DailyFX.ID — JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat, 25 September 2026. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada hari sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan Kamis sore (24/9/2026), rupiah tercatat melemah 98 poin atau 0,55% ke posisi Rp 17.916 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp 17.817 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada kisaran Rp 17.910 hingga Rp 18.000 per dolar AS untuk perdagangan hari Jumat.
Faktor Eksternal Pemicu Pelemahan
Ibrahim menguraikan sejumlah faktor eksternal yang memengaruhi pelemahan rupiah. Sentimen global yang terus menguat terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu perhatian utama. Selain itu, fokus pasar juga tertuju pada kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Ketegangan antara AS dan Iran semakin terlihat dari pernyataan Presiden Iran di hadapan Majelis Umum PBB, yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan pernah menyerah pada tekanan AS. Lebih lanjut, kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sampai syarat-syarat Iran terpenuhi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengindikasikan bahwa kesepakatan dengan Iran akan membutuhkan kerja keras dan Trump memiliki opsi militer.
Di sisi lain, Iran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap usulan perdamaiannya, yang mencakup prioritas pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Nada Hawkish The Fed dan Imbal Hasil US Treasury
Dari aspek kebijakan moneter, nada hawkish dari para pengambil kebijakan The Fed menjadi sorotan. Gubernur Michael Barr mengemukakan adanya kemungkinan penyesuaian kebijakan lebih lanjut guna menekan laju inflasi di Amerika Serikat.
Data dari alat CME FedWatch menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh bank sentral AS pada pertemuan Oktober mendatang mencapai 69,7%, meningkat dari 48,7% pada minggu sebelumnya. Hal ini turut mendorong imbal hasil (yield) surat utang AS atau US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, level tertinggi sejak tahun 2007.
Peran Bank Indonesia dan Outlook Fiskal
Sementara itu, dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed, di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal.
Ibrahim menambahkan, para ekonom memperingatkan bahwa langkah BI pada September untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil selama tiga bulan berturut-turut mungkin hanya bersifat sementara. Peringatan ini didasarkan pada masih tingginya risiko eksternal akibat meningkatnya imbal hasil global, fluktuasi harga minyak, serta tekanan geopolitik yang terus berlanjut.
Ikuti DailyFX.ID
