DailyFX.ID — Iran secara resmi mengubah doktrin militernya dari yang semula berfokus pada pertahanan menjadi sikap siap menyerang (ofensif). Langkah tegas ini diambil menyusul eskalasi konflik terbaru yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Perubahan strategi tersebut dikonfirmasi oleh Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, melalui kantor berita IRNA. “Sebelumnya doktrin militer negara kami bersifat defensif. Namun, dalam dua konflik terakhir ini, kami menyaksikan pergeseran dari defensif menjadi ofensif,” ujar Akraminia, Sabtu (22/8/2026).
Doktrin anyar ini tidak hanya berfokus pada tindakan pencegahan, tetapi juga menyiapkan respons cepat dan berskala besar terhadap setiap potensi agresi dari pihak musuh.
Ketegangan AS-Iran Meningkat di Selat Hormuz
Hubungan kedua negara terus memburuk pasca kesepakatan damai yang singkat. Momen krusial konflik kedua pihak meliputi:
- 18 Juni: Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.
- 8 Juli: Presiden AS Donald Trump secara sepihak membatalkan gencatan senjata dan kembali melancarkan serangkaian serangan militer.
- Tanggapan CENTCOM: Komando Pusat AS mengklaim serangan dilakukan guna membalas aksi Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
- Respons Balasan Iran: Iran membalas dengan menggempur pangkalan militer AS di Timur Tengah serta menutup Selat Hormuz pada 12 Juli 2026.
- Blokade dan Operasi Ekonomi: Trump menyatakan AS sebagai “penjaga” Selat Hormuz, menerapkan kembali blokade pelabuhan, dan meluncurkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai langkah ekonomi ekstrem AS tersebut hanyalah taktik pengalihan isu atas krisis internal Washington yang justru akan berujung pada kekalahan lebih besar bagi AS.
Eskalasi ketegangan antara Iran, AS, dan Israel berakar pada perselisihan geopolitik jangka panjang di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz, jalur logistik strategis yang melayani hampir seperlima kebutuhan minyak dunia, selalu menjadi titik panas perebutan pengaruh.
Ketidakstabilan kian meruncing sejak pembatalan kesepakatan nuklir secara sepihak dan penerapan sanksi ekonomi berat terhadap Iran, yang memicu aksi saling balas militer dan mengancam stabilitas pasokan energi global.
Ikuti DailyFX.ID
