DailyFX.ID — KABUPATEN TANGERANG – Bagi Boin, daun waru bukan sekadar pembungkus tempe. Daun dari pohon yang dulu mudah ditemukan di sekitar kampung itu menjadi penanda tradisi, penopang ekonomi keluarga, sekaligus kunci keberlanjutan usaha tempe tradisional yang kini terancam akibat makin langkanya pohon waru.
Pohon yang daunnya digunakan untuk membungkus tempe tradisional itu kini tidak lagi sebanyak dulu. Sebagian ditebang karena dianggap mengganggu, sebagian lain hilang akibat keterbatasan lahan. Padahal, bagi perajin tempe seperti Boin, keberadaan pohon waru sangat menentukan keberlangsungan produksi.
“Padahal itu ibarat kata mata pencarian atau pohon duitnya tukang tempe untuk di wilayah ini,” ujarnya kepada Investor Daily.
Boin, pria berusia 37 tahun, telah menjalankan usaha tempe daun waru sekitar lima tahun terakhir. Ia meneruskan usaha tersebut setelah orang tuanya sakit dan memintanya menjaga usaha keluarga yang sudah memiliki pelanggan tetap. Ia mengatakan, produksi tempe daun waru telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi kakek, orang tua, hingga kini dikelola olehnya bersama sang istri.
Tempe daun waru memiliki kekhasan yang membedakannya dari tempe pada umumnya. Selain menggunakan kedelai sebagai bahan utama, tempe ini dibungkus dengan daun waru. Menurut Boin, daun waru membuat aroma tempe lebih wangi dan rasanya lebih gurih.
Daun waru selama ini dikenal sebagai salah satu pembungkus alami dalam produksi tempe tradisional. Daun ini memiliki permukaan halus, relatif tidak berbau, dan cukup lentur untuk membungkus kedelai fermentasi.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pengurangan sampah plastik, penggunaan daun waru juga dapat menjadi bagian dari praktik produksi tempe yang lebih ramah lingkungan. Bagi Boin, mempertahankan daun waru bukan hanya soal bahan pembungkus, melainkan juga cara menjaga cita rasa dan kekhasan kampung.
“Orang tua bilang, terusin saja, nanti juga ada berkahnya. Yang penting kita mau berusaha, kerja keras,” katanya.
Setiap hari, Boin memulai proses produksi setelah waktu Zuhur. Ia merendam kedelai, menggiling kacang yang sudah direbus, membersihkannya, lalu melanjutkan proses peragian pada sore hari. Untuk kebutuhan pembungkus, Boin biasanya memetik daun waru dari pohon yang masih tersisa di sekitar rumah.
Keberadaan pohon waru membuat biaya produksi lebih ringan. Di tengah harga plastik yang terus meningkat, daun waru menjadi pembungkus alami yang lebih hemat. Selain itu, penggunaan daun waru membuat produk tetap memiliki ciri khas tradisional yang tidak dimiliki semua perajin tempe.
“Karena kami punya pohonnya di depan dan belakang, saya bisa metik tiap hari tanpa harus mengeluarkan uang. Lebih hemat,” imbuhnya.
Namun, menurut Boin, di Desa Jati Mulya, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Banten, pohon waru mulai langka karena banyak ditebang. Sebagian warga masih memiliki anggapan lama bahwa pohon waru merupakan pohon angker. Ada pula pohon yang ditebang karena posisinya sudah miring dan dikhawatirkan membahayakan warga, rumah, atau kendaraan.
Ketergantungan terhadap daun waru membuat produksi tempe Boin tidak bisa diperbesar secara sembarangan. Meski permintaan pasar masih ada, kapasitas produksi tetap harus menyesuaikan jumlah daun yang tersedia. Dalam sehari, Boin biasanya mengolah sekitar 25 kilogram kedelai. Dari produksi tersebut, omzet kotor yang diperoleh sekitar Rp550 ribu per hari.
Setelah dikurangi biaya kedelai dan kebutuhan produksi lain, penghasilan bersih yang tersisa sekitar Rp200 ribu. Jumlah itu masih dibagi untuk kebutuhan keluarga. Boin mengaku dari usaha tersebut ia biasanya mendapatkan bagian sekitar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per hari.
Selama ini, penjualan tempe daun waru Boin masih berfokus di Pasar Tradisional Sepatan. Pembelinya antara lain konsumen rumah tangga, pedagang sayur, dan pedagang keliling yang membeli untuk dijual kembali. Tempe daun waru buatannya cukup diminati. Dalam kondisi normal, produk yang dibawa ke pasar dapat habis dalam waktu sekitar setengah jam hingga satu jam.
Menjaga Tradisi
Mantri BRI, Ilham Anugrah Pratandi, mengatakan sudah mengenal usaha tempe daun waru sejak sekitar 2016. Saat itu, usaha tersebut dinilai memiliki prospek karena produk yang dijual memiliki ciri khas kuat, meski proses produksinya masih dilakukan secara tradisional.
Menurut Ilham, keunikan tempe daun waru bukan hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada proses dan nilai tradisi yang menyertainya. Usaha ini membutuhkan ketekunan karena proses produksinya masih mengandalkan cara-cara tradisional. Keterampilan membuat tempe daun waru juga diwariskan dari lingkungan keluarga.
“Yang seperti ini sudah jarang. Karena itu kami support terus supaya tetap ada. Jangan sampai tempe daun waru ini hilang,” ujarnya saat dihubungi Investor Daily.
Namun, seperti banyak pelaku UMKM lain, usaha tempe daun waru juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kenaikan harga bahan baku kedelai. Sejak awal, keluarga Boin menggunakan kedelai impor karena kedelai lokal sulit ditemukan di wilayahnya. Kenaikan harga kedelai membuat pendapatan perajin tempe makin tertekan.
“Pedagang tempe dan tahu itu sebenarnya menjerit kalau kacangnya makin meningkat. Saya berharap pemerintah bisa membuat kedelai bersubsidi supaya harganya bisa ditekan,” ungkapnya.
Boin juga pernah mendapatkan dukungan pembiayaan dari BRI. Ia mengaku mulai mengajukan pinjaman sekitar 2020, saat pandemi Covid-19. Pinjaman awal sekitar Rp25 juta digunakan untuk menambah modal dan memperbaiki tempat produksi. Menurut dia, akses pembiayaan tersebut membantu usaha tetap berjalan.
Selain pembiayaan, BRI juga mendorong pelaku usaha memperkuat legalitas produk. Untuk usaha makanan, sertifikasi halal dan izin edar menjadi aspek penting agar produk lebih mudah diterima pasar dan dipercaya konsumen.
Ilham menyebut proses sertifikasi halal telah berjalan, sementara aspek legalitas lain masih perlu terus didorong. Legalitas tersebut dinilai penting apabila produk ingin masuk pasar yang lebih luas, tidak hanya dijual di pasar tradisional.
BRI juga berupaya memperkenalkan produk tempe daun waru melalui berbagai kegiatan pameran. Menurut Ilham, pameran menjadi sarana penting bagi pelaku UMKM untuk memperluas jaringan, bertemu calon pembeli, dan mengenalkan produknya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kalau ada acara atau pameran, kami upayakan agar pelaku usaha bisa ikut. Tujuannya supaya produknya dikenal dan tempe daun waru ini tetap ada,” ucapnya.
Meski demikian, proses naik kelas tidak selalu mudah. Ilham menilai usaha tempe daun waru sebenarnya sudah memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Namun, pelaku usaha masih memiliki keraguan karena penjualan biasanya meningkat saat ada kegiatan atau pameran, lalu kembali normal setelah kegiatan selesai.
“Sebenarnya sudah siap untuk naik kelas. Hanya saja masih ada keraguan. Pasarnya ada, banyak juga yang pernah berkunjung. Tetapi pelaku usaha merasa ramainya saat event saja. Karena itu perlu tahapan supaya benar-benar naik kelas,” ujar Ilham.
Di sisi lain, Boin juga mulai terhubung dengan Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes. Ia bergabung hampir setahun terakhir untuk memperluas relasi, menambah jejaring, dan membuka peluang pengembangan usaha. Pemerintah desa dan BUMDes, menurut dia, sempat menawarkan dukungan modal serta bantuan pemasaran jika produksi ingin diperbesar.
Ke depan, Boin berharap bisa memperluas tempat produksi. Saat ini, dapur produksi masih memanfaatkan area milik mertua. Jika memiliki tempat produksi sendiri, ia berharap kapasitas usaha bisa ditingkatkan secara bertahap.
Namun bagi Boin, pengembangan usaha tidak hanya soal modal, mesin, atau tempat produksi. Keberlanjutan tempe daun waru juga sangat bergantung pada kesadaran warga untuk menjaga pohon waru. Ia berharap pohon waru tidak lagi dipandang sebagai tanaman yang tidak berguna, apalagi ditebang tanpa pertimbangan.
Potensi Jadi Produk Unggulan Lokal
Ilham menilai keberlanjutan bahan baku pembungkus menjadi perhatian penting. Daun waru merupakan elemen utama yang membedakan produk ini dari tempe biasa. Karena itu, keberadaan pohon waru perlu dijaga agar produksi tempe daun waru tetap berlanjut.
Ilham sendiri berharap pelestarian tempe daun waru tidak hanya menjadi tanggung jawab pelaku usaha, tetapi juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah, desa, hingga BUMDes. Dengan dukungan yang lebih luas, produk tersebut berpeluang dikembangkan sebagai identitas kampung atau produk unggulan lokal.
Menurut Ilham, pembicaraan ke arah tersebut sudah ada, meski masih perlu penguatan kelembagaan dan kesiapan di tingkat desa. BUMDes diharapkan dapat berperan dalam menjaga keberlanjutan usaha, baik dari sisi bahan baku, produksi, maupun pemasaran.
“Maunya memang ke arah sana, menjadi identitas kampung. Tapi sekarang masih berjalan personal. Kalau BUMDes bisa lebih fokus, harapannya produk ini bisa dikembangkan lebih luas,” ujarnya.
Meski menghadapi keterbatasan daun waru, mahalnya kedelai, dan perubahan minat generasi muda, Boin masih optimistis tempe daun waru memiliki masa depan. Selama masih ada pelanggan yang mencari dan selama warga ikut menjaga pohon waru, ia yakin usaha tradisional keluarganya bisa terus bertahan.
Ilham juga menegaskan, BRI akan terus mendukung pelaku usaha agar kuliner lokal seperti tempe daun waru tidak hilang. Dukungan itu diberikan melalui pendampingan, pembiayaan, serta kesempatan mengikuti berbagai kegiatan promosi.
Ikuti DailyFX.ID
