— Tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Lampung, pada Sabtu (22/8/2026). Upaya pemadaman ini berlangsung selama 42 jam oleh ratusan personel.

Kementerian Kehutanan mengonfirmasi bahwa karhutla di TNWK tidak berdampak pada gajah liar maupun gajah jinak yang ada di kawasan tersebut. Meskipun api telah berhasil dipadamkan, petugas gabungan tetap berjaga di lokasi untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa dan melakukan penyemprotan air guna mencegah api kembali menyala.

Petugas TNWK juga melakukan penyisiran dan patroli di sekitar area kebakaran untuk mendeteksi titik api lain yang mungkin belum teridentifikasi. Penanganan karhutla ini melibatkan sekitar 250 personel gabungan dari Balai TNWK, Polri, TNI, Pemkab Lampung Timur, mitra kerja taman nasional, Masyarakat Mitra Polhut, kelompok tani hutan, dan Masyarakat Peduli Api.

Luas area yang terdampak kebakaran hutan di Resor Kuala Penet, SPTN Wilayah III Kuala Penet, Taman Nasional Way Kambas diperkirakan mencapai sekitar 673 hektare. Pemantauan pihak Balai TNWK menunjukkan bahwa karhutla tidak berdampak pada kelompok gajah liar karena lokasinya yang berada di wilayah utara TNWK dan jauh dari titik api. Gajah jinak di Pusat Konservasi Gajah (PKG) juga dipastikan aman karena lokasinya yang juga jauh dari area kebakaran.

Sebagai langkah antisipasi, Balai TNWK akan meningkatkan intensitas patroli dan pengamanan kawasan. Koordinasi dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, mitra kerja, dan masyarakat akan diperkuat untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, perburuan, perambahan, serta aktivitas ilegal lainnya yang dapat mengancam kawasan konservasi.

Pantauan Kondisi Lahan TNWK Pasca Kebakaran

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, meninjau langsung kondisi hutan dan lahan TNWK yang terbakar pada Minggu (23/8/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk mengecek kondisi kawasan pasca kebakaran dan memastikan proses penanganan serta pemadaman berjalan efektif.

“Saya ingin memastikan proses penangan Karhutla di TNWK berjalan efektif,” ujar Ahmad Munawir. Ia menambahkan bahwa penanganan kebakaran ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Pemadaman dilakukan secara kolaboratif melibatkan jajaran TNWK, TNI, Polri, BPBD Lampung Timur, dan masyarakat.

“Alhamdulillah dengan kolaborasi yang baik ini berhasil dipadamkan tadi malam, kurang lebih jam 7 malam,” kata Ahmad. Tim masih melakukan pemantauan hingga sekitar pukul 23.00 WIB dan tidak menemukan lagi titik api di kawasan yang terbakar. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai enam ratusan hektare.

Kebakaran Melanda Area Selatan TNWK

Ahmad menjelaskan bahwa kebakaran terjadi di bagian selatan kawasan TNWK. Meskipun area yang terdampak cukup luas, pemantauan terhadap kelompok gajah menunjukkan tidak ada satwa yang terkena dampak langsung.

“Alhamdulillah di kebakaran ini tidak ada satu ekor gajah pun yang kemudian terdampak,” jelas Ahmad. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama saat musim kemarau dengan kondisi cuaca yang kering. Terkait dugaan kebakaran yang disengaja, Kementerian Kehutanan akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk proses hukum jika ditemukan indikasi kesengajaan.

Kendala dalam Upaya Pemadaman

Sebelumnya, upaya pemadaman karhutla di kawasan konservasi TNWK menghadapi sejumlah kendala. Karakteristik lahan bergambut, sulitnya akses menuju lokasi, serta sumber air yang berada cukup jauh dari area kebakaran menjadi tantangan tersendiri bagi petugas gabungan.

Sebagian lokasi bahkan harus dijangkau petugas dengan berjalan kaki. Melalui kerja bersama dan penanganan intensif, api akhirnya berhasil dipadamkan. Kawasan konservasi TNWK memiliki luas sekitar 125.621 hektare dengan beragam ekosistem, mulai dari hutan dataran rendah, semak belukar, padang ilalang, rawa gambut, hingga hutan pantai dan mangrove. TNWK juga merupakan habitat penting bagi gajah dan badak Sumatera, serta Harimau Sumatera dan satwa liar lainnya.

Untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, Balai TNWK meningkatkan patroli di sejumlah wilayah rawan dan melibatkan masyarakat melalui kelompok peduli kelestarian kawasan hutan.