— Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun hal itu belum cukup untuk mendorong kemajuan ekonomi. Negara ini dituntut untuk bertransformasi dari sekadar pengekspor komoditas mentah menjadi kekuatan industrialisasi yang terintegrasi penuh dari hulu ke hilir.

Selama bertahun-tahun, nilai ekonomi dari cadangan mineral raksasa Indonesia masih bergantung pada penjualan komoditas mentah. Ketergantungan ini membuat sektor pertambangan nasional rentan terhadap fluktuasi harga global. Oleh karena itu, sektor pertambangan tidak lagi hanya dituntut untuk meningkatkan volume produksi dan ekstraksi, melainkan harus bertransformasi menjadi platform untuk membangun daya saing industri dan penguatan rantai nilai yang terpadu.

Pengamat Pertambangan, Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Andi Erwin Syarif, menyatakan bahwa sektor pertambangan merupakan mesin penting pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, optimalisasinya tidak cukup hanya dengan peningkatan produksi, mineral extraction, dan hilirisasi. Sektor ini harus menjadi platform untuk menciptakan industrial competitiveness dan bergeser ke integrated value chain.

Contohnya, transformasi bauksit menjadi alumina lalu aluminium, atau nikel melalui HPAL/RKEF, tembaga, hingga ekosistem kendaraan listrik (EV). Selain itu, Rare Earth Elements (RRE) sebagai bagian dari critical/strategic mineral untuk industri elektronik dan pertahanan juga menjadi fokus.

“Paling penting dampaknya, bukan sekadar economic engine nasional, tetapi menjadi regional development platform, membantu daerah tumbuh berkembang secara berkualitas,” ujar Erwin.

Erwin juga menekankan pentingnya human capital transformation. Hilirisasi membutuhkan kompetensi yang andal, tidak hanya di bidang pertambangan, tetapi juga penguasaan teknologi metalurgi, advanced material, process engineering, AI automation, hingga aspek manajerial terkait ESG, risk management, dan commercial capability. Hal ini memerlukan nasional mining talent ecosystem melalui kerjasama dengan universitas, lembaga penelitian, perusahaan global, hingga technology leader.

“Jika mengkaji faktor geoeconomic-politics, kita butuh fast-track human capital development, tidak bisa pendekatan business as usual, di mana talent harus lebih cepat daripada perubahan industrinya,” paparnya.

Prinsipnya, menurut Erwin, siapa yang memiliki cadangan, seharusnya menguasai global value chain.

Hilirisasi untuk Kemandirian Industri dan Posisi Strategis

Dalam acara HUT ke-36 Perhapi, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyebut bahwa hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas tambang, tetapi juga menyangkut kemandirian industri dan posisi strategis Indonesia.

“Ketahanan energi ke depan tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, ketahanan energi juga ditentukan apakah kita menguasai bahan baku, teknologi rantai pasok, dan juga dari industri energi tersebut,” kata Tri.

Sektor pertambangan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan PDB berkisar 9%-12,5%. Hingga Agustus 2026, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) subsektor minerba telah mencapai Rp108,13 triliun dari target Rp133,9 triliun, menunjukkan peran pentingnya dalam mendukung perekonomian nasional.

Tri menilai hilirisasi menjadi mesin transformasi sektor mineral karena mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Pengembangan industri pengolahan diarahkan untuk membangun berbagai industri strategis, mulai baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, logam mulia, hingga produk turunan mineral lainnya.

Kebutuhan energi yang terus meningkat juga akan mendorong permintaan terhadap sejumlah mineral. Tembaga, misalnya, menjadi bahan penting dalam jaringan dan distribusi listrik. Kebutuhan tembaga diprediksi akan terus meningkat seiring konsumsi listrik dan pembangunan infrastruktur energi.

Pemerintah juga mendorong perbaikan tata kelola sejumlah komoditas mineral, termasuk timah, untuk meningkatkan nilai ekonominya.

Peran MIND ID dalam Mengelola Sumber Daya Alam

Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) mengemban mandat strategis untuk memastikan kekayaan alam dikelola bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sesuai Pasal 33 UUD 1945.

MIND ID berperan sebagai perpanjangan tangan negara dalam pengelolaan sumber daya alam mineral untuk mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus memperkuat tata kelola sektor pertambangan nasional. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyampaikan bahwa potensi ekonomi sektor pertambangan Indonesia sangat besar dan dapat terus diperkuat kontribusinya bagi penerimaan negara.

Sebagai perusahaan, MIND ID terus memperkuat perannya melalui penguatan produksi, hilirisasi, perbaikan tata kelola, dan pembangunan ekosistem industri yang terintegrasi. “Optimalisasi penerimaan negara akan semakin optimal melalui pengelolaan sumber daya alam yang dikelola langsung melalui entitas milik Negara,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Keberlanjutan perseroan tahun 2025, MIND ID mencatat Generated Economic Value sebesar Rp185,16 triliun dan Distributed Economic Value sebesar Rp180,30 triliun. Total pembayaran kewajiban pemerintah mencapai Rp32,82 triliun, yang terdiri dari dividen, pajak, dan kewajiban lainnya.

Maroef menekankan bahwa MIND ID terus memperbesar kapasitas produksi sekaligus mempercepat pengembangan proyek-proyek hilirisasi yang menjadi fondasi penciptaan nilai tambah nasional. Grup MIND ID mengembangkan berbagai proyek strategis, mulai dari ekosistem bauksit-alumina-aluminium terintegrasi, pemurnian emas, hingga ekosistem baterai kendaraan listrik.

