— Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan anak usahanya, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Transaksi beli bersih asing pada saham BUMI mencapai Rp 70,2 miliar, menjadikannya saham dengan net buy asing terbanyak pada hari itu. Menyusul di belakangnya, saham BRMS mencatatkan net buy asing senilai Rp 45,1 miliar.

Secara keseluruhan, aktivitas investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (27/8/2026) menunjukkan tren jual bersih (net sell) dengan total mencapai Rp 262,1 miliar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell Rp 274,4 miliar, diikuti oleh saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang mencatat net sell Rp 87,3 miliar. Akibatnya, total net sell asing sepanjang tahun berjalan ini mencapai Rp 69,8 triliun, berdasarkan data BEI.

Di tengah tren net sell asing tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat tajam. IHSG naik 116 poin atau 1,8% ke level 6.521,7. Penguatan ini didukung oleh kenaikan 578 saham, sementara 103 saham turun dan 282 saham stagnan. Total nilai transaksi pada hari itu mencapai Rp 13,1 triliun.

Analis Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bumi Resources (BUMI) dengan target harga Rp 300. Rekomendasi ini didasarkan pada metode valuasi *sum of the parts* (SOTP) yang menghitung nilai perusahaan dari penjumlahan nilai setiap unit bisnisnya. Samuel Sekuritas memproyeksikan kinerja BUMI akan semakin kuat pada kuartal III-2026 dan sisa tahun berjalan.

Prospek positif BUMI ditopang oleh peningkatan produksi emas Wolfram, pemulihan laba PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), serta potensi penurunan biaya operasional seiring meredanya harga bahan bakar. Selain bisnis emas, prospek batu bara BUMI juga mendapat katalis dari potensi kenaikan harga akibat El Nino, sementara volume produksi dinilai relatif terlindungi.

Mengenai BRMS, Samuel Sekuritas menilai fase terburuk telah terlewati. Hal ini seiring dengan rampungnya perluasan area tambang dan kembalinya operasional tambang terbuka mulai kuartal III-2026. Oleh karena itu, Samuel Sekuritas kembali merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga Rp 900, juga menggunakan metode valuasi SOTP.

Meskipun demikian, Samuel Sekuritas mencatat adanya sejumlah risiko yang dapat memengaruhi prospek BRMS. Salah satunya adalah potensi penurunan harga emas di tengah kondisi suku bunga yang lebih tinggi. Ketidakpastian volume penjualan juga menjadi risiko, mengingat perjanjian *offtake* dengan Antam (ANTM) hanya mencakup 60% dari total volume penjualan.