— JAKARTA – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami pelemahan sebesar 1,84% dan ditutup pada level Rp 4.260 pada Rabu (16/9/2026), bertepatan dengan tanggal pencatatan (ex-date) dividen interim perusahaan. Perdagangan saham BMRI pada hari tersebut mencatatkan volume 140,87 juta saham dengan frekuensi 29.864 kali, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp 604,76 miliar.

Meskipun terjadi pelemahan, penurunan saham Bank Mandiri tidak terlalu signifikan saat ex-date dividen. Hal ini didukung oleh aksi beli investor domestik yang mencatatkan *net buy* sebesar Rp 238,4 miliar pada saham BMRI, sebagaimana dilaporkan oleh Stockbit Sekuritas. Sebelumnya, pada hari *cum date* dividen, Selasa (15/9/2026), saham emiten bank besar ini juga tercatat melemah 2,25%.

Bank Mandiri dijadwalkan membagikan dividen interim untuk tahun buku 2026 dengan total nilai Rp 6,16 triliun, atau setara dengan Rp 66 per saham. Dengan mengacu pada harga penutupan saham pada 15 September 2026, *yield* dividen interim BMRI diperkirakan mencapai sekitar 1,5%.

Tanggal daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen interim ini adalah 17 September 2026 pukul 16.00 WIB, dengan tanggal pembayaran dividen ditetapkan pada 2 Oktober 2026.

Di sisi lain, KB Valbury Sekuritas menyoroti kinerja positif PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Broker tersebut memproyeksikan laba bersih konsolidasian perusahaan selama periode Januari hingga September 2026 (9M26) akan tumbuh sebesar 16,3% secara tahunan (*year on year*/yoy). Proyeksi ini disertai dengan pembaruan rekomendasi dan target harga saham BMRI.

Pertumbuhan laba bersih Bank Mandiri pada 9M26 diproyeksikan akan ditopang oleh kinerja laba *bank only* sepanjang Januari hingga Agustus 2026 (8M26) yang telah mencapai Rp 37,48 triliun. Angka ini menunjukkan lonjakan sebesar 22,3% yoy.

Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menjelaskan bahwa pencapaian laba pada 8M26 setara dengan 66,4% dari estimasi KB Valbury untuk keseluruhan tahun 2026 dan 65,4% dari konsensus pasar. Realisasi tersebut juga melampaui rata-rata historis untuk periode yang sama, yang tercatat sebesar 63,4%.

“Kami meyakini BMRI masih berpeluang mencatat pertumbuhan laba yang sehat dalam beberapa bulan mendatang,” tulis Akhmad dalam risetnya, dikutip pada Minggu (13/9/2026). Ia menambahkan, jika laba bersih Bank Mandiri pada September 2026 hanya menyamai perolehan September 2025 sebesar Rp 4,1 triliun, laba *bank only* pada kuartal III-2026 (Juli–September 2026) masih berpotensi tumbuh 9,4% yoy.

Secara konsolidasian, KB Valbury memperkirakan laba bersih emiten berkode saham BMRI pada 3Q26 akan mencapai Rp 13,46 triliun, sedikit di bawah konsensus pasar yang sebesar Rp 13,97 triliun. Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan laba BMRI secara kumulatif pada 9M26 diproyeksikan mencapai 16,3% yoy, sekitar 135 basis poin (bps) di bawah konsensus yang sebesar 17,7%.

Kinerja BMRI juga diperkirakan akan didukung oleh pertumbuhan kredit sebesar 17,6% yoy dan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 17,6%. Dana murah, seperti *current account and savings account* (CASA) yang meliputi giro dan tabungan, menunjukkan peningkatan sebesar 8,2%.

Kualitas aset perseroan tetap terjaga dengan biaya kredit (*cost of credit*/CoC) sebesar 0,5%, yang berada di bawah panduan manajemen antara 0,6%-0,8%. Tingkat pengembalian atas ekuitas (*return on equity*/RoE) tercatat mencapai 21,6%, naik 2,9 poin persentase.

Namun, tekanan terhadap margin bunga bersih (*net interest margin*/NIM) diprediksi masih berlanjut seiring dengan penurunan imbal hasil aset produktif. KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi *buy* untuk saham BMRI dengan target harga Rp 5.660.

Target harga tersebut mencerminkan valuasi *price to book value* (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BMRI diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 1,4 kali.