— Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menunjukkan tren penurunan sejak April 2026, dari angka 123 menjadi 116,8 pada Juli 2026. Pemerintah menilai pelemahan ini belum menjadi tekanan serius, salah satu alasannya adalah pola normalisasi konsumsi masyarakat pasca-momentum Idulfitri.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), IKK tercatat 123 pada April 2026, kemudian melemah menjadi 120,9 pada Mei. Penurunan berlanjut menjadi 117,8 pada Juni dan mencapai 116,8 pada Juli 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa pelemahan konsumsi setelah hari besar keagamaan merupakan fenomena yang biasa terjadi.

“Kita tahu pada triwulan I-2026 ada hari besar keagamaan, biasanya setelah hari besar keagamaan (konsumsi) turun,” ujar Airlangga kepada awak media di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (10/8/2026).

Meskipun IKK mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah melihat potensi penguatan konsumsi masyarakat. Secara musiman, konsumsi cenderung meningkat menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Airlangga juga memperkirakan konsumsi masyarakat dapat mengalami peningkatan pada Agustus 2026. Hal ini didukung oleh program diskon yang digelar pengusaha ritel bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2026.

“Kami berharap pada triwulan IV-2026 biasanya akan naik karena terkait dengan HKBN Nataru. Pada triwulan ini dalam rangka hari 17 Agustus beberapa mal juga melakukan program diskon khusus,” terang Airlangga.

Secara terpisah, Ketua Umum Association of Indonesian Energy, Mineral, and Coal Suppliers (Aspebindo), Anggawira, berpendapat bahwa IKK Juli 2026 masih mencerminkan optimisme konsumen. Namun, kualitas optimisme tersebut perlu diperkuat agar keyakinan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi pekerjaan, pendapatan riil, dan keberanian berbelanja.

Menurut Anggawira, penurunan IKK dari 117,8 pada Juni menjadi 116,8 pada Juli belum cukup untuk menyimpulkan adanya pelemahan konsumsi rumah tangga yang serius. Secara level, IKK masih berada di atas batas optimistis 100, menunjukkan pandangan positif masyarakat terhadap kondisi perekonomian.

Kendati demikian, tren penurunan yang telah berlangsung selama beberapa bulan berturut-turut ini tidak bisa dianggap sekadar fluktuasi bulanan biasa.

“Penurunan satu poin memang kecil, tetapi tren yang berlangsung konsisten dapat menjadi sinyal bahwa rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Penurunan ini belum merupakan alarm, tetapi sudah menjadi lampu kuning yang perlu dipantau,” terang Anggawira.

Anggawira mengidentifikasi beberapa indikator yang perlu diperhatikan jika tren penurunan konsumsi berlanjut. Di antaranya adalah IKK yang terus melemah selama tiga hingga enam bulan dan mendekati level 105–110, serta Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Juli 2026 yang turun mendekati atau menembus angka 100.

Selain itu, persepsi masyarakat terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja yang memburuk, pelemahan pembelian barang tahan lama, penjualan ritel, serta kredit konsumsi juga perlu diwaspadai. Indikator lainnya adalah turunnya proporsi pendapatan untuk konsumsi ketika pembayaran cicilan meningkat. Pemerintah juga perlu mencermati apabila kelompok berpendapatan menengah dan bawah mengalami penurunan keyakinan yang lebih dalam.

“Apabila IKK sampai berada di bawah 100, itu merupakan sinyal yang lebih tegas karena berarti konsumen secara agregat telah masuk zona pesimistis. Namun, pemerintah tidak perlu menunggu IKK menembus 100 untuk bertindak. Kebijakan harus dimulai ketika tren pelemahan mulai konsisten dan telah dikonfirmasi indikator riil,” tutur Anggawira.

Daya Beli Perlu Diperkuat

Anggawira menekankan bahwa upaya mendorong konsumsi perlu difokuskan pada penguatan daya beli, bukan semata-mata mendorong masyarakat berutang atau memberikan insentif belanja jangka pendek.

Pertama, pemerintah perlu menjaga inflasi pada komponen pangan, energi, transportasi, pendidikan, dan perumahan. Stabilitas harga pada komponen-komponen tersebut krusial karena secara langsung memengaruhi ruang belanja rumah tangga.

Kedua, bantuan sosial dan stimulus perlu lebih tepat sasaran kepada kelompok berpendapatan rendah. Kelompok ini memiliki kecenderungan membelanjakan tambahan pendapatan yang lebih tinggi.

“Percepatan pencairan bansos, bantuan pangan, dan program padat karya dapat memberikan dampak relatif cepat,” kata Anggawira.

Ketiga, kelas menengah membutuhkan insentif yang lebih produktif, seperti dukungan pembelian rumah pertama, transportasi, kendaraan rendah emisi, pendidikan, serta insentif di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Anggawira menambahkan, kelas menengah perlu kembali merasa aman untuk melakukan belanja bernilai besar.

Keempat, penciptaan lapangan kerja dan kepastian penghasilan harus menjadi agenda utama. Stimulus konsumsi dinilai tidak akan berkelanjutan jika tidak diiringi investasi, ekspansi usaha, dan penyerapan tenaga kerja.

Kelima, pemerintah dan BI perlu memastikan kebijakan moneter yang menjaga stabilitas tetap diimbangi dengan likuiditas dan pembiayaan yang mengalir ke sektor produktif, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor padat karya.

“Penurunan suku bunga kredit tidak cukup jika dunia usaha belum yakin untuk berekspansi,” pungkas Anggawira.