— JAKARTA – Lahan yang mengalami degradasi, yang kerap dianggap sebagai beban lingkungan, ternyata masih menyimpan potensi besar untuk kembali menjadi lahan produktif. Namun, upaya pemulihan ini memerlukan investasi yang memadai, penerapan metode yang tepat, serta pengukuran hasil yang konsisten untuk memastikan manfaat ekonomi dan lingkungan dapat terukur secara akurat.

Salah satu inisiatif pengembangan dilakukan oleh PT Bumibaru Indonesia Jaya di Tangkiling, Kalimantan Tengah, sejak September 2023. Perusahaan melaporkan bahwa lahan tersebut sebelumnya memiliki kandungan pasir yang tinggi, sehingga menyulitkan penyerapan air dan kurang mendukung pertumbuhan tanaman.

Setelah melalui proses restorasi, Bumibaru, sebagai pengembang proyek lahan, mencatat tingkat kelangsungan hidup tanaman mencapai 94%. Lahan tersebut kini telah menghasilkan lebih dari 307 ribu kilogram (kg) komoditas seperti pisang, nanas, dan semangka.

Perusahaan juga mengklaim bahwa nilai ekonomi yang tercipta dari pengembangan lahan tersebut telah mencapai sekitar empat kali lipat dari biaya pengembangannya. Perhitungan ini merupakan evaluasi internal perusahaan dan tidak disertai rincian metodologi valuasi dalam keterangan yang disampaikan.

CEO Bumibaru, Ramavito Mountaino, menekankan bahwa lahan yang terdegradasi tidak serta-merta kehilangan potensi produktivitasnya. “Lahan yang terlihat mati bukan berarti lahan tersebut tidak dapat berproduksi. Yang dibutuhkan adalah pendekatan pengembangan yang tepat,” ujarnya.

Pendekatan ini, lanjut Ramavito, menunjukkan bahwa biaya restorasi tidak hanya dapat dipandang sebagai pengeluaran untuk memenuhi kewajiban lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi investasi strategis untuk mengembalikan produktivitas aset. Lahan produktif umumnya memiliki nilai pasar yang lebih tinggi karena kemampuan ekonominya sudah terbentuk, berbeda dengan lahan terdegradasi yang memiliki produktivitas dan nilai lebih rendah, sehingga memiliki ruang peningkatan nilai yang signifikan apabila berhasil dipulihkan.

“Meski demikian, potensi tersebut bergantung pada banyak faktor, seperti kondisi tanah, kebutuhan modal, pilihan komoditas, akses pasar, serta kemampuan menjaga produktivitas dalam jangka panjang,” jelas Ramavito.

Di lokasi Tangkiling, Bumibaru mencatat perubahan signifikan pada kondisi tanah setelah intervensi. Tingkat keasaman tanah atau pH dilaporkan meningkat dari 4,40 menjadi 6,01. Produksi komersial mulai terlihat sekitar delapan bulan setelah proses restorasi dimulai.

Ramavito menilai tantangan berikutnya bukan hanya pada pembuktian bahwa satu lokasi dapat dipulihkan, tetapi juga pada kemampuan untuk memastikan metode tersebut bisa diterapkan secara konsisten di wilayah lain. “Yang membuat kategori ini menarik bukan hanya keberhasilan satu lokasi, tetapi kemampuan untuk membangun metode yang dapat diukur dan diulang,” imbuhnya.

Bumibaru saat ini mengembangkan layanan restorasi dan reklamasi untuk lahan terdegradasi, lahan tidak produktif, maupun perkebunan yang telah berhenti berproduksi. Pendekatan ini juga dapat menjadi alternatif bagi perusahaan agribisnis yang ingin meningkatkan produksi tanpa harus membuka lahan baru, melainkan dengan mengoptimalkan lahan yang sudah ada. Dalam pengelolaan lokasi Tangkiling, perusahaan berkolaborasi dengan petani lokal untuk menjalankan kegiatan operasional.

Keberhasilan model restorasi tidak hanya perlu dinilai dari jumlah tanaman atau volume panen. Aspek lain seperti daya dukung tanah, kesinambungan produksi, biaya pemeliharaan, akses pasar, dampak terhadap masyarakat sekitar, serta perubahan nilai lahan juga merupakan faktor penting yang perlu diperhitungkan. Jika dapat direplikasi dengan hasil yang konsisten, pemulihan lahan terdegradasi berpotensi memberikan manfaat ganda, yaitu memperbaiki fungsi lingkungan sekaligus mengembalikan produktivitas ekonomi lahan.