DailyFX.ID — JAKARTA – Di tengah optimisme target pertumbuhan ekonomi nasional, persoalan besar mengintai pasar tenaga kerja Indonesia. Fenomena jobless growth, di mana ekonomi tumbuh pesat namun tidak diikuti penciptaan lapangan kerja yang memadai, menjadi sorotan utama.
Kondisi ini tergambar jelas dari kisah Lilis, seorang operator jahit di pabrik konveksi Bekasi. Meskipun target produksi meningkat, jumlah pekerja di lininya justru menyusut dalam dua tahun terakhir. Mesin-mesin baru yang lebih cepat didatangkan untuk mengejar target, sementara rekan-rekan Lilis banyak yang beralih profesi menjadi kurir atau pedagang daring, menanti panggilan kerja yang tak kunjung pasti.
Kisah Lilis bukan sekadar anekdot, melainkan potret kecil dari realitas ketenagakerjaan yang seringkali tersembunyi di balik angka pertumbuhan ekonomi yang membaik. Pidato kenegaraan Presiden dan Nota Keuangan RAPBN 2027 mematok target pertumbuhan ekonomi 6% tahun depan, dengan ambisi mencapai 8% pada 2029. Di atas kertas, sektor industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan menjadi tulang punggung pertumbuhan, dan angka pengangguran menunjukkan tren melandai.
Namun, bagi para pekerja seperti Lilis, pertanyaan krusialnya bukanlah seberapa tinggi ekonomi tumbuh, melainkan apakah pertumbuhan tersebut membuka pintu kerja baru atau justru menutupnya. Data ketenagakerjaan nasional menunjukkan bahwa hanya sekitar empat dari sepuluh penduduk yang bekerja terserap di sektor formal. Sisanya bertahan di sektor informal, yang minim kepastian, jaminan sosial, dan jenjang karier.
Lebih lanjut, lebih dari seperempat pekerja berstatus paruh waktu, dan hampir sepuluh persen tergolong setengah pengangguran. Mereka bekerja sekadar memenuhi kriteria Badan Pusat Statistik (BPS), namun penghasilan yang didapat tidak pernah mencukupi.
Anomali Pertumbuhan dan Penyerapan Tenaga Kerja
Fenomena yang dialami Lilis memiliki penjelasan yang lebih luas. Dunia usaha saat ini bergerak ke arah otomatisasi yang semakin tinggi, sementara ketidakpastian global terus menekan pasar tenaga kerja. Di banyak perusahaan manufaktur, peningkatan output produksi tidak selalu diikuti dengan pembukaan lapangan kerja baru.
Penambahan penduduk bekerja justru didominasi oleh sektor informal yang terus membengkak, sementara sektor formal hanya bertambah secara tipis. Sektor pertanian, yang memiliki produktivitas rendah, pun masih menjadi penampung tenaga kerja terbesar. Bahkan, ketika pemerintah berhasil membuka keran investasi secara masif, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja tidak lagi sebesar dulu.
Elastisitas lapangan kerja, yang mengukur seberapa besar pertumbuhan ekonomi mampu menyerap tenaga kerja formal, terus menurun. Pada 2010, setiap satu persen pertumbuhan ekonomi mampu menyerap hampir dua persen tenaga kerja formal. Kini, angka tersebut turun separuhnya.
Industri pengolahan, meskipun menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional dan menunjukkan pertumbuhan positif, tidak berjalan seiring dengan terbukanya lapangan kerja. Indeks produksi manufaktur nasional masih berada di zona ekspansif, pabrik-pabrik terus menambah output. Namun, indeks tenaga kerja justru berada di zona kontraksi pada beberapa kuartal terakhir. Ini mengindikasikan bahwa pabrik tumbuh, namun pintu bagi pencari kerja baru semakin sempit.
Tiga Penjelasan di Balik Paradoks
Ada tiga penjelasan utama di balik paradoks jobless growth ini:
- Kapasitas Produksi yang Belum Optimal: Banyak perusahaan masih beroperasi di bawah titik optimal. Untuk menambah output, mereka memanfaatkan kapasitas yang tersisa tanpa perlu merekrut tenaga kerja baru.
- Pergeseran Struktur Industri: Struktur industri Indonesia bergeser dari yang padat karya menjadi padat modal. Mesin dan teknologi kini menggantikan tenaga manusia dalam skala yang makin besar.
- Kehati-hatian Pengusaha: Pascapandemi, ditambah ketidakpastian global, mahalnya harga energi, dan gangguan rantai pasok, membuat banyak pelaku usaha memilih menahan investasi ketimbang berekspansi.
Masalahnya, setiap tahun Indonesia kedatangan angkatan kerja baru dalam jumlah besar, sementara kapasitas industri untuk menyerapnya tidak tumbuh secepat itu. Inilah yang disebut jobless growth, di mana pertumbuhan ekonomi yang baik di atas kertas tidak menyelesaikan persoalan pengangguran.
Lima Langkah Menghadapi Jobless Growth
Untuk mengatasi tantangan ini, pembenahan harus dimulai dari beberapa aspek mendasar:
- Kesadaran Pertumbuhan Berdampak: Angka pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pertumbuhan yang berdampak nyata pada penciptaan lapangan kerja formal.
- Fokus Re-industrialisasi Padat Karya: Strategi re-industrialisasi dan hilirisasi harus difokuskan pada sektor padat karya yang memiliki efek berantai luas ke perekonomian. Keberhasilan hilirisasi harus diukur dari daya serap tenaga kerja lokal, kenaikan upah riil, dan transfer teknologi, bukan hanya nilai investasi dan ekspor.
- Integrasi Pendidikan Vokasi dan Industri: Kurikulum pendidikan vokasi harus diperketat dengan kebutuhan riil industri. Peningkatan jumlah lulusan harus sejalan dengan daya serap dunia kerja agar tidak melahirkan frustrasi dan menumpuk sertifikat tanpa mobilitas ekonomi.
- Dorong Transisi Informal ke Formal: Percepatan transisi dari sektor informal ke formal perlu didorong melalui kemudahan akses pembiayaan, bantuan teknologi, kepastian hukum usaha, serta perluasan kepesertaan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi UMKM dan pekerja mandiri.
- Jadikan Kesejahteraan Pekerja sebagai Pilar Utama: Pemerintah harus menjadikan kenaikan upah riil dan cakupan perlindungan sosial pekerja sebagai pilar utama dalam mengukur kinerja pertumbuhan ekonomi nasional. Kesejahteraan pekerja harus menjadi indikator utama, bukan sekadar pelengkap narasi pertumbuhan.
Ekonomi Indonesia boleh saja melaju menuju target 8%. Namun, jika pertumbuhan tersebut tidak diiringi dengan terbukanya pintu kerja yang layak bagi jutaan angkatan kerja baru setiap tahun, bagi para pekerja yang berjuang setiap pagi di lini produksi, pertumbuhan itu hanya akan menjadi angka yang gagah di atas kertas, jauh dari denyut kehidupan rakyat yang seharusnya diperjuangkan.
Ikuti DailyFX.ID
