DailyFX.ID — Indonesia perlu membawa agenda hilirisasi mineral ke tingkat yang lebih tinggi, melampaui sekadar pemurnian dan produksi bahan baku. Penguasaan teknologi, rekayasa material, hingga manufaktur produk bernilai tambah menjadi kunci agar kekayaan mineral nasional dapat mendorong kemandirian industri dan teknologi.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Is Prima Nanda, menyatakan bahwa tantangan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan sumber daya mineral, melainkan kemampuan membangun rantai nilai yang terintegrasi. Rantai nilai ini mencakup pemurnian, rekayasa material, hingga manufaktur.
“Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya. Tantangannya adalah membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh, bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi,” kata Prima dalam keterangan pers, Selasa (11/8/2026).
Ia menambahkan, material merupakan fondasi bagi hampir seluruh teknologi. Mineral seperti nikel, tembaga, bauksit, timah, hingga mineral kritis lainnya akan memberikan nilai tambah yang lebih besar apabila dapat direkayasa menjadi material dengan karakteristik dan performa tertentu.
Material maju ini dapat menjadi landasan bagi berbagai teknologi strategis, termasuk baterai, kendaraan listrik, elektronik, energi bersih, industri pertahanan, hingga dirgantara.
“Kalau kita hanya menguasai sumber dayanya, kita tetap bergantung pada pihak lain untuk teknologi dan produk akhirnya. Sebaliknya, jika kita menguasai material sekaligus teknologinya, kita memiliki peluang menjadi technology maker, bukan hanya resource provider,” ujarnya.
Arah pengembangan ini sejalan dengan dorongan terhadap industri material maju yang digalakkan oleh Danantara Indonesia. CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, sebelumnya menekankan bahwa Indonesia perlu meningkatkan posisinya dalam rantai nilai material maju dengan memanfaatkan kekayaan mineral sebagai fondasi pengembangan teknologi masa depan.
Kuasai Teknologi Nasional
Menurut Rosan, investasi jangka panjang tidak hanya perlu diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga untuk memperoleh dan mengembangkan teknologi, memperkuat sumber daya manusia, serta membangun ekosistem industri nasional.
Danantara mendorong kolaborasi antara pemerintah, BUMN, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset melalui berbagai mekanisme seperti transfer teknologi, lisensi, riset bersama, hingga pengembangan bersama (co-development).
Chief Technology Officer BPI Danantara, Sigit P Santosa, menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekuatan di sisi hulu melalui mineral strategis seperti nikel, tembaga, timah, bauksit, logam tanah jarang, dan baja. Di sisi hilir, terdapat kebutuhan industri nasional dari sektor energi, transportasi, pertahanan, dirgantara, maritim, elektronik, dan manufaktur.
Namun, Sigit mengidentifikasi tantangan utama berada di bagian tengah rantai nilai atau yang disebut sebagai hollow middle. “Kita belum sepenuhnya menguasai kapabilitas untuk mengubah sumber daya tersebut menjadi advanced materials yang siap digunakan oleh industri. Indonesia sudah resource-rich, tetapi pekerjaan besar kita adalah menjadi capability-rich,” kata Sigit.
Ia melanjutkan, transformasi ini membutuhkan pembangunan penguasaan teknologi (technology mastery) secara nasional agar kekayaan sumber daya mineral dapat diterjemahkan menjadi kekuatan industri dan teknologi di dalam negeri.
Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi pengingat pentingnya investasi jangka panjang, penguatan kapabilitas teknologi, serta pembangunan industri nasional yang lebih mandiri.
Ikuti DailyFX.ID
