DailyFX.ID — SEOUL – Korea Utara kembali meluncurkan dua rudal balistik jarak pendek ke arah perairan timurnya, Senin (21/9/2026). Tindakan ini merupakan unjuk kekuatan terbaru Pyongyang, hanya beberapa hari setelah mengancam akan memperkuat pencegah nuklirnya sebagai balasan atas apa yang mereka sebut sebagai permusuhan Amerika Serikat.
Militer Korea Selatan melaporkan bahwa kedua rudal ditembakkan dari kawasan pesisir timur Wonsan dengan jeda waktu sekitar tiga jam. Rudal pertama dilaporkan terbang sejauh 450 kilometer, sementara rudal kedua menempuh jarak lebih dari 600 kilometer sebelum jatuh di perairan terbuka.
Kantor Kepresidenan Korea Selatan mendesak Korea Utara untuk segera menghentikan peluncuran rudal balistik yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Pihak militer Korea Selatan menegaskan kesiapan tempur penuh di bawah naungan aliansi pertahanan bersama Amerika Serikat. Kementerian Pertahanan Jepang juga mendeteksi pergerakan proyektil tersebut dan memastikan tidak ada objek yang jatuh di wilayah teritorialnya.
Jangkauan Tembakan dan Penolakan Tawaran AS
Rangkaian peluncuran rudal ini terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengurangi skala latihan militer bersama dengan Korea Selatan bulan lalu untuk membuka kembali ruang diplomasi dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Namun, sinyal damai tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak Korea Utara.
Adik perempuan Kim Jong Un yang juga pejabat senior, Kim Yo Jong, menegaskan bahwa pengurangan skala latihan militer tidak mengubah karakter provokatif dan agresif dari manuver Amerika Serikat dan sekutunya. Ia secara khusus mengecam latihan maritim multinasional Pacific Vanguard yang melibatkan Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Kanada sebagai pergerakan militer kalap untuk mempertahankan dominasi Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik.
“Keinginan kami untuk mempertahankan kedaulatan akan diwujudkan dalam tindakan yang lebih jelas, dan tidak akan pernah ada perubahan dalam arah penguatan daya cegah perang nuklir kami,” tegas Kim Yo Jong.
Sebelumnya, Korea Utara telah meluncurkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek serta menggelar latihan tempur gabungan yang melibatkan rudal, artileri, dan wahana nirawak (drone). Manuver beruntun ini dirancang untuk menguji kemampuan menembus dan melumpuhkan sistem pertahanan udara gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Sejak runtuhnya negosiasi tingkat tinggi antara Kim Jong Un dan Donald Trump pada 2019, Korea Utara berfokus penuh pada perluasan dan modernisasi persenjataan nuklirnya. Dengan peningkatan kapasitas militer serta hubungan diplomatik yang kian erat dengan Rusia dan China, pimpinan Korea Utara merasa memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat jika dialog kembali dibuka.
Kim Jong Un menyatakan bersedia kembali ke meja perundingan dengan syarat Washington menghapus “kebijakan bermusuhan” dan mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir. Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendorong pemulihan dialog langsung antara Amerika Serikat dan Korea Utara sebagai titik awal penting untuk meredakan ketegangan serta menciptakan perdamaian berkelanjutan di Semenanjung Korea.
Ikuti DailyFX.ID
