— JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami aksi jual oleh investor asing senilai Rp 120,44 miliar pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Aksi ini berbanding terbalik dengan aktivitas pada Kamis (10/9/2026), di mana saham bank BUMN ini justru mencatat penjualan bersih investor asing sebesar Rp 218,86 miliar.

Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, saham BBRI melemah 1,51% ke level Rp 3.270. Sepanjang pekan yang sama, 7-11 September, saham Bank Rakyat Indonesia secara keseluruhan terkoreksi 3,54%. Namun, dalam periode tersebut, investor asing tercatat masih membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 147,55 miliar.

Angka net buy asing ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan pekan sebelumnya, yakni 31 Agustus-4 September. Pada periode tersebut, saham BBRI sempat diborong investor asing dengan catatan net buy mencapai Rp 1,43 triliun. Dengan menipisnya aksi beli asing ini, pekan mendatang, 14-18 September, akan menjadi penentu apakah investor asing akan melanjutkan tren positif atau justru beralih menjual saham BBRI.

Proyeksi Dividen BBRI

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diproyeksikan akan menormalisasi rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026. Angka ini merupakan penyesuaian dari rasio 92% yang dibagikan pada tahun buku 2025.

Analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya menyatakan, “Dalam jangka panjang, rasio pembayaran dividen BRI diperkirakan berada pada kisaran 50%-60%.”

Senada dengan itu, Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menyoroti perubahan prioritas penggunaan laba BBRI. Menurutnya, emiten berkode saham BBRI ini mulai menggeser fokus dari pembagian dividen yang tinggi menjadi penguatan modal untuk mendukung pertumbuhan bisnis di masa depan.

Jason menjelaskan, rasio pembayaran dividen BBRI diindikasikan akan turun secara bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025. Perubahan strategi ini sejalan dengan rencana BBRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Langkah ini berpotensi memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menahan laba dan mendanai ekspansi dari sumber internal.

“Bagi investor yang mengandalkan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan tersebut dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek. Namun, strategi itu ditujukan untuk memberikan kapasitas modal yang lebih besar bagi ekspansi bisnis,” ujar Jason.

Sementara itu, Victoria menilai prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. “Faktor tersebut dapat membantu menjaga ketahanan laba BRI, meski margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih menghadapi tekanan jangka pendek,” jelas Victoria.

Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) BBRI tercatat sebesar Rp 15,4 triliun. Angka ini turun 0,8% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun mengalami kenaikan 22% secara tahunan (year on year/yoy).

Rekomendasi Saham BBRI dan Target Harga

Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, dengan pertumbuhan 17,5% yoy. Realisasi ini setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026.

Pertumbuhan PPOP tercatat sebesar 12,7% yoy, sementara pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun. NIM mengalami penurunan 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih berada dalam panduan yang ditetapkan, yaitu 7,4%-7,8%.

Total kredit tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq mencapai Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal 7%-9%. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh segmen korporasi dan komersial.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) berada di angka 2,9%, sementara kredit berisiko (loan at risk/LAR) turun menjadi 9,1%.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi ‘buy’ untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027.

MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi yang berkelanjutan, dan modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi masih datang dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, kondisi ekonomi makro yang melemah, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.