Selain berkontribusi melalui penerimaan negara, Grup MIND ID juga menjaga ketahanan energi nasional. Bukit Asam, sebagai anggota Grup MIND ID, secara konsisten memenuhi bahkan melampaui kewajiban Domestic Market Obligation (DMO), memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik nasional terjaga.

Maroef menegaskan bahwa MIND ID memiliki kesiapan dari sisi sumber daya manusia, teknologi, pengalaman operasional, serta jaringan industri untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam nasional. Penguatan peran BUMN di sektor mineral tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga untuk memastikan lebih banyak nilai tambah, lapangan kerja, penguasaan teknologi, dan penerimaan negara tercipta di dalam negeri.

“Kami siap menjalankan mandat yang lebih besar dalam pengelolaan sumber daya alam nasional. Dengan sinergi antara pemerintah, DPR, dan MIND ID, kami meyakini kekayaan mineral Indonesia dapat menjadi fondasi yang semakin kuat bagi memperkuat kedaulatan ekonomi dan kemakmuran rakyat,” jelas Maroef.

Komisi XII DPR RI menyatakan dukungan terhadap upaya MIND ID dalam memperkuat tata kelola pertambangan nasional, mempercepat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, serta mengoptimalkan manfaat sumber daya alam bagi negara.

Memasuki Babak Baru Industrialisasi Pertambangan

Division Head of Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan bahwa industri pertambangan nasional perlu memasuki babak baru yang mampu menghadirkan nilai tambah berlipat ganda untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Pemerintah menugaskan MIND ID untuk memastikan kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses ekstraksi. Sumber daya alam tersebut harus menjadi fondasi industrialisasi yang mampu memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan kedaulatan ekonomi Indonesia,” kata Selly.

MIND ID hadir sebagai bagian dari upaya membuka babak baru tersebut, menjawab stagnasi pengembangan industri pertambangan. Indonesia perlu memperkuat pengolahan hingga menghasilkan produk dan bahan baku yang selaras dengan kebutuhan industri dalam negeri. Selain itu, kemitraan strategis dengan pelaku industri dan investor internasional perlu diperkuat untuk mempercepat penguasaan teknologi dan memperluas akses pasar.

Penciptaan motor pertumbuhan ekonomi baru harus dipercepat melalui integrasi berbagai rantai nilai mineral strategis, menjadikan sektor pertambangan sebagai ekosistem yang saling terhubung dan memperkuat.

Erwin menilai MIND ID memiliki keunggulan unik berupa mineral portfolio integration, yang memungkinkan pembangunan multi-mineral industrial ecosystem, bukan hanya single commodity strategy. “Terdapat ruang besar untuk memperkuat sinergi dan integrasi antar-entitas MIND ID. Bisa disebut integrated mining ecosystem, yang harus lebih efisien, kompetitif, dan menciptakan greater value untuk bangsa ini,” katanya.

Dengan total konsolidasi aset sekitar Rp 300 triliun, MIND ID memiliki strategic mineral portfolio. Tantangannya adalah mengoptimalkan portofolio tersebut secara end-to-end, dari resource development, processing, downstream, technology, energy, kapasitas infrastruktur, hingga penguasaan pasar.

“Poinnya, setiap ton resources dapat menghasilkan maximum economic dan sustainable value bagi negara,” tegasnya.

Saat ini, MIND ID perlu memperkuat technology leadership, penguasaan global value chain, global market access, dan memiliki world-class human capital. Hal ini memungkinkan MIND ID menjadi a leading global mineral industry player, membangun jalannya sendiri sesuai mandat negara.

Erwin menyarankan MIND ID tidak harus mengikuti model global mining companies lain, tetapi lebih mengoptimalkan keunggulan strategic mineral portfolio, resource mineral base, downstreaming, human capital, industrial ecosystem, dan geoeconomic position dalam satu platform.

Anggota Komisi XII DPR RI, Dewi Yustisiana, mendorong MIND ID dan seluruh perusahaan anggota holding untuk terus meningkatkan kinerja dan berkembang menjadi perusahaan pertambangan unggulan. Pengelolaan komoditas strategis nasional harus memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi negara dan masyarakat.

“Kita berharap setiap perusahaan mampu menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing, memiliki daya saing global, dan menjadi penggerak utama hilirisasi sumber daya alam Indonesia,” kata Dewi.

Peningkatan kinerja tidak hanya dilihat dari pendapatan dan laba, tetapi juga produktivitas, efisiensi operasional, penerimaan negara, keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, tata kelola, serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah. Setiap perusahaan harus memiliki target yang jelas dan terukur, disertai penguatan sinergi Grup MIND ID dari eksplorasi hingga pemasaran.

Dewi menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci perbaikan kinerja perusahaan dan keberhasilan hilirisasi minerba. Transformasi industri pertambangan membutuhkan tenaga kerja yang menguasai teknologi pengolahan mineral, digitalisasi, otomatisasi, keselamatan pertambangan, pengelolaan lingkungan, dan manajemen industri modern.

“Hilirisasi bukan hanya membangun smelter atau fasilitas pengolahan, tetapi juga harus disertai penguasaan teknologi dan peningkatan kemampuan tenaga kerja. Karena itu, MIND ID perlu memperkuat pendidikan dan pelatihan, sertifikasi kompetensi, regenerasi tenaga ahli, riset dan inovasi, kerja sama dengan perguruan tinggi, serta pengembangan talenta secara terintegrasi,” ujarnya.

“Dengan SDM yang kompeten, profesional, dan menguasai teknologi, perusahaan-perusahaan Grup MIND ID dapat meningkatkan kinerja, memperkuat hilirisasi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama industri mineral dunia,” pungkasnya.