— JAKARTA – Kolaborasi antarperguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penguatan tersebut mencakup aspek keamanan pangan, kandungan gizi, diversifikasi menu, hingga pengelolaan rantai pasok.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Eni Harmayani, menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh dalam pengelolaan pangan berskala besar. Hal ini meliputi pemahaman dari bahan baku, proses produksi, distribusi, hingga bagaimana makanan sampai kepada penerima manfaat.

Prof. Eni menjelaskan bahwa pengetahuan tersebut sangat krusial untuk memastikan makanan yang disajikan, terutama bagi siswa, tidak hanya aman tetapi juga mencukupi kebutuhan gizi. “Kami memiliki fokus yang sama, terutama dalam membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai keamanan pangan, mulai dari bahan baku hingga menjadi produk pangan, termasuk proses distribusi dan bagaimana sistem pangan bekerja secara keseluruhan,” ujarnya dalam sesi media interview terkait kemitraan baru antara University of Melbourne dengan UGM dan IPB University di Jakarta, Kamis (21/08/2026).

Kompetensi di bidang teknologi pertanian, lanjut Prof. Eni, tidak hanya berguna untuk pengelolaan pangan sehari-hari, tetapi juga dapat menjadi masukan berharga dalam penyusunan kebijakan program skala besar seperti MBG. Mahasiswa diajari cara menghasilkan pangan bergizi, mengelola proses dari bahan baku hingga produk akhir, serta memahami rantai pasok.

Dekan Fakultas Sains The University of Melbourne, Prof. Moira O’Bryan, menambahkan bahwa kualitas makanan tidak hanya diukur dari jumlah nutrisi, tetapi juga keberagaman pangan yang dikonsumsi. Pola makan yang lebih beragam merupakan faktor penting untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi dalam jangka panjang.

Melalui pendidikan dan penelitian, mahasiswa dapat mempelajari berbagai pilihan pangan dan kombinasi makanan dengan kandungan gizi yang baik. Pengetahuan ini dapat diterapkan di Indonesia untuk mendukung MBG agar menu yang disajikan lebih beragam dan sehat, tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi.

Sementara itu, Assoc. Prof. Dorin Gupta dari The University of Melbourne menyatakan bahwa keamanan pangan harus dilihat sebagai bagian integral dari keseluruhan sistem produksi. Penelitian di bidang ini mencakup mikrobiologi pangan, kemasan, penyimpanan jangka panjang, serta bagaimana kualitas gizi terjaga selama pengolahan dan penyimpanan.

Penelitian juga meliputi profil nutrisi, termasuk kandungan antioksidan dan komponen gizi utama lainnya. Keterlibatan mahasiswa dalam proyek penelitian dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan memperluas pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Australia di bidang keamanan pangan. Peningkatan standar keamanan pangan, terutama pada tahap pascapanen dan pengolahan, tidak dapat dipisahkan dari sistem produksi pangan secara keseluruhan.

Dalam konteks program pangan berskala besar, pemahaman terhadap rantai pasok menjadi sangat penting. Keamanan dan kualitas makanan harus terjaga sejak tahap produksi hingga distribusi. Kolaborasi akademik antara Indonesia dan Australia membuka peluang pertukaran pengetahuan mengenai praktik pertanian, teknologi pangan, dan pengelolaan sistem pangan di kedua negara.

Program gelar ganda yang dikembangkan bersama universitas di Indonesia dirancang agar mahasiswa memahami praktik terbaik di kedua negara sekaligus memperoleh perspektif terhadap sistem pertanian dan industri yang berbeda. University of Melbourne menilai program ini dapat menjadi fondasi kerja sama yang lebih luas, termasuk penelitian bersama di bidang pertanian dan pangan.

Jangka panjang, kerja sama ini diarahkan pada penelitian mengenai pangan berkelanjutan, inovasi yang memberi manfaat bagi petani dan industri, serta pengembangan pangan untuk kebutuhan masa depan. Prof. Eni menambahkan bahwa kolaborasi riset nantinya diharapkan dapat menjawab berbagai pertanyaan, termasuk bagaimana menghasilkan pangan secara berkelanjutan dan bagaimana inovasi dapat memberi manfaat lebih luas kepada masyarakat.