— Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa konflik dan perang dengan Amerika Serikat (AS) perlu segera diakhiri selagi Iran berada dalam posisi yang “kuat dan bermartabat”. Pernyataan ini disampaikan sekaligus untuk membela kesepakatan terbaru yang dicapai antara Iran dan AS.

Dalam sebuah acara pada Jumat (21/8/2026), Pezeshkian menegaskan hasil perundingan tersebut merupakan pencapaian besar yang telah mendapatkan persetujuan penuh dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. “Apa yang dicapai selama perundingan merupakan sebuah pencapaian besar,” ujar Pezeshkian sebagaimana dikutip Anadolu, Jumat. Ia menambahkan, para anggota dewan yang terlibat langsung dalam proses perundingan telah mempertahankan posisi negara secara tegas.

Pezeshkian menepis berbagai kritik yang menyebut Teheran telah memberikan konsesi atau mengalah kepada pihak lawan. Ia menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai langkah yang terhormat dan bernilai. “Mereka tidak akan dapat menemukan satu pun klausul dalam kesepakatan ini yang menunjukkan penyerahan diri. Seluruh komitmen justru terkait dengan pihak lain,” tegasnya.

Meski demikian, Pezeshkian menekankan bahwa masuknya Iran ke dalam kesepakatan ini bukan berarti Teheran akan tunduk apabila serangan kembali terjadi. “Kami dalam keadaan apa pun tidak akan tunduk pada intimidasi. Kami akan melawan mereka hingga hembusan napas terakhir dan memberikan respons yang sangat keras,” tambahnya.

Ia menjelaskan, setiap konflik pada akhirnya harus diselesaikan, dan situasi saat ini dinilai memberikan momentum yang paling tepat bagi Iran. “Lebih baik mengakhiri perang hari ini, ketika kami berada dalam posisi kuat dan bermartabat,” kata Pezeshkian. Ia juga menuduh pihak AS telah melanggar hukum internasional dengan menyerang fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur vital di Iran.

Lebih lanjut, ia memastikan para komandan militer dan seluruh jajaran angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kesiapsiagaan penuh untuk membela negara, sembari mengimbau pentingnya menjaga persatuan internal di dalam negeri.

Sebelumnya, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) berisi 14 poin di Islamabad, Pakistan, pada 18 Juni 2026. Kesepakatan yang difasilitasi oleh mediasi Pakistan dan Qatar tersebut mengatur penghentian perang serta masa perundingan selama 60 hari menuju kesepakatan final. Meskipun Iran sempat menuduh AS melanggar beberapa poin dalam MoU tersebut, upaya diplomasi dari Pakistan dan Qatar hingga kini terus berjalan untuk menjembatani kedua belah pihak.

Ketegangan militer antara Iran dan AS telah meluas menjadi konflik terbuka yang berdampak signifikan terhadap kestabilan geopolitik dan pasokan energi global. Eskalasi memuncak setelah serangkaian serangan udara yang menyasar infrastruktur strategis di wilayah Iran, yang dibalas dengan tindakan defensif serta gertakan militer dari Teheran. Guna mencegah kehancuran lebih lanjut dan potensi perang berskala luas di Timur Tengah, negara-negara penengah seperti Pakistan dan Qatar menginisiasi dialog diplomasi. Upaya mediasi ini melahirkan MoU 14 poin di Islamabad pada Juni 2026 sebagai peta jalan menuju gencatan senjata permanen dan perundingan damai.