— Tren kendaraan hybrid semakin meningkat di pasar otomotif nasional dengan pertumbuhan mencapai 45% pada semester I-2026. Peningkatan ini menunjukkan penerimaan pasar yang semakin kuat, sehingga belum ada urgensi untuk memberikan insentif khusus bagi kendaraan hybrid.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, lonjakan permintaan tersebut menjadi indikator bahwa kendaraan hybrid sudah memiliki daya tarik tersendiri di tengah perubahan preferensi konsumen. Teknologi hybrid dinilai mampu memberikan efisiensi bahan bakar sekaligus menawarkan fleksibilitas karena masih dapat menggunakan mesin pembakaran internal.

“Jadi memang bagi masyarakat, hybrid itu adalah solusi antara EV dan ICE. Jadi sudah istimewa,” ujar Airlangga di GIIAS 2026, ICE BSD, Tangerang, dikutip Minggu (9/8/2026).

Airlangga menambahkan, salah satu tujuan pemberian insentif adalah untuk mendorong produksi nasional, investasi, serta meningkatkan daya beli masyarakat. Menurutnya, tujuan tersebut sudah tercapai pada industri mobil hybrid. “Karena sudah jalan, insentifnya sudah full. Kan insentif diberikan untuk produksi nasional, dan ini produksinya sudah produksi nasional, bahkan diekspor,” jelasnya.

Pemerintah terus mendorong masuknya investasi manufaktur global ke Indonesia melalui penyediaan kawasan industri dan berbagai fasilitas insentif. Airlangga menegaskan, strategi menarik relokasi pabrik dari luar negeri tetap menjadi bagian penting untuk memperkuat basis industri nasional.

Menurutnya, industri manufaktur Indonesia saat ini telah berkembang dengan keberadaan berbagai fasilitas produksi. Namun, masih terdapat sejumlah perusahaan yang memiliki basis produksi di negara lain sehingga pemerintah terus membuka peluang agar investasi tersebut masuk ke Indonesia. “Kita selalu menarik, makanya kita membuat berbagai kawasan ekonomi khusus untuk membangun pabrik di Indonesia,” tutur Airlangga.

Upaya menarik investasi manufaktur tidak hanya dilakukan melalui pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK), tetapi juga dengan menyediakan berbagai skema insentif bagi investor. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah dukungan fiskal untuk meningkatkan daya tarik investasi, termasuk insentif perpajakan. “Kita sudah memberikan insentif, sudah banyak strukturnya, ada mengenai tax incentive dan yang lain,” katanya.

Langkah menarik investasi manufaktur menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat struktur industri nasional. Masuknya pabrik baru diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat rantai pasok industri.

Selain menarik investasi baru, pemerintah juga terus mendorong transformasi industri agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi basis produksi regional. Sektor manufaktur selama ini menjadi salah satu kontributor utama perekonomian nasional.

Penjualan Mobil Hybrid Cukup Positif

Vice Chairman Market Development Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengatakan penjualan mobil hybrid cukup positif dan akan lebih bagus lagi bila ada stimulus. Harga mobil hybrid akan semakin terjangkau dan menjangkau konsumen yang lebih luas. “Makin terjangkau kan? Kan gitu. Belum tahu (skemanya). Makanya, kita serahkan 100% semuanya kepada pemerintah saja,” katanya.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, menyampaikan industri otomotif nasional membutuhkan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan investasi, memperkuat produksi dalam negeri, serta meningkatkan daya saing di pasar global. “Kalau kita bicara bukan terhadap hybrid atau BEV atau apa, tapi lebih ke arah industri. Bagaimana industri yang sudah ada ini bisa terus berkembang,” ujarnya.

Nandi menerangkan, negara-negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina masih memberikan berbagai bentuk dukungan meski industri otomotif mereka sudah berkembang lebih lama dibandingkan Indonesia. Thailand, misalnya, yang memiliki sejarah industri otomotif hampir 70 tahun, tetap memberikan insentif untuk menjaga daya saing industrinya. “Kalau kita lihat Thailand, industrinya lebih tua daripada kita. Kalau kita 55 tahun, Thailand sudah hampir 70 tahun. Itu pun mereka masih mendapatkan insentif,” kata Nandi.

Nandi mencontohkan, Filipina juga memberikan perlindungan terhadap kendaraan yang diproduksi secara lokal melalui kebijakan safeguard. Dukungan tersebut diberikan untuk berbagai jenis kendaraan yang diproduksi di dalam negeri, baik kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE), BEV, maupun model lainnya.

Menurutnya, kebijakan serupa penting untuk memastikan investasi yang telah masuk ke Indonesia dapat terus berkembang. Industri otomotif saat ini memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian, termasuk menyerap tenaga kerja. “Yang sudah diinvestasikan ini bagaimana bisa continue, karena itu sudah membawa sekitar 750 ribu karyawan. Bagaimana itu bisa terus berkembang,” ujar Nandi.

Ia mengatakan, kendaraan hybrid memiliki peluang yang semakin besar di pasar global. Hal itu terlihat dari peningkatan kontribusi ekspor kendaraan hybrid yang saat ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. “Di negara-negara tujuan ekspor kita yang sekitar 100 negara itu masih fokus kepada ICE dan hybrid. Hybrid naik sekarang sampai sekitar 40% dibanding tahun lalu,” ujar Nandi.

Karena itu, menurut dia, pembahasan mengenai insentif sebaiknya tidak hanya dikaitkan dengan jenis teknologi kendaraan tertentu, tetapi harus melihat kepentingan industri secara keseluruhan. “Jadi bukan masalah modelnya, tapi lebih bicara industri. Tapi kalau ada untuk produknya, untuk modelnya, ya lebih baik lagi,” papar Nandi.

Penjualan Hybrid Melonjak

Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, mengatakan kendaraan elektrifikasi Toyota mencatatkan pertumbuhan positif pada semester pertama 2026 dengan kenaikan penjualan sekitar 65% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Growth 65% ini tentunya kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Indonesia. Pertumbuhan ini memperlihatkan antusiasme customer Indonesia terhadap elektrifikasi Toyota,” ujarnya.

Bansar menjelaskan, bahwa kontribusi terbesar pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh model hybrid yang saat ini menjadi tulang punggung penjualan kendaraan elektrifikasi Toyota di Indonesia. Model seperti Innova Zenix Hybrid EV dan Yaris Cross Hybrid EV disebut menjadi kontributor utama di segmen keluarga dan urban SUV, sementara lini elektrifikasi lain mulai memperluas basis konsumen di kota-kota besar.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai menerima teknologi elektrifikasi karena manfaat yang ditawarkan, mulai dari efisiensi bahan bakar, kenyamanan berkendara, hingga biaya operasional yang lebih rendah. “Selain itu, konsumen juga mulai mempertimbangkan nilai jangka panjang seperti resale value dan kemudahan perawatan yang masih dianggap lebih stabil pada teknologi hybrid,” terang dia.

Bansar juga menambahkan teknologi hybrid masih menjadi pilihan yang relevan karena menawarkan efisiensi kendaraan tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Saat ini Toyota memiliki sejumlah model hybrid seperti Toyota Veloz Hybrid EV, Yaris Cross Hybrid EV, serta Innova Zenix Hybrid EV. Selain itu, Toyota juga memperluas lini kendaraan listrik berbasis baterai melalui sejumlah model seperti bZ4X dan Urban Cruiser BEV.