DailyFX.ID — Pemerintah Indonesia berencana membangun pabrik produksi bahan bakar etanol dalam waktu dekat sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi. Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menyatakan, target ini sejalan dengan implementasi E-20 pada tahun 2029.
Pembangunan pabrik etanol ini akan melibatkan kolaborasi antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta. Negara akan berperan dalam menyiapkan lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan proyek ini. “Anggarannya mungkin 30% dari BUMN, 70% dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” ujar Amran di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Amran meyakini minat swasta untuk ekspansi pabrik etanol di dalam negeri akan tinggi. Pengalaman pemerintah dalam pengembangan pabrik gula konsumsi, di mana lahan dijamin dan diawasi negara, menjadi bukti daya tarik investasi ini. “Swasta pasti berbondong-bondong. Kami pengalaman dulu 10 pabrik gula kami bangun 2 tahun, 3 tahun kurang lebih 3 tahun. Jadi semua. Kenapa? Lahannya dikawal oleh negara. Jadi ini spesial,” jelasnya.
Penerapan bahan bakar etanol dan bioetanol ini diproyeksikan akan memberikan penghematan anggaran yang sangat signifikan. Pemerintah menargetkan penghematan devisa hingga Rp 500 triliun per tahun apabila Indonesia berhasil mencapai kemandirian di sektor energi. “Nilai kita bisa hemat kalau seluruhnya bisa selesai E50, E50 dengan B50 itu 30 miliar dollar AS. Artinya kurang lebih Rp 500 triliun per tahun. Per tahun kita hemat devisa kita,” ungkap Amran.
Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah akan fokus pada tiga komoditas utama sebagai bahan dasar pengembangan E-20, yaitu tebu, singkong, dan jagung. “Hari ini kami rapat hubungannya etanol sumbernya adalah singkong, tebu, dan jagung. Itu atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia 3 hari berturut-turut ratas maupun ditelepon beliau,” kata Amran.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan menyiapkan lahan baru seluas 1 hingga 2 juta hektare di berbagai wilayah Indonesia. “Sekarang etanol kita kejar. Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektar dengan tiga komoditas strategis. Insyaallah kita akan bangun pabriknya kita gerakan masif seluruh Indonesia,” ucap Amran.
Implementasi kemandirian energi melalui etanol ini akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari E-5, E-10, hingga E-50. Pemerintah menargetkan Indonesia sudah memiliki sumber energi E-20 pada tahun 2029. “Kalau kita bergerak dari sekarang itu bisa E40 2030, 2031,” kata dia.
Mengenai pemanfaatan lahan, Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melakukan pembabatan hutan secara langsung. Pemanfaatan lahan akan diprioritaskan pada area yang sudah digunakan untuk keperluan lain dan siap dikembalikan fungsinya, serta lahan yang telah dilepaskan negara. “Jadi gini, kita melihat lahan yang pertama kan ada lahan yang mau dihutankan kembali atau agroforestri untuk tanaman pangan, itu kan ada 20 juta (hektare). Ya kita pilih dari situ dulu. Jadi jangan langsung babat hutan, nggak, itu (langkah) terakhir,” jelasnya.
Pemerintah akan mengutamakan lahan yang sudah ada sebelum melakukan pelepasan hutan baru. “Yang kedua adalah seluruh yang sudah dilepaskan kita pilih. Ada 1,3 juta hektar. Kita pilih lagi. Kalau sudah cocok dengan tebu, oke itu aja kita pakai. Paling terakhir baru pelepasan hutan. Itu paling terakhir. Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” tutup Amran.
Ikuti DailyFX.ID
