— JAKARTA – Pusat perbelanjaan, pameran otomotif, hingga tempat rekreasi masih ramai dikunjungi masyarakat di tengah keluhan mengenai melemahnya daya beli. Namun, keramaian tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kemampuan belanja seluruh masyarakat Indonesia masih kuat.

Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai pola konsumsi masyarakat saat ini semakin tersegmentasi. Keramaian pusat perbelanjaan dan pameran, terutama di kota-kota besar, lebih banyak ditopang masyarakat berpendapatan menengah atas yang masih memiliki kemampuan belanja relatif kuat.

“Keramaian ini segmented ya hanya di kota-kota besar, Jabodetabek begitu ya. Tidak di segala macam tempatnya,” kata Eko saat dihubungi, Senin (11/8/2026).

Menurut Eko, kelompok menengah atas masih memiliki tabungan dan daya beli yang relatif kuat. Kondisi tersebut membuat pusat perbelanjaan dan berbagai pameran di kota besar tetap ramai, meski sebagian masyarakat lainnya mulai menahan pengeluaran akibat pendapatan yang belum banyak meningkat.

“Kalau pada daerah-daerah yang menjadi kantong-kantong masyarakat kelas menengah atas tadi yang tabungannya miliaran tadi ya di atas Rp 5 miliar kira-kira begitu itu tetap saja pameran-pameran otomotif dan sebagainya itu ya itu diserbu banyak orang,” ujarnya.

Eko mengatakan perbedaan kemampuan belanja juga tercermin dari perkembangan tabungan masyarakat. Secara agregat, simpanan masyarakat memang masih bertambah. Namun, pertumbuhan yang lebih kuat berasal dari kelompok dengan nilai tabungan besar, sementara kelompok dengan simpanan lebih kecil tidak mengalami peningkatan sebesar kelompok atas.

Karena itu, menurut Eko, keramaian pusat perbelanjaan maupun pameran tidak dapat dijadikan gambaran mengenai kondisi konsumsi seluruh masyarakat Indonesia. “Tapi kan ini tidak bisa menggambarkan keseluruhan Indonesia,” kata Eko.

Salah satu contoh terlihat pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Selama 11 hari penyelenggaraan, pameran otomotif tersebut mencatat 496.378 pengunjung. Rata-rata pengunjung menghabiskan waktu sekitar lima jam di seluruh area pameran.

Namun, Eko mengingatkan angka kunjungan perlu dibaca bersama dengan data transaksi. Banyaknya masyarakat yang datang ke sebuah pameran belum tentu berbanding lurus dengan jumlah pembelian. Hal serupa juga dapat terjadi di pusat perbelanjaan, ketika jumlah pengunjung tinggi tetapi transaksi terkonsentrasi pada produk atau layanan tertentu.

Menurut dia, pengunjung pameran otomotif bisa datang untuk melihat kendaraan, mencari informasi, mengambil brosur, makan, atau sekadar berjalan-jalan tanpa akhirnya membeli kendaraan.

Karena itu, kekuatan daya beli masyarakat sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari jumlah transaksi, nilai belanja, serta jenis barang yang dibeli.

“Mereka jalan selfie, jalan-jalan, foto-foto, makan-makan, cari brosur tapi tidak check out ya, tidak beli mobil barunya. Itu harus dilihat lebih jauh ke situ,” ujar Eko.

Fenomena tersebut juga kerap digambarkan melalui istilah Rojali atau “rombongan jarang beli” dan Rohana atau “rombongan hanya nanya”. Istilah itu merujuk pada masyarakat yang tetap datang ke pusat perbelanjaan atau pameran, tetapi tidak selalu melakukan pembelian atau hanya mengeluarkan uang dalam jumlah terbatas.

Eko menilai kelompok menengah bawah cenderung semakin selektif dalam membelanjakan uang. Ketika pendapatan tidak mengalami peningkatan yang berarti, masyarakat akan lebih dahulu mempertahankan pengeluaran untuk kebutuhan penting dan mengurangi belanja yang dianggap masih dapat ditunda.

Namun, penghematan tidak selalu dilakukan dengan menghentikan konsumsi sepenuhnya. Sebagian masyarakat justru mempertahankan kebiasaan konsumsi, tetapi beralih ke produk atau layanan dengan harga yang lebih terjangkau.

Eko mencontohkan kebiasaan minum kopi. Konsumen yang sebelumnya rutin membeli kopi dari gerai premium masih tetap mengonsumsi kopi, tetapi berpindah ke kedai atau warung kopi dengan harga lebih murah. Pola serupa juga dapat terjadi pada aktivitas rekreasi dan berbagai kebutuhan nonpokok lainnya.

“Biasanya ngopinya di premium ya Starbucks, Coffee Bean dan seterusnya tetap ngopi sih tapi di warung-warung kopi yang relatif lebih terjangkau,” kata Eko.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi atau trading down. Masyarakat masih membelanjakan uang, tetapi semakin berhati-hati dalam menentukan harga dan kualitas barang atau jasa yang dipilih.

Eko menilai salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut adalah pendapatan yang tidak banyak meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi. Masyarakat yang masih memiliki tabungan berupaya menekan pengeluaran agar simpanan tersebut tetap dapat menjadi bantalan apabila kondisi ekonomi memburuk.

“Mereka masih punya tabungan punya ini tapi gak ada kenaikan income jadi yang mereka lakukan shifting. Terus kenapa shifting? Karena mereka mau mencoba untuk menghemat supaya ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi itu bisa mereka antisipasi,” ujarnya.

Pola konsumsi tersebut juga dapat dikaitkan dengan fenomena lipstick effect. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan kondisi ketika masyarakat mengurangi atau menunda pembelian bernilai besar, tetapi tetap mengeluarkan uang untuk kesenangan atau kebutuhan kecil yang harganya masih terjangkau.

Dengan demikian, keramaian mal, pameran otomotif, dan tempat rekreasi tidak selalu bertentangan dengan melemahnya daya beli sebagian masyarakat.

Kelompok berpendapatan tinggi masih memiliki kemampuan belanja yang kuat. Sementara itu, kelompok menengah dan menengah bawah tetap melakukan konsumsi, tetapi dengan nilai pengeluaran yang lebih kecil serta pilihan produk dan layanan yang lebih murah.