DailyFX.ID — JAKARTA – Indonesia kembali membuka keran ekspor beras ke negara tetangga, menandai pencapaian swasembada pangan nasional. Momen penting ini diwujudkan dengan pengiriman perdana sebanyak 1.000 ton beras ke Malaysia, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa ekspor beras ke Malaysia merupakan kabar gembira sekaligus bukti nyata bahwa produksi pangan nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga memiliki potensi untuk memenuhi permintaan pasar internasional.
“Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia,” ujar Amran dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2026).
Menurut Amran, penguatan perdagangan internasional ini tidak lepas dari peningkatan produksi nasional yang berhasil mencukupi kebutuhan domestik dan menghasilkan surplus untuk diekspor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor sektor pertanian untuk produk segar dan olahan sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp 756,69 triliun. Angka ini meningkat Rp 166,71 triliun atau 28,26% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai impor sektor pertanian pada 2025 tercatat turun menjadi sekitar Rp 389,95 triliun, berkurang Rp 41,68 triliun atau 9,66% dibandingkan tahun 2024. Kinerja ini menunjukkan tren positif peningkatan ekspor sekaligus penurunan impor di sektor pertanian.
Perbandingan nilai ekspor sektor pertanian menunjukkan peningkatan signifikan dari Rp 64,61 triliun pada tahun 2003 menjadi Rp 756,69 triliun pada 2025. Setelah sempat mengalami penurunan menjadi Rp 552,39 triliun pada 2023, nilai ekspor pertanian kembali pulih dan meningkat menjadi Rp 589,98 triliun pada 2024, sebelum melonjak drastis menjadi Rp 756,69 triliun pada 2025.
Impor Pertanian RI Mulai Catat Penurunan
Di sisi lain, impor sektor pertanian yang sempat mencapai puncaknya di Rp 431,63 triliun pada 2024, kini tercatat turun menjadi Rp 389,95 triliun pada 2025.
Tren positif ini berlanjut pada 2026. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS, nilai ekspor komoditas pertanian, kehutanan, dan perikanan sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$ 2,59 miliar, menunjukkan peningkatan 1,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus pada Juni 2026, nilai ekspor sektor ini mencapai US$ 485,8 juta.
Amran menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan produksi, modernisasi sistem budidaya, penguatan sektor hilirisasi, serta pembukaan akses pasar ekspor.
“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” tegas Amran.
Pemerintah juga mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, rempah-rempah, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah lainnya untuk menggenjot perolehan devisa negara.
Penguatan ekspor ini sejalan dengan peningkatan produksi pertanian yang tercatat mengalami kenaikan pendapatan total mencapai Rp 437,25 triliun. Angka ini berasal dari peningkatan produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi dari sektor ekspor.
RI Hemat Impor Pertanian Hingga Rp 34 Triliun
Dari aspek efisiensi devisa, Indonesia dilaporkan berhasil menghemat anggaran impor hingga Rp 34 triliun. Produksi beras mengalami peningkatan sebesar 4,07 juta ton atau 13,29%, sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) kini mencapai sekitar 5,2 juta ton.
Amran menegaskan bahwa pemerintah akan terus memprioritaskan penguatan hilirisasi sebagai strategi utama untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
“Kita nomor satu dunia. Total sekitar 80% produksi CPO dunia dikuasai Indonesia dan Malaysia. Karena itu, hilirisasi CPO menjadi senjata strategis Indonesia,” pungkas Amran.
Ikuti DailyFX.ID
