— Ketegangan politik dan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memuncak menjelang gelaran Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman untuk merusak perekonomian atau menumbangkan kepemimpinan Iran jika tidak ada kesepakatan diplomasi. Sementara itu, militer Iran menyiagakan balasan berskala besar yang dinilai bakal “menyakitkan” bagi posisi AS dan sekutunya di Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (21/9/2026), Trump menyatakan opsi yang tersisa bagi Iran hanyalah “memusnahkan negara tersebut” atau membiarkan ekonominya “hancur”, kecuali kedua belah pihak mencapai kesepakatan politik. Meski menyatakan terbuka untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New York, Trump mengaku masih dalam proses mengambil keputusan akhir terkait tindakan militer.

Iran Siagakan Serangan Balasan dan Isyaratkan Perang Panjang

Menanggapi sinyal serangan berskala besar dari AS dan sekutunya, Markas Komando Pusat Khatam al-Anbia Iran menegaskan akan membidik seluruh posisi serta kepentingan AS di kawasan Timur Tengah secara berkelanjutan. Media lokal Tasnim melaporkan, pemerintah Iran juga menganggap negara-negara kawasan yang mendukung serangan AS sebagai pihak yang terlibat langsung dalam konflik.

“Jika AS melakukan kesalahan terhadap Republik Islam Iran, seluruh posisi dan kepentingannya di kawasan akan menjadi sasaran serangan yang berkelanjutan, efektif, dan menyakitkan,” tegas Markas Komando Pusat Khatam al-Anbia.

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah runtuhnya kesepakatan memorandum Juni 2026, yang memperpanjang konflik terbuka selama tujuh bulan terakhir. Kementerian Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya di Timur Tengah guna mengantisipasi gangguan penerbangan dan penutupan ruang udara.

Kondisi diperparah oleh serangan rudal dan wahana nirawak (drone) kelompok Houthi yang menyasar Riyadh, Arab Saudi. Kendati sistem pertahanan udara Saudi berhasil mencegat rudal balistik tersebut, insiden ini memicu sirine bahaya udara pertama di ibu kota Saudi sejak perang meluas pada Juli 2026.

Krisis Selat Hormuz dan Tekanan Pasar Energi Dunia

Di sektor komoditas, harga minyak mentah Brent berada di level US$ 102,15 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 98,46 per barel. Analis dari Eurasia Group memproyeksikan harga minyak dunia tetap bertahan tinggi pada kisaran US$ 90-110 per barel hingga akhir tahun akibat defisit pasokan global.

Tehran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz sebelum AS memenuhi komitmen memorandum Juni 2026, yang mencakup pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi ekonomi dan keuangan, pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta penghentian seluruh ancaman dan aksi militer AS.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, diplomasi hanya akan berjalan efektif jika Iran memiliki posisi tawar yang kuat di medan pertempuran.

Krisis hubungan antara AS dan Iran memasuki babak paling krusial pasca-kegagalan implementasi memorandum kesepahaman pada Juni 2026. Kesepakatan awal yang ditujukan untuk meredakan ketegangan militer dan memulihkan akses perbankan internasional Iran mengalami jalan buntu, memicu penutupan sepihak Selat Hormuz oleh armada maritim Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur logistik paling vital bagi pasokan energi global, mengingat sekitar seperlima volume minyak mentah dunia melintasi selat sempit tersebut setiap harinya.

Penutupan jalur pelayaran dan meningkatnya insiden perampasan kapal tanker telah memicu krisis energi dunia, mengganggu rantai pasok global, dan mendorong inflasi energi di berbagai negara. Kehadiran delegasi diplomasi Iran yang dipimpin Pezeshkian di Sidang Majelis Umum PBB pekan ini menjadi celah diplomasi terakhir guna mencegah eskalasi konflik terbuka menjadi perang regional berskala penuh.