— Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memanggil mahasiswa Indonesia untuk berinovasi demi meningkatkan produktivitas kelapa sawit, kakao, dan kelapa tanpa perluasan lahan. Ajakan ini disampaikan dalam Web Seminar Call for Proposal Lomba Riset Tingkat Mahasiswa Tahun 2026–2027.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, membuka kegiatan ini dan menekankan peran vital generasi muda serta perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang tidak hanya relevan bagi sektor perkebunan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri.

“Mahasiswa memiliki ruang yang sangat besar untuk menghadirkan perspektif baru dan solusi yang berani. Melalui lomba ini, kami berharap lahir inovasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dapat menjawab persoalan nyata serta meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit, kakao, dan kelapa,” ujar Mohammad Alfansyah dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Lomba Riset Tingkat Mahasiswa ini merupakan bagian dari upaya BPDP dalam mendukung penelitian dan pengembangan komoditas perkebunan. Tujuannya adalah mendorong mahasiswa untuk menghasilkan gagasan yang kreatif, inovatif, aplikatif, dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut, khususnya dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi, keberlanjutan, dan kesejahteraan para pekebun.

Dr. Bandung Sahari, anggota Tim Penilai Lomba Riset BPDP, dalam paparannya yang bertajuk “Riset Inovatif untuk Masa Depan Industri Perkebunan Indonesia”, menyoroti peran signifikan pekebun rakyat dalam ketiga komoditas tersebut. Sekitar 41 persen areal perkebunan kelapa sawit dikelola oleh pekebun rakyat, sementara lebih dari 90 persen perkebunan kakao dan kelapa berada di bawah pengelolaan mereka.

Besarnya porsi ini menjadikan peningkatan produktivitas pekebun rakyat sebagai kunci utama bagi masa depan industri perkebunan nasional. Upaya peningkatan produksi ini harus dilakukan tanpa mengandalkan perluasan lahan, sejalan dengan prinsip perlindungan lingkungan, pengendalian konversi lahan, dan komitmen pembangunan rendah karbon.

“Pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui riset adalah bagaimana meningkatkan produktivitas sawit, kakao, dan kelapa tanpa menambah luasan lahan, sekaligus memastikan inovasi tersebut tetap terjangkau dan dapat diterapkan oleh pekebun rakyat,” jelas Bandung.

Untuk komoditas kelapa sawit, tantangan produktivitas pekebun rakyat meliputi akses terhadap benih unggul, pupuk, