— Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memandang calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti akan menghadapi tantangan besar untuk menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral. Tantangan ini muncul terutama ketika pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang cukup agresif.

Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa ujian pertama bagi Destry, jika terpilih sebagai Gubernur BI, adalah menjaga keselarasan antara kebijakan moneter dengan kebijakan pemerintah. Pelaku pasar akan mengamati apakah BI tetap mengambil keputusan berdasarkan data dan mandat stabilitas harga, atau justru terlalu menyesuaikan diri dengan kebutuhan fiskal jangka pendek.

“Koordinasi dengan pemerintah memang penting, tetapi independensi harus tetap menjadi batasnya. Justru kemampuan untuk mempertahankan kebijakan yang dianggap tepat meskipun tidak selalu sejalan dengan pemerintah akan menjadi ukuran awal kredibilitas kepemimpinan Destry,” ujar Yusuf saat dihubungi pada Senin (10/8/2026).

Saat ini, Destry Damayanti menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI. Ia mengisi kekosongan posisi Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.

Yusuf menambahkan, tantangan paling mendesak yang akan dihadapi adalah menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Meskipun inflasi saat ini relatif terkendali, memberikan ruang bagi BI, tekanan eksternal terhadap Rupiah masih cukup besar akibat kondisi global dan sensitivitas arus modal.

Jika Rupiah melemah terlalu dalam, dampaknya dapat merembet ke ekspektasi inflasi dan kepercayaan investor. “Oleh karena itu, salah satu fokus utama BI ke depan adalah menjaga stabilitas nilai tukar,” terang Yusuf.

Dalam menghadapi tekanan terhadap Rupiah, BI mungkin perlu mempertahankan suku bunga lebih tinggi atau bahkan menaikkannya jika diperlukan. Konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi harus dikelola melalui kebijakan makroprudensial yang lebih longgar agar kredit dan aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Dalam situasi tersebut, perlambatan pertumbuhan dalam jangka pendek menjadi risiko yang harus dihadapi demi mencegah pelemahan Rupiah yang lebih besar dan berkepanjangan. Di sisi lain, ketika inflasi terkendali namun tekanan terhadap Rupiah tinggi, ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas.

Oleh karena itu, BI perlu mengandalkan instrumen lain seperti intervensi di pasar valuta asing, kebijakan makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas melalui operasi pasar. “Yang penting bukan hanya instrumennya, tetapi konsistensi kebijakan dan komunikasi kepada pasar agar setiap langkah BI bisa dipahami sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas,” tutur Yusuf.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa pemerintah telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (10/8/2026). Surpres tersebut berisi nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).

Surpres tersebut juga mencakup nama calon Deputi Gubernur Senior BI dan calon Deputi Gubernur BI. Saat ini, kekosongan posisi Gubernur BI diisi oleh Destry Damayanti yang menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI. “Jadi satu, yaitu atas nama Ibu Destry Damayanti yang sekarang beliau menjabat sebagai Pejabat Gubernur sementara. Secara resmi, Pimpinan DPR pasti akan menyampaikan kepada teman-teman media dan kepada masyarakat,” ucap Prasetyo.