— JAKARTA – Kredit korporasi diproyeksikan tetap menjadi pilar utama perbankan dalam mendorong pertumbuhan penyaluran dana pada semester II-2026. Namun, bank diperkirakan akan meningkatkan selektivitas dalam menyalurkan pembiayaan guna menjaga kualitas portofolio.

Chief Economist PT Bank Permata Tbk (Permata Bank), Josua Pardede, menyatakan bahwa kredit korporasi akan terus menjadi motor penggerak utama pertumbuhan kredit. Meskipun demikian, laju pertumbuhannya diprediksi akan kembali normal setelah sempat melonjak tinggi pada semester I. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa per Juni 2026, kredit korporasi tumbuh sebesar 20,45% secara tahunan (yoy), jauh melampaui total kredit yang tumbuh 12,67% (yoy).

“Untuk kredit korporasi, saya belum melihat perbankan akan mengerem secara luas pada semester II. Yang lebih mungkin adalah perubahan dari ekspansi agresif menjadi ekspansi yang lebih selektif,” ujar Josua kepada Investor Daily, Selasa (18/8/2026).

Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mengindikasikan bahwa penyaluran kredit baru pada triwulan III masih diperkirakan tumbuh kuat. Meskipun indikatornya mengalami penurunan dari 93,08% pada triwulan II menjadi 84,65%, standar penyaluran kredit justru diprediksi lebih longgar. Pelonggaran ini terutama terjadi pada kredit investasi dan modal kerja, dengan penyesuaian pada plafon dan agunan. Bank memprioritaskan penyaluran kredit modal kerja, diikuti oleh kredit investasi dan kredit konsumsi.

“Namun saya memperkirakan pertumbuhan kredit korporasi akan melandai dari sekitar 20% saat ini, meskipun masih berpeluang bertahan dua digit hingga akhir tahun. Alasannya, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi melambat bertahap dari 5,29% pada triwulan II menjadi 5,14% pada triwulan III dan 5,03% pada triwulan IV,” papar Josua.

Investasi juga diperkirakan tumbuh di kisaran 5,53% dan 5,61%, yang masih sehat namun lebih rendah dari 6,87% pada triwulan II. Selain itu, pertumbuhan kredit tercatat lebih tinggi daripada pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10,21%, yang menyebabkan rasio likuiditas perbankan menurun meskipun tetap sangat memadai.

“Hal ini membuat bank besar dengan likuiditas, modal, dan basis nasabah yang kuat kemungkinan masih aktif mengejar kredit korporasi. Namun, mereka akan semakin fokus pada debitur dengan arus kas kuat, proyek yang jelas, serta hubungan transaksi yang memberikan pendapatan lain bagi bank, bukan semata-mata mengejar pertumbuhan baki kredit,” kata Josua.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatat lonjakan penyaluran kredit korporasi pada semester I-2026. Kredit korporasi mencapai Rp542,7 triliun per Juni 2026, naik 24,5% secara tahunan (year on year/yoy). Lonjakan ini menjadi salah satu motor utama ekspansi kredit BNI sepanjang paruh pertama tahun ini.

Jika dirinci, penyaluran kredit kepada korporasi swasta dan institusi mencapai Rp344,9 triliun, tumbuh 9,6% (yoy) pada akhir Juni 2026. Sementara itu, kredit yang disalurkan kepada korporasi BUMN melesat 63,2% (yoy) menjadi Rp197,8 triliun.

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa secara keseluruhan portofolio kredit BNI bertambah sekitar Rp190 triliun sepanjang tahun ini, atau tumbuh sekitar 24,5% (yoy). Sekitar 85% dari pertumbuhan kredit tersebut berasal dari segmen inti BNI, yaitu korporasi besar, segmen *enterprise*, serta kredit yang terkait dengan program pemerintah.

“Sebagian besar, yakni sekitar 85%, berasal dari segmen inti kami, korporasi besar, segmen *enterprise*, dan program terkait pemerintah,” ujar Putrama.

Adapun, kredit sektor swasta yang merupakan gabungan segmen *enterprise* dan korporasi besar meningkat sekitar Rp86 triliun. Sementara kredit kepada BUMN dan program pemerintah bertambah sekitar Rp76 triliun. Pertumbuhan kredit ini bahkan jauh melampaui *guidance* BNI untuk sepanjang 2026. Manajemen sebelumnya menargetkan pertumbuhan kredit hanya sekitar 8-10% (yoy).

Selektif di Semester II

Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengakui bahwa realisasi pertumbuhan kredit hingga semester I telah jauh berada di atas target tahunan. “Total pertumbuhan pinjaman kami, sebesar 24,4% (yoy), jauh di atas *guidance* setahun penuh kami sebesar 8%-10%. Ini memang disengaja,” kata Paolo.

Namun, pertumbuhan agresif tersebut diperkirakan mulai diredam pada semester II-2026 seiring bank yang semakin selektif menyalurkan kredit dan menyesuaikan ekspansi dengan penghimpunan dana. Menurut dia, pada semester II-2026, BNI akan memperlambat ekspansi kredit dengan lebih selektif, terutama dengan mempertimbangkan pertumbuhan DPK.

“Pada paruh kedua, kami akan memperlambat lajunya, menjadi lebih selektif dan menyelaraskan pertumbuhan kredit kami dengan seberapa cepat pertumbuhan DPK kami,” ujar Paolo.

Secara terpisah, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Hendra Lembong, menyampaikan bahwa kredit BCA semester I-2026 ditopang oleh pembiayaan produktif senilai Rp802 triliun, yang meningkat 11% (yoy). “Penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6% (yoy) mencapai Rp513,4 triliun,” ucap Hendra.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat total kredit yang disalurkan mencapai Rp1.592 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka ini naik dari Rp1.327 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Segmen korporasi menjadi penyumbang terbesar penyaluran kredit perseroan. Hingga semester I-2026, kredit korporasi mencapai Rp840 triliun atau tumbuh 33,6% (yoy).

Josua menambahkan, untuk triwulan III, bank memperkirakan penyaluran terbesar akan bergeser terutama ke industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta jasa keuangan. Kondisi perusahaan juga masih cukup mendukung, di mana survei dunia usaha menunjukkan likuiditas dan kemampuan menghasilkan laba masih berada pada kondisi baik, serta akses terhadap kredit tetap relatif mudah, walaupun indikator likuiditas dan laba sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya.

Dari sisi risiko untuk korporasi, Josua mengidentifikasi terutama berada pada kredit yang tumbuh terlalu cepat pada debitur dengan utang tinggi, perusahaan dengan kewajiban dolar tanpa perlindungan nilai yang memadai, perusahaan yang sangat sensitif terhadap harga energi dan komoditas, serta proyek yang arus kasnya baru muncul beberapa tahun ke depan. Pertumbuhan kredit korporasi sebesar 20,45% harus diikuti dengan peningkatan pengawasan setelah pencairan, bukan hanya kualitas analisis pada saat kredit diberikan.

“Jadi, strategi perbankan pada semester II sebaiknya bukan mengerem kredit, tetapi memperbaiki kualitas pertumbuhannya. Kredit korporasi masih layak didorong dan akan tetap menjadi penopang utama, terutama pada manufaktur, perdagangan, logistik, kesehatan, dan proyek konstruksi yang menghasilkan arus kas nyata,” tandas Josua.