DailyFX.ID — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih bank only sebesar Rp 4,92 triliun pada Agustus 2026. Angka ini mengalami penurunan 2,76% secara bulanan (month on month/mom). Secara kumulatif, laba bersih yang dihimpun BCA selama periode Januari hingga Agustus 2026 mencapai Rp 40,17 triliun, menunjukkan pertumbuhan 2,85% secara tahunan (year on year/yoy).
Perolehan laba pada delapan bulan pertama 2026 ini ditopang oleh laju penyaluran kredit yang kuat dan normalisasi biaya kredit. Selain itu, margin bunga yang membaik, meskipun masih berada di bawah target, turut berkontribusi. Namun, lonjakan beban bunga masih menjadi faktor yang menahan pertumbuhan laba agar tidak lebih jauh.
Penyaluran kredit BCA tercatat tumbuh sebesar 10,52% yoy, mencapai Rp 1.017,70 triliun per Agustus 2026. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dalam satu tahun terakhir dan menandai pertama kalinya target pertumbuhan kredit konsolidasi tahunan sebesar 8-10% pada 2026 terlampaui.
Akibatnya, pendapatan bunga BCA mengalami pertumbuhan 2,42% yoy menjadi Rp 62,86 triliun pada periode Januari-Agustus 2026. Di sisi lain, beban bunga tercatat naik 9,40% yoy menjadi Rp 9,04 triliun. Perkembangan ini menunjukkan bahwa di tengah pemulihan pendapatan bunga yang konsisten, kenaikan beban bunga juga turut menahan perolehan imbal hasil yang lebih optimal.
Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA pun tumbuh tipis 1,33% yoy menjadi Rp 53,82 triliun. Hal ini tercermin pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebesar 5,33% pada delapan bulan pertama 2026. Angka ini lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya, namun masih lebih rendah dari 5,71% yang tercatat pada periode yang sama di tahun 2025. Target NIM BCA sendiri berada di kisaran 5,4%-5,6%.
Lebih lanjut, bank terbesar di Indonesia ini juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dari pendapatan komisi dan biaya lainnya (fee) sebesar 7,74% yoy, yang mencapai Rp 13,59 triliun. Sementara itu, biaya provisi mengalami penurunan 18,55% yoy menjadi Rp 2,16 triliun.
Tren penurunan biaya provisi ini menjadikan biaya kredit (cost of credit/CoC) tetap terjaga rendah di level 0,33% pada delapan bulan pertama 2026. Angka ini bahkan berada di bawah pedoman (guidance) manajemen yang ditetapkan pada kisaran 0,4%-0,5%.
Dalam kondisi likuiditas perbankan yang ketat, BCA menunjukkan pendanaan yang solid. Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,34% yoy menjadi Rp 1.256,83 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh penghimpunan dana dari instrumen dana murah.
Rincian komposisi DPK menunjukkan giro sebesar Rp 447,50 triliun (naik 14,73% yoy), tabungan Rp 626,69 triliun (naik 8,20% yoy), dan deposito Rp 182,62 triliun (turun 4,30% yoy). Rasio dana murah (CASA) BCA pun meningkat menjadi 85,47%.
Dari sisi likuiditas, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) tetap terjaga pada level moderat sebesar 80,97%, meskipun BCA terus memacu penyaluran kreditnya.
Aspek profitabilitas juga menunjukkan hasil yang relatif terjaga. Return on Asset (ROA) tercatat sebesar 3,82% dan Return on Equity (ROE) sebesar 22,70%. Keduanya berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan, yaitu 3,5%-3,7% untuk ROA dan 21,5%-23,5% untuk ROE.
Ikuti DailyFX.ID
