DailyFX.ID — JAKARTA – Tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diiringi dengan kesiapan menghadapi masa pensiun. Riset DBS Foundation menunjukkan kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih relatif rendah, meskipun tingkat inklusi keuangan kelompok usia produktif sudah tinggi.
Pada kelompok usia 18–50 tahun, inklusi keuangan tercatat mencapai 93,5%–95,1%, dengan literasi keuangan berada pada kisaran 72,1%–74,1%. Namun, kepemilikan tabungan atau dana pensiun baru mencapai sekitar 5,37%, sementara pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun baru mencapai 27,79%.
Temuan ini menjadi perhatian mengingat perubahan struktur demografi Indonesia yang mengarah pada masyarakat menua. Proporsi penduduk berusia di atas 60 tahun telah mencapai sekitar 12% pada 2025 dan diproyeksikan melampaui 20% pada 2045.
Riset bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” menilai kesiapan pensiun tidak cukup hanya bergantung pada kemampuan individu untuk menabung. Faktor seperti pendidikan, pekerjaan, kesehatan, perlindungan sosial, dan akses terhadap skema pensiun juga ikut menentukan kemandirian pada usia lanjut.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan persiapan menghadapi masyarakat menua perlu dimulai sejak seseorang masih berada pada usia produktif. “Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif,” ujarnya.
Menurut Mona, kesiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi keuangan, dan persiapan pensiun. Indonesia saat ini masih memiliki bonus demografi dengan 69% populasi di usia produktif (15-65 tahun) di 2025. Namun, jendela bonus demografi ini makin menyempit dengan berkurangnya persentase populasi produktif.
Salah satu faktor pendorong transisi demografi ini adalah menurunnya fertilitas dan meningkatnya harapan hidup. Kondisi ini membentuk keluarga yang makin kecil dan tingginya ketergantungan lansia pada anggota keluarga yang bekerja. Data dalam riset menunjukkan sebagian besar lansia masih bergantung pada anggota keluarga yang bekerja. Sekitar 82,96% rumah tangga lansia memperoleh penghasilan dari anggota keluarga yang bekerja, sedangkan kurang dari 1% menggantungkan kehidupan ekonominya pada tabungan dan investasi.
Selain itu, sebanyak 55,32% lansia masih bekerja dan 84,75% di antaranya berada di sektor informal. Kondisi ini berkaitan dengan keterbatasan akses sebagian masyarakat terhadap pekerjaan dengan pendapatan stabil serta skema pensiun formal. Perubahan struktur keluarga juga berpotensi menambah beban generasi produktif.
Tingkat fertilitas total turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024 dan diproyeksikan menjadi 1,97 pada 2045. Jumlah pernikahan juga turun dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menilai kesiapan menghadapi masa tua harus dibangun sepanjang siklus kehidupan. “Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut,” ungkapnya.
Menurut Woro, pendekatan tersebut dibutuhkan agar masyarakat tidak hanya siap ketika memasuki usia lanjut, tetapi juga memiliki fondasi kehidupan yang sehat, produktif, dan sejahtera sejak usia muda. Sementara itu, Artist, Entrepreneur, dan Founder of Cinta Laura Foundation, Cinta Laura Kiehl, menyoroti pentingnya pendidikan dan pengembangan kapasitas sebagai bagian dari kesiapan menghadapi masa depan.
“Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar. Namun, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan kapasitas diri belum dimiliki semua orang. Karena itu, Cinta Laura Foundation mendukung mahasiswa menyelesaikan pendidikan sekaligus mengembangkan leadership, communication, financial literacy, problem solving, dan career readiness agar mereka lebih siap membangun masa depan yang mereka inginkan,” ujarnya.
Riset tersebut juga menekankan perlunya skema dana pensiun yang lebih fleksibel bagi pekerja sektor informal dan wiraswasta. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas cakupan perlindungan pensiun dan mengurangi ketergantungan finansial pada generasi berikutnya. Kesiapan masa pensiun pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dikumpulkan. Kesehatan, pendidikan, keterampilan, pekerjaan, kemampuan beradaptasi, serta kebiasaan mengelola keuangan sejak dini turut memengaruhi kualitas hidup pada usia lanjut.
Ikuti DailyFX.ID
