA, dan SMGR untuk aktivitas trading.
Ikuti DailyFX.ID
