DailyFX.ID — JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan kinerja keuangan yang positif pada Agustus 2026. Laba bersih bank (bank only) tercatat sebesar Rp 4,9 triliun, mengalami kenaikan sebesar 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Pencapaian ini membawa laba bersih bank (bank only) BCA selama delapan bulan pertama 2026 (8M26) mencapai Rp 40,2 triliun, dengan pertumbuhan 3% yoy. Angka tersebut setara dengan 67% dari estimasi laba konsolidasi 2026 berdasarkan konsensus pasar, sedikit di bawah realisasi 68% pada periode delapan bulan di tahun 2025.
Stockbit Group dalam catatannya menyoroti adanya perbaikan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM) BCA. Hal ini tercermin dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tumbuh 8% yoy pada Agustus 2026. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya, di mana NII tumbuh 4% yoy pada Juli 2026 dan hanya 1% yoy selama periode 8M26.
Selain margin bunga, kualitas biaya operasional BCA juga tetap terjaga. Beban provisi bank pada Agustus 2026 mengalami penurunan signifikan sebesar 65% yoy dan 2% secara bulanan (month-on-month/mom). Biaya kredit (credit cost) tercatat sebesar 0,3%.
Secara kumulatif, credit cost selama 8M26 juga berada pada level 0,3%, angka ini lebih baik dibandingkan panduan konsolidasi manajemen untuk 2026 yang berada di kisaran 0,4–0,5%. Hal ini menunjukkan efisiensi dalam pengelolaan risiko kredit.
Dari sisi penyaluran dana, kredit BCA menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 2% mom pada Agustus 2026. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp 1.018 triliun, meningkat 11% yoy. Angka ini sejalan dengan perkiraan BCA sebelumnya mengenai pertumbuhan kredit sepanjang 2026 yang diproyeksikan mendekati batas atas target 8–10% yoy.
Stockbit mencatat bahwa akselerasi kredit dan rendahnya beban provisi telah terlihat sejak Juli 2026, menjadi indikator awal penguatan aktivitas perekonomian. Tren positif ini berlanjut pada Agustus 2026, di mana kombinasi pertumbuhan kredit, membaiknya pendapatan bunga bersih, serta terjaganya biaya kredit menjadi faktor utama yang menopang akselerasi laba BBCA.
Rekomendasi Saham BBCA dan Target Harga
KB Valbury Sekuritas dalam riset terbarunya mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham BBCA. Target harga saham ditetapkan pada Rp 9.480.
Target harga tersebut mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali. KB Valbury menilai bahwa meskipun kepercayaan pasar saat ini sedang menurun, kondisi valuasi tersebut membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham, apabila katalis positif mulai terealisasi.
KB Valbury melihat beberapa katalis yang dapat mendukung pergerakan saham BBCA. Salah satunya adalah potensi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memperkuat NIM. Faktor lainnya adalah cost of credit (CoC) yang berpotensi lebih rendah dari perkiraan, terutama jika kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik.
Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga menjadi katalis penting yang diperhitungkan oleh KB Valbury.
Meskipun demikian, KB Valbury turut mencatat sejumlah risiko yang dapat menekan proyeksi kinerja BBCA. Risiko tersebut antara lain jika pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit lebih rendah dari perkiraan. Biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi juga berpotensi menekan kinerja BCA. Selain itu, penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan menjadi faktor risiko lainnya.
KB Valbury juga mencermati potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko yang perlu dipertimbangkan terhadap proyeksi BCA (BBCA).
Ikuti DailyFX.ID
