DailyFX.ID — JAKARTA – Kasus Influenza A dilaporkan mengalami peningkatan signifikan di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Menanggapi situasi ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan terhadap infeksi virus ini pada anak-anak.
Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa subtipe Influenza A H3N2 subklad K, yang kerap disebut ‘Super Flu’, telah terdeteksi di 13 provinsi. Lonjakan pasien juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur, sejalan dengan peningkatan aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara berdasarkan data dari Respiratory Viruses Surveillance Bulletin WHO hingga minggu epidemiologi ke-35 tahun 2026.
Secara global, influenza diperkirakan menyebabkan sekitar 1 miliar infeksi setiap tahunnya, dengan angka kasus berat berkisar antara 3 hingga 5 juta, dan menyebabkan 290 ribu hingga 650 ribu kematian terkait pernapasan. Kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius meliputi anak di bawah usia 5 tahun, lansia, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.
Aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara secara umum terus meningkat. Di Indonesia, pemantauan sentinel menunjukkan fluktuasi positif sepanjang tahun dengan puncak pada akhir 2025 dan lonjakan kembali pada pertengahan 2026. IDAI melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi & Penyakit Tropis menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap infeksi influenza dan berisiko tinggi mengalami komplikasi serius.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus. Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama, sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga dan sekolah,” ujar Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K).
Komplikasi Berat pada Anak
Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menekankan pentingnya deteksi dini dan tata laksana yang tepat. “Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati,” papar dr Anggraini.
Diagnosis laboratoris, terutama dengan metode RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi, sangat penting untuk mengidentifikasi subtipe virus. “Terapi antivirus neuraminidase inhibitor, seperti oseltamivir, efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, yang tidak kalah penting adalah pencegahan melalui vaksinasi tahunan dan penerapan protokol kesehatan,” tegas Prof Anggraini.
Data dari IDAI menunjukkan bahwa sekitar 5% anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap, dan 80% di antaranya adalah anak di bawah usia 2 tahun, dengan separuhnya berusia kurang dari 6 bulan. Anak di bawah 5 tahun memiliki morbiditas tinggi, terutama mereka yang menghadiri tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologi dan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, atau berada di area padat penduduk.
“Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih. Etika batuk, cuci tangan rutin, rajin minum air putih untuk mengurangi dehidrasi, dan penggunaan masker tetap menjadi langkah pencegahan non-farmakologis yang sangat efektif,” tambah Prof Anggraini.
Pencegahan Melalui Vaksinasi dan Protokol Kesehatan
IDAI merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan untuk semua anak mulai usia 6 bulan. Vaksin tersedia dalam bentuk inaktif (trivalen atau kuadrivalen) dan hidup intranasal (untuk usia 2–49 tahun dengan kondisi sehat). Vaksin influenza dapat mengurangi risiko infeksi hingga 40–60 persen, serta mengurangi keparahan penyakit dan komplikasi.
“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift. Vaksin tahun ini dirancang untuk mencocokkan strain yang diprediksi akan bersirkulasi. Selain itu, vaksinasi pada anak juga melindungi anggota keluarga lain, terutama bayi di bawah 6 bulan yang belum bisa divaksinasi,” jelas Prof. Anggraini.
Bagi anak yang terinfeksi virus influenza, IDAI menyarankan istirahat cukup, hidrasi adekuat, dan pemberian obat penurun demam sesuai indikasi. Pada pasien berisiko tinggi atau dengan gejala berat, obat sesuai resep dokter dapat diberikan dengan dosis berdasarkan usia dan berat badan, idealnya dalam 48 jam pertama.
“Kami mengingatkan bahwa pemberian antivirus harus berdasarkan evaluasi dokter. Jangan memberikan obat tanpa resep, dan waspadai tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi yang tidak turun, penurunan kesadaran, atau dehidrasi. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat,” pesan dr. Hikari.
IDAI mengajak seluruh orangtua, guru, dan masyarakat untuk:
- Melakukan vaksinasi influenza tahunan untuk anak dan anggota keluarga lainnya.
- Menerapkan protokol kesehatan secara konsisten: cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, dan hindari kerumunan.
- Mengenali gejala influenza dan segera berkonsultasi ke dokter jika anak menunjukkan tanda bahaya.
- Tidak memaksa anak sekolah saat sakit; isolasi sampai minimal 24 jam bebas demam tanpa obat penurun panas.
- Menghindari dehidrasi akibat cuaca panas kering dengan banyak minum air putih.
- Memperkuat surveilans genomik dan akses RT-PCR untuk identifikasi subtipe, termasuk subklad K, guna mendukung manajemen kasus dan komposisi vaksin mendatang.
Ikuti DailyFX.ID
