DailyFX.ID — WASHINGTON – Perkembangan signifikan terkait pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Jalur Gaza diperkirakan dapat mulai terlihat dalam waktu 30 hari ke depan. Hal ini disampaikan oleh Utusan Khusus Amerika Serikat (AS) Jared Kushner.
“Kami mungkin akan melihat kemajuan dalam waktu 30 hari, mudah-mudahan dengan mulai mengeluarkan sebagian senjata, dan berharap dapat menutup sejumlah terowongan dalam rentang 60 hingga 90 hari mendatang,” ujar Kushner, mengutip laporan Fox News.
Pernyataan tersebut muncul setelah Kushner dilaporkan melakukan pertemuan intensif selama empat jam dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pertemuan tersebut, Kushner mendesak pemerintah Israel untuk mendukung rencana gencatan senjata yang diprakarsai AS dan meminta agar pihak Israel tidak menciptakan hambatan dalam proses pelaksanaan kesepakatan.
The Jerusalem Post mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan mengenai langkah-langkah strategis serta peluang implementasi rencana gencatan senjata di wilayah perbatasan tersebut.
Sebelumnya, pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, AS, dan Turki telah menyepakati pelaksanaan tahap pertama dari rencana perdamaian yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan gencatan senjata tersebut resmi diberlakukan di Jalur Gaza sehari setelahnya.
Sesuai ketentuan dalam dokumen kesepakatan, pasukan militer Israel menarik diri hingga ke batas wilayah yang diidentifikasi sebagai “Garis Kuning”, namun tetap mempertahankan kendali atas lebih dari 50% wilayah Jalur Gaza.
Perkembangan diplomasi terus berlanjut hingga akhir Juli lalu, ketika Board of Peace (BoP) mengumumkan pihak Hamas telah menyetujui peta jalan (roadmap) untuk menjalankan tahap lanjutan dari kesepakatan gencatan senjata.
Rencana rinci ini mencakup skema pengalihan kendali wilayah Gaza secara bertahap kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza. Selain itu, sebuah badan pengawas khusus juga dibentuk secara independen guna memantau serta menindaklanjuti potensi pelanggaran kesepakatan, baik yang dilakukan oleh pihak Hamas maupun militer Israel.
Eskalasi konflik di Jalur Gaza antara militer Israel dan kelompok bersenjata Hamas telah berlangsung dalam jangka panjang dan memicu krisis kemanusiaan yang mendalam di wilayah tersebut. Berbagai upaya diplomasi internasional berulang kali diupayakan untuk menghentikan kontak tembak dan menciptakan stabilitas keamanan regional di kawasan Timur Tengah.
Keterlibatan aktif Pemerintah AS melalui mediator utamanya, Jared Kushner, menjadi bagian dari inisiatif diplomatik komprehensif untuk mendorong resolusi damai bertahap. Rencana perdamaian ini dirancang tidak hanya untuk menghentikan permusuhan fisik, tetapi juga mencakup skema demiliterisasi kawasan seperti penutupan terowongan bawah tanah dan penyerahan persenjataan guna memastikan jaminan keamanan berjangka panjang.
Pengalihan tata kelola wilayah kepada lembaga administratif sipil seperti Komite Nasional untuk Administrasi Gaza dipandang sebagai langkah krusial untuk memulihkan fungsi pemerintahan lokal, memfasilitasi rekonstruksi pascakonflik, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan secara efektif kepada warga sipil di Gaza.
Ikuti DailyFX.ID
