— Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC), produsen pesawat milik negara Tiongkok, untuk mengerahkan armadanya dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda berbagai wilayah di Indonesia.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah menjajaki potensi bantuan pesawat model C909 buatan COMAC untuk penanganan darurat bencana asap.

“Kami melakukan penjajakan agar C909 dari COMAC dapat membantu memadamkan kebakaran hutan yang sedang dialami di beberapa wilayah di Indonesia saat ini,” ujar Lukman di Beijing, Rabu (23/9/2026), saat menghadiri Global Sustainable Transport Forum (GSTF) 2026 dan The 12th APEC Transportation Ministerial Meeting.

Sebelumnya, pertemuan teknis dengan jajaran pimpinan COMAC telah dilaksanakan di Shanghai. Skema yang dirancang melibatkan pesawat COMAC C909 yang akan dibekali teknologi pemadaman terbaru. Teknologi ini diklaim mampu menembakkan bahan pemadam ramah lingkungan secara presisi langsung ke titik-titik api utama.

Seluruh biaya operasional pemadaman menggunakan pesawat ini direncanakan akan ditanggung oleh COMAC melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).

Namun demikian, kepastian jadwal pengerahan armada ini masih bergantung pada penyelesaian prosedur logistik dan penerbitan izin terbang resmi di wilayah Indonesia.

Pesawat COMAC C909 merupakan armada berkapasitas 78 hingga 97 kursi yang telah beroperasi sejak tahun 2016. Pesawat ini dikenal memiliki daya adaptasi kuat untuk operasional di kawasan regional Asia Tenggara dan telah digunakan oleh maskapai seperti TransNusa di Indonesia dan VietJet di Vietnam.

Perkuat Armada Nasional dan Bantuan Internasional

Dukungan dari COMAC ini diharapkan dapat melengkapi pengerahan armada udara yang sudah beroperasi di lapangan. Berdasarkan data Kemenhub, pemerintah Indonesia telah menyiagakan 53 unit pesawat di enam provinsi prioritas. Rinciannya meliputi 34 unit pesawat pengebom air (water bombing) dan 19 unit pesawat untuk patroli udara serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Selain armada domestik, terdapat pula 41 unit pesawat bantuan dari delapan negara sahabat yang turut diterjunkan di Indonesia. Negara-negara tersebut meliputi Amerika Serikat (16 unit), Australia (7 unit), Rusia (7 unit), Ukraina (4 unit), Vietnam (3 unit), Kanada (2 unit), Laos (1 unit), dan Selandia Baru (1 unit).

Pemerintah Jepang juga turut berkontribusi dalam penanganan krisis ini dengan mengirimkan tiga unit helikopter CH-47 Chinook beserta 180 personel. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung penanggulangan karhutla melalui udara, khususnya di wilayah Kalimantan Barat.

Eskalasi karhutla di Indonesia sepanjang tahun ini tercatat cukup masif. Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan luas area yang terbakar pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare (Ha). Kebakaran meluas di provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung, serta merambah kawasan hutan lindung, taman nasional, dan cagar alam.

Bencana ini berdampak signifikan terhadap kesehatan. Lebih dari 12,5 juta jiwa di tujuh provinsi terdampak langsung oleh paparan kabut asap, dengan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) meningkat hingga 113.336 kasus per 9 September 2026.

Asap kebakaran bahkan telah menyebar hingga ke kawasan regional, menyebabkan kota-kota tetangga seperti Kuching, Kuala Lumpur, dan Singapura berulang kali masuk dalam daftar kota dengan tingkat pencemaran udara tertinggi di dunia.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan ancaman krisis lingkungan dan kesehatan tahunan di Indonesia. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi kondisi cuaca kering ekstrem dan praktik pembukaan lahan secara ilegal. Karakteristik lahan gambut yang tebal di wilayah Sumatera dan Kalimantan membuat titik api sulit dipadamkan jika hanya mengandalkan jalur darat, karena api kerap membara di bawah permukaan tanah dan memicu asap pekat berkepanjangan.

Dampak karhutla tidak hanya merusak keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan lindung, tetapi juga memicu krisis kesehatan masyarakat akibat lonjakan kasus ISPA, melumpuhkan moda transportasi udara, serta menimbulkan isu pencemaran asap lintas batas (cross-border haze) di kawasan Asia Tenggara.

Oleh karena itu, efektivitas mitigasi karhutla sangat bergantung pada respons cepat operasi udara, baik melalui water bombing skala besar, modifikasi cuaca, maupun pemanfaatan teknologi penerbangan terkini melalui kolaborasi antarnetwork internasional.