DailyFX.ID — BRI JF3 Fashion Festival 2026 memamerkan ragam pendekatan inovatif terhadap mode berkelanjutan. Festival ini menampilkan bagaimana material yang sebelumnya dianggap tidak terpakai, mulai dari pakaian lama, perca kain, hingga sisik ikan, dapat diubah menjadi karya bernilai tinggi.
Tema “Recrafted: Shaping the Future” menjadi payung bagi para desainer untuk mengeksplorasi konsep keberlanjutan. Festival ini membuktikan bahwa mode berkelanjutan tidak memiliki satu formula tunggal. Keberlanjutan dapat diwujudkan melalui pemanfaatan kembali material yang ada, perpanjangan siklus hidup produk, rekonstruksi sisa produksi, hingga penemuan nilai baru pada objek yang telah kehilangan fungsi awalnya.
Howard Laurent: Dari Material Sisa Menjadi Busana Couture
Howard Laurent, melalui koleksi “The Key”, menyajikan 30 tampilan yang memadukan kemewahan busana malam dengan kesadaran material. Koleksinya memanfaatkan hingga 50 persen material dari sumber yang sudah ada, termasuk kunci vintage, sisa kain, dan plastik daur ulang. Material-material ini diolah menjadi detail couture yang memukau, menunjukkan bahwa penggunaan kembali material tidak mengurangi nilai visual sebuah karya.
RAEGITAZORO: Melestarikan Memori Melalui Busana
Koleksi “LUMEN: From Her Shadow to My Light” dari RAEGITAZORO membawa gagasan keberlanjutan ke ranah personal. Terinspirasi oleh mendiang ibunya, koleksi ini menggunakan kembali pakaian dan kain warisan almarhumah untuk diciptakan menjadi busana baru. Pendekatan ini tidak hanya memperpanjang umur fisik material, tetapi juga melestarikan cerita dan memori.
AMOTSYAMSURIMUDA: Menghidupkan Kembali Kain yang Terlupakan
AMOTSYAMSURIMUDA melalui koleksi “Heirloom Fantasy” mengolah tumpukan kain lama dan tekstil antik menjadi busana pria kontemporer. Koleksi ini memberikan konteks dan pengguna baru pada material yang tersimpan, membuktikan bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari sumber daya yang sudah dimiliki.
Adrie Basuki: Sirkularitas dalam Kreasi Material
Adrie Basuki mengangkat konsep circular fashion dalam koleksi “Jantung Nadi”. Salah satu inovasinya adalah Kain Marmer yang dibuat dari sisa kain, diolah hingga menghasilkan komposisi warna dan tekstur baru. Material sisa ini menjadi titik awal penciptaan, dipadukan dengan batik tradisional dan bahan alami Nusantara. Adrie juga memberikan panggung kepada penyintas kanker dalam peragaan busananya sebagai bentuk penghormatan.
AGATHANDY: Perca Kain Menjadi Identitas Desain
AGATHANDY by Agatha Nindya, dalam koleksi LOKAKINI, merekonstruksi perca lace dan batik menjadi detail dekoratif pada jas modern dan beskap tradisional. Alih-alih menyembunyikan perca, AGATHANDY justru menjadikannya bagian dari karakter desain, menunjukkan bagaimana keterbatasan material dapat menciptakan kemungkinan visual baru.
YASA: Nilai dari Material Lingkungan Sekitar
Koleksi “NIHI Voyage” dari YASA menerjemahkan kekayaan alam Sumba menjadi busana pria kontemporer. Beberapa busana menampilkan material non-konvensional seperti tulang rusuk sapi, capit kepiting, dan cangkang kerang sebagai elemen dekoratif. Pendekatan ini mengeksplorasi pemanfaatan kembali material yang tersedia di lingkungan sekitar.
The Theme: Kreativitas Memberi Nilai Baru pada Aksesori
The Theme menghadirkan koleksi aksesori “The Life Journey” yang menggunakan material seperti kuningan, PVC, dan kulit. Salah satu eksplorasi uniknya adalah pengolahan sisik ikan kakap dari nelayan Bintan menjadi aksesori melalui teknik payet. Hal ini menunjukkan bagaimana kreativitas dapat memberikan fungsi dan nilai baru pada material.
Louise Marcaud: Memberi Kehidupan Baru pada Material Temuan
Desainer asal Prancis, Louise Marcaud, melalui koleksi Louiseguard Spring/Summer 2027, memanfaatkan batik, tenun, dan kain sisa produksi yang ia kumpulkan saat berkunjung ke Indonesia. Kain-kain tersebut diolah kembali melalui bahasa desainnya yang berakar pada tailoring dan struktur, memberikan kehidupan serta konteks baru pada material yang telah ditemukan.
Mode Berkelanjutan Tanpa Satu Formula
Beragam koleksi di JF3 2026 menunjukkan bahwa mode berkelanjutan dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan. Mulai dari pengolahan material vintage, perpanjangan umur tekstil, rekonstruksi sisa produksi, hingga penemuan nilai baru dari material lingkungan sekitar. Kesamaan mereka adalah kemauan untuk mempertanyakan kebutuhan akan sesuatu yang selalu baru.
Chairman JF3 Fashion Festival, Soegianto Nagaria, menekankan pentingnya perubahan dalam industri. “Industri fashion terus berubah. Karena itu, kita juga harus berani berubah, meningkatkan kualitas, memperkuat cara bekerja, membangun kolaborasi yang lebih setara, serta menciptakan ekosistem yang memberi ruang bagi lebih banyak talenta untuk tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
BRI JF3 Fashion Festival 2026, dengan semangat “Recrafted: Shaping the Future”, tidak hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi juga ruang untuk membangun standar, membuka kemungkinan baru, dan mendorong perubahan nyata bagi industri mode Indonesia. Masa depan mode dapat tumbuh dari kemampuan melihat kembali apa yang telah tersedia, memperpanjang usia kain, menghidupkan kembali benda bersejarah, merekonstruksi material sisa, dan menemukan fungsi baru pada sesuatu yang sebelumnya dianggap usai.
Ikuti DailyFX.ID
