— JAKARTA – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan terus menimbulkan dampak signifikan terhadap dunia penerbangan. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat ribuan penerbangan mengalami gangguan, mulai dari keterlambatan, penundaan, pembatalan, hingga pengalihan rute.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menyatakan bahwa keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama dalam menghadapi situasi ini. “Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. Apabila kondisi jarak pandang berada di bawah batas minimum operasional, maka penerbangan dapat mengalami keterlambatan, penundaan, pembatalan, maupun pengalihan sesuai hasil evaluasi kondisi di lapangan dan pertimbangan keselamatan,” ujar Lukman dalam keterangan resminya, Rabu (23/9/2026).

Kondisi asap akibat Karhutla secara langsung mempengaruhi jarak pandang di sekitar bandar udara, yang berdampak pada kelancaran operasional penerbangan. Dalam situasi tersebut, aspek keselamatan menjadi pertimbangan krusial dalam setiap pengambilan keputusan operasional.

Selama periode 14 hingga 20 September 2026, tercatat sebanyak 409 penerbangan terdampak di wilayah kerja Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VII Balikpapan. Rinciannya, 141 penerbangan mengalami keterlambatan (delay), 254 penerbangan dibatalkan (cancelled) atau ditunda (postponed), dan 14 penerbangan dialihkan (divert).

Jumlah ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, 7 hingga 13 September 2026, yang mencatat 159 penerbangan terdampak. Penurunan jarak pandang akibat asap Karhutla menjadi faktor utama penyebab peningkatan ini.

Secara kewilayahan, Kalimantan Tengah mencatat dampak tertinggi dengan 201 penerbangan terdampak, terdiri dari 79 delay, 121 cancelled/postponed, dan satu diverted. Kalimantan Timur menyusul dengan 138 penerbangan terdampak (48 delay, 77 cancelled/postponed, 13 diverted). Sementara itu, Kalimantan Utara mencatat 70 penerbangan terdampak (14 delay, 56 cancelled/postponed).

Jarak pandang terendah selama periode tersebut dilaporkan mencapai 50 meter di beberapa bandar udara, termasuk Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto. Kondisi ini sangat memengaruhi operasional penerbangan karena setiap penerbangan wajib memenuhi ketentuan keselamatan dan batas minimum operasional yang berlaku.

Hak Penumpang Tetap Terjamin

Menanggapi dampak tersebut, maskapai diwajibkan memberikan pelayanan dan memenuhi hak-hak penumpang yang terdampak keterlambatan maupun pembatalan penerbangan. Hal ini sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Hak penumpang dapat berupa kompensasi, penjadwalan ulang (reschedule), maupun pengembalian biaya tiket secara penuh (full refund) sesuai kondisi dan ketentuan yang berlaku,” tegas Lukman.

Analis penerbangan independen, Gatot Rahardjo, menekankan pentingnya keselamatan penerbangan di tengah kabut asap. Namun, ia juga mengingatkan maskapai untuk tetap memperhatikan hak-hak penumpang. “Yang penting hak-hak penumpang diperhatikan, selama kondisinya luar biasa dan berujung pembatalan penerbangan, penumpang bisa mendapatkan pemberitahuan dan hak-hak lainnya sebagaimana diatur dalam UU Penerbangan,” ujarnya.

Gatot menambahkan bahwa pemerintah perlu merespons dengan mengatasi akar persoalan Karhutla agar tidak menimbulkan efek yang lebih luas. “Kalau di regulator penerbangan udara saya kira mitigasi resiko sudah berada dalam standar yang ditetapkan. Paling penting sekarang, bagaimana menekan Karhutla biar tidak memberikan kerugian yang lebih besar,” pungkasnya.

Potensi Bantuan Pesawat dari China

Di sisi lain, Kemenhub menjajaki kemungkinan penggunaan pesawat buatan BUMN China, Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC), untuk membantu upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

“Kami melakukan penjajakan agar C909 dari COMAC dapat membantu memadamkan kebakaran hutan yang sedang dialami di beberapa wilayah di Indonesia saat ini,” kata Lukman saat ditemui di Beijing, China, Selasa (22/9).

Selain dari COMAC, tercatat delapan negara lain yang telah membantu pemadaman Karhutla di Indonesia dengan total 41 pesawat. Negara-negara tersebut adalah Australia (7 unit), Amerika Serikat (16 unit), Rusia (7 unit), Ukraina (4 unit), Selandia Baru (1 unit), Laos (1 unit), Vietnam (3 unit), dan Kanada (2 unit).

COMAC C909 adalah pesawat yang telah beroperasi sejak 2016 dan cocok untuk bandara penghubung sekunder, serta memiliki kemampuan adaptasi yang kuat terhadap lingkungan operasional di berbagai wilayah.

Rencananya, pemadaman api akan menggunakan teknologi baru dari COMAC yang diklaim lebih presisi dan menggunakan material ramah lingkungan. Namun, kepastian waktu kedatangan pesawat ini belum dapat dipastikan karena memerlukan persiapan logistik dan pengurusan izin terbang. Seluruh biaya pemadaman api akan ditanggung oleh COMAC sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Sejumlah Maskapai Hentikan Operasi Sementara

Akibat kabut asap yang semakin pekat, sejumlah maskapai memutuskan untuk menghentikan sementara operasional penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

“Misalnya, Garuda Indonesia tidak beroperasi sampai tanggal 26 September,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kalteng Yulindra Dedy, Rabu (23/9).

Maskapai lain yang mengambil kebijakan serupa antara lain Citilink yang tidak beroperasi hingga 27 September dan Lion Group hingga 24 September. “Kondisi kabut ini tidak memungkinkan, tujuannya agar tidak menimbulkan ketidakpastian bagi penumpang,” jelasnya.

Humas Angkasa Pura Indonesia Bandara Tjilik Riwut, Andi Wiguna, menjelaskan bahwa bandara tidak ditutup, namun operasional penerbangan memang dihentikan sementara demi keselamatan dan kepastian penumpang.