— Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berupaya mempercepat peta jalan (roadmap) pengembangan jaringan generasi ke-5 (5G). Langkah ini diambil untuk menopang kebutuhan ekonomi digital yang terus berkembang pesat. Target ambisius ditetapkan, yaitu cakupan layanan 5G diharapkan mendekati cakupan nasional pada tahun 2029.

Percepatan ini sejalan dengan perkembangan pesat teknologi artificial intelligence (AI) yang telah mengubah arah pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan penetrasi jaringan internet di Indonesia telah mencapai 81% dari total populasi pada tahun 2026.

Sekretaris Jenderal Kemkomdigi, Ismail, menekankan bahwa konektivitas kini bukan lagi sekadar sarana komunikasi. Ia memandang konektivitas sebagai fondasi utama bagi produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional di era AI.

“Roadmap 5G harus kita percepat. Kita berharap pada 2029 cakupan 5G di Indonesia terus berkembang sampai ke pelosok-pelosok tanah air. Ini penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI, sehingga infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut,” kata Ismail dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI-CX) 2026 di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Ismail menambahkan, Indonesia telah memiliki fondasi infrastruktur digital yang kuat. Jaringan serat optik nasional telah membentang lebih dari satu juta kilometer, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau. Pembangunan infrastruktur selanjutnya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan agar mampu mendukung layanan digital generasi baru.

“Tantangan kita bukan lagi sekadar memperluas jaringan dasar. Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI,” ujar Ismail.

Perkembangan AI turut mengubah cara industri telekomunikasi membangun jaringannya. Jika sebelumnya operator fokus pada penyediaan kapasitas bandwidth, kini jaringan harus mampu menopang layanan AI cloud, komputasi berkinerja tinggi, Internet of Things (IoT), serta berbagai aplikasi digital yang dapat meningkatkan produktivitas masyarakat dan dunia usaha.

“Dulu operator menjual bandwidth. Sekarang infrastruktur harus mampu mendukung layanan AI cloud dan berbagai aplikasi produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri,” ungkap Ismail.

Upaya Percepatan Implementasi 5G

Untuk mempercepat implementasi roadmap 5G, pemerintah terus menghadirkan kebijakan yang memberikan kepastian investasi bagi operator telekomunikasi. Salah satunya melalui penyediaan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dengan skema biaya yang lebih terjangkau.

“Kami baru saja merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Pemerintah harus hadir memberikan ruang agar investasi infrastruktur digital dapat tumbuh lebih cepat,” jelas Ismail.

Selain penyediaan spektrum, pemerintah juga menyiapkan regulasi yang memberikan kepastian bagi investasi jangka panjang. Kepastian regulasi ini menjadi faktor penting agar industri telekomunikasi dapat terus memperluas jaringan sekaligus mengembangkan berbagai layanan digital baru.

Pemerintah juga mendorong operator telekomunikasi untuk melakukan transformasi model bisnis. Infrastruktur digital diharapkan tidak hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga menjadi penggerak solusi digital di berbagai sektor strategis, mulai dari pertanian, pertambangan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga sektor keuangan.

“Kita ingin operator tidak hanya menyediakan jaringan, tetapi juga menghadirkan solusi yang menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi,” tutur Ismail.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga mengembangkan pendekatan konektivitas yang memadukan jaringan terrestrial dan satelit melalui non terrestrial network. Integrasi ini diperlukan agar layanan digital berkecepatan tinggi dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia secara lebih efisien dan merata.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ekosistem Digital

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menuturkan bahwa konektivitas digital merupakan elemen fundamental dalam mewujudkan transformasi digital nasional. Transformasi digital membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat serta kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.

“Indonesia harus loncat segera ke 5G, Indonesia harus loncat segera ke kripto kuantum, kemudian Indonesia harus loncat juga ke satelit yang non-terrestrial network, jadi bukan hanya orbital tiga stasiun tetapi juga MTN istilahnya. Kita juga harus loncat kepersediaan data center yang kapasitasnya memenuhi kebutuhan. Karena kebutuhan penyimpanan data dan pengurusan data di Indonesia itu kan bukan hanya kebutuhan masyarakat aja, tetapi pemerintah pun juga butuh,” ujar Sarwoto.

Mastel juga menilai platform digital global atau Over the Top (OTT), seperti Google, Facebook, Instagram, dan WhatsApp, harus ikut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur digital di Indonesia. Langkah ini penting agar pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berjalan beriringan dengan keberlanjutan investasi jaringan telekomunikasi.

Selama ini, manfaat ekonomi dari pesatnya perkembangan platform digital global terus meningkat, namun kebutuhan investasi untuk membangun dan memperluas infrastruktur digital masih lebih banyak ditanggung oleh industri telekomunikasi.

“Selama ini kita lebih banyak melihat manfaat kehadiran platform digital global, mulai dari pertumbuhan ekonomi digital, efisiensi, hingga berbagai inovasi layanan. Namun, pada saat yang sama, kebutuhan investasi infrastruktur digital terus meningkat dan sebagian besar masih ditanggung oleh industri telekomunikasi,” ujar Sarwoto.

Sarwoto menekankan bahwa pembangunan ekosistem digital tidak lagi bisa dibebankan ke satu sektor. Seluruh pelaku rantai ekonomi digital, termasuk platform digital global yang memanfaatkan jaringan telekomunikasi Indonesia, perlu berperan menjaga keberlanjutan pembangunan infrastruktur digital.