— JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada perdagangan Kamis (17/9/2026), mengakhiri tren pelemahan yang telah berlangsung selama enam hari sebelumnya. Pada sesi pertama, IHSG berhasil menguat tipis sebesar 26,76 poin atau 0,42%, menempatkannya di level 6.463.

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa penguatan ini terjadi di tengah fluktuasi bursa saham Asia. Kondisi ini dipengaruhi oleh keputusan The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuannya. The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi rentang 3,75%-4%. Kenaikan ini sebenarnya sudah diperhitungkan oleh pasar, sehingga respons investor cenderung terkendali.

Meskipun demikian, Pilarmas mencatat bahwa The Fed masih mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada akhir tahun. “Kondisi ini membuat pasar tetap mencermati kemungkinan suku bunga AS bertahan tinggi dalam waktu lebih lama,” ungkap Pilarmas dalam risetnya pada Kamis (17/9/2026).

Sentimen positif lainnya datang dari pasar minyak dunia yang mengalami koreksi. Hal ini dipicu oleh harapan bahwa pasokan energi dari Arab Saudi melalui pipa Timur-Barat akan segera pulih. Penurunan harga minyak ini dinilai Pilarmas dapat meredakan kekhawatiran terhadap inflasi global. Selain itu, kondisi ini juga memberikan kelonggaran bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia dalam mengelola anggaran subsidi energi.

Pasar Cermati Hubungan AS-China

Selain kebijakan The Fed dan pergerakan harga minyak, Pilarmas menambahkan bahwa investor juga memberikan perhatian pada perkembangan hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dalam pembicaraan tingkat tinggi menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 24 September.

“Pertemuan tersebut menjadi perhatian pasar karena investor masih mencermati perkembangan terkait tarif, sanksi, serta ketegangan geopolitik antara kedua negara,” papar Pilarmas. Dari dalam negeri, Pilarmas menyebutkan bahwa keputusan The Fed juga membuat pasar menantikan langkah Bank Indonesia (BI). Kenaikan suku bunga AS berpotensi memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah dan arus modal, sehingga BI perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas mata uang dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, koreksi harga minyak memberikan sedikit ruang bagi kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dari sisi beban subsidi energi. Pada sesi I, saham-saham seperti AYLS, ICON, FILM, ASLI, dan TEBE mencatat kenaikan terbesar. Sebaliknya, AGAR, YULE, TRIN, SAPX, dan BAPI menjadi saham dengan penurunan terbesar.

Untuk rekomendasi sesi II, Pilarmas menyarankan untuk melakukan pembelian saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dengan level support dan resistance di kisaran 364-410.