DailyFX.ID — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Menurutnya, industri ini masih memiliki ruang signifikan untuk ekspansi seiring dengan utilisasi pabrik yang masih berada di angka 75%.
Airlangga menjelaskan bahwa sektor TPT merupakan industri strategis yang berkontribusi hampir 1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Selain itu, sektor ini juga menjadi penyerap tenaga kerja yang besar, mempekerjakan sekitar 4 juta orang.
“Tekstil produk tekstil ini, khususnya di tekstil, itu terdiri dari hulu, antara, dan hilir. Sumbangan terhadap PDB itu sekitar mendekati 1%, 0,97%. Kemudian tenaga kerjanya di sektor tekstil produk tekstil itu sekitar 4 juta orang, dan ekspornya itu sekitar US$ 12 miliar,” ungkap Airlangga usai rapat kepada awak media di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Ia menambahkan, pertumbuhan industri TPT secara umum berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu mencapai 5,6%. Sementara itu, industri barang kulit dan alas kaki menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi lagi, yakni sebesar 8,25%.
“Dan dalam arahan tadi terhadap Pak Presiden, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi yaitu 5,6%, dan untuk industri barang kulit dan alas kaki tumbuhnya 8,25%,” ujarnya.
Kondisi utilisasi pabrik tekstil yang masih di kisaran 75% menjadi indikator penting adanya peluang ekspansi lebih lanjut bagi industri ini.
Namun, Airlangga juga menyoroti adanya persoalan yang dihadapi industri TPT, salah satunya adalah harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir. Pemerintah juga mencatat adanya tanggapan dari industri garmen terkait persoalan bea masuk antidumping.
“Kemudian khusus persoalan yang dihadapi oleh tekstil produk tekstil, itu salah satunya adalah tentunya harmonisasi tarif dari hulu ke hilir. Karena di hulu kemarin ada beberapa tanggapan dari industri garmen terkait dengan bea masuk antidumping,” tuturnya.
Lebih lanjut, Airlangga membedakan kondisi perdagangan antara sektor bahan baku tekstil dan industri pakaian jadi. Berdasarkan neraca perdagangan tahun lalu, sektor tekstil dari sisi bahan baku masih mencatat impor lebih tinggi dibandingkan ekspor. Impor bahan baku mencapai US$ 8,4 miliar, sementara ekspornya hanya US$ 3,1 miliar.
“Jadi ada dua, dari segi industri hulu sampai tengah kita net importer, tetapi kalau dari segi garmen kita net exporter,” jelasnya.
Sebaliknya, industri pakaian jadi menunjukkan performa ekspor yang lebih kuat dengan nilai sekitar US$ 8,7 miliar, sementara impornya jauh lebih rendah, yaitu di kisaran US$ 690 juta.
Rapat terbatas tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan turut dihadiri oleh sejumlah menteri dan kepala lembaga, termasuk Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Kepala BRIN Arif Satria.
Ikuti DailyFX.ID
