— Militer Iran memberikan peringatan keras bahwa potensi kembalinya konflik bersenjata dengan Amerika Serikat (AS) dapat meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah. Eskalasi pertempuran ini diperkirakan akan menyeret jaringan infrastruktur energi hingga fasilitas komunikasi vital ke dalam pusaran konflik.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, dalam wawancaranya bersama Kantor Berita Mehr. Ia menegaskan bahwa setiap kesalahan kalkulasi dari pihak lawan akan langsung memicu balasan setimpal dari angkatan bersenjata Iran. “Perang yang mungkin terjadi di masa depan dapat meluas ke arena-arena baru. Di mana pun musuh memiliki kepentingan, jika terjadi agresi, maka wilayah itu menjadi sasaran sah bagi militer Iran,” tegas Akraminia.

Akraminia menyoroti titik-titik krusial seperti Selat Bab al-Mandab dan pangkalan militer AS di Suriah yang kini masuk dalam cakupan potensi pertempuran. Selain itu, ancaman balasan Iran juga menyasar jalur komunikasi dasar laut serta infrastruktur energi yang membentang di sekitar perairan lepas pantai Iran, Semenanjung Arab, hingga Teluk Oman.

Di sisi lain, Akraminia mendesak Pemerintah Qatar untuk mengusut tuntas nasib tiga pilot Iran yang hilang sejak operasi penyerangan udara terhadap pangkalan militer AS di Qatar pada 2 Maret 2026. Dari dua jet Sukhoi yang ditembak jatuh pascaserangan tersebut, baru satu jenazah pilot atas nama Majid Kazemi yang berhasil ditemukan. Pihak Qatar sendiri membantah menahan para pilot dan menyatakan tidak menemukan bukti penangkapan di lokasi pencarian.

Pernyataan keras Iran ini mengemuka di tengah rapuhnya kesepakatan damai. Kendati Iran dan AS telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) penghentian bentrokan pada 18 Juni 2026 melalui mediasi Qatar dan Pakistan, Iran menilai AS tidak sepenuhnya menjalankan komitmen tersebut. Ketegangan militer antara Iran dan AS mencapai titik didih pascaserangan udara gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah kemudian memicu eskalasi regional yang meluas hingga mengganggu stabilitas jalur perdagangan maritim global.

Meskipun mediasi dari Qatar dan Pakistan berhasil memfasilitasi penandatanganan kesepakatan gencatan senjata (MoU) pada 18 Juni 2026, proses diplomasi kembali diuji oleh tuduhan pelanggaran komitmen dan masalah kemanusiaan pascakonflik, termasuk penelusuran pilot yang hilang. Posisi strategis Teluk Oman dan Selat Bab al-Mandab menjadikan kawasan ini krusial bagi pasokan energi dunia, sehingga potensi eskalasi baru mengancam stabilitas ekonomi dan keamanan global.