DailyFX.ID — Persoalan limbah plastik di Indonesia mencapai titik kritis. Jutaan ton sampah plastik terbuang tanpa pengolahan memadai, menumpuk di tempat pembuangan akhir, serta mencemari sungai dan laut. Sektor informal, termasuk pemulung, pengepul, dan pengolah daur ulang lokal, memegang peran vital dalam mengatasi masalah ini. Namun, kontribusi mereka sering kali belum terintegrasi secara transparan ke dalam rantai pasok industri modern.
Menjawab tantangan tersebut, Impact Artifacts, anak perusahaan Ancala Project yang berfokus pada pengembangan produk gaya hidup berbasis circular economy, menghadirkan model bisnis yang menghubungkan seluruh ekosistem pengelolaan sampah plastik dari hulu ke hilir. Salah satu pilar utama model ini adalah Supply Chain Traceability atau keterlacakan rantai pasok, yang memastikan setiap material daur ulang memiliki rekam jejak yang jelas sejak awal pengumpulan.
Perjalanan material dimulai dari pemulung yang mengumpulkan limbah plastik jenis polypropylene (PP) di Bali. Limbah tersebut kemudian diteruskan ke pengepul untuk pemilahan, lalu dikirim ke processor lokal untuk diubah menjadi pelet plastik murni. Material ini selanjutnya dimanufaktur menjadi produk gaya hidup bernilai tambah tinggi. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi beban limbah di tempat pembuangan, tetapi juga meningkatkan margin ekonomi bagi para pekerja di sektor informal pengelolaan sampah.
Dari Coaster hingga Kacamata The Wave
Inovasi produk Impact Artifacts diawali dengan pembuatan Coaster, tatakan gelas berbasis plastik PP daur ulang. Produk ini menjadi bukti awal bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi barang konsumsi bernilai estetika tanpa mengorbankan kualitas material.
Pengembangan dilanjutkan dengan merilis produk yang lebih presisi, yaitu Kacamata The Wave. Kacamata ini memiliki bobot ringan sekitar 22 gram dan dirancang menggunakan material PP daur ulang dari Bali. Dengan daya tahan tinggi dan desain ergonomis, The Wave ditargetkan untuk menunjang aktivitas olahraga sekaligus menjadi bagian dari tren streetwear di Indonesia.
Founder Ancala Project, Rizyan Angga, menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen dalam rantai ekonomi sirkular. “Kami percaya bahwa sustainability tidak cukup hanya berbicara tentang produk ramah lingkungan. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah produk mampu memberikan dampak nyata bagi alam sekaligus bagi orang-orang yang selama ini bekerja di balik sistem pengelolaan sampah. Mulai dari perilaku konsumen, pemulung, pengepul, pabrik pembuatan pelet plastik, semuanya memiliki peran dalam menciptakan perubahan,” ungkap Rizyan.
Program 2nd Wave: Menutup Rantai Daur Ulang
Untuk memastikan produk tidak kembali menjadi sampah di akhir masa pakainya, Impact Artifacts meluncurkan program 2nd Wave pada Juni 2026. Program take-back ini dirancang untuk menerima kembali seluruh bingkai kacamata The Wave yang mengalami kerusakan, cacat produksi, atau sudah tidak digunakan oleh pemiliknya.
Bingkai yang terkumpul akan didaur ulang kembali menjadi bahan baku untuk lini produk generasi berikutnya. Dengan mekanisme ini, material plastik terus berputar di dalam siklus produksi (closed-loop system) tanpa ada yang terbuang ke lingkungan. Melalui spirit “Waste Has Another Future“, Impact Artifacts menegaskan tolok ukur keberlanjutan industri masa depan tidak hanya ditentukan dari jumlah barang yang diproduksi, tetapi dari seberapa lama material tersebut dapat dipertahankan di dalam roda ekonomi secara produktif.
Ikuti DailyFX.ID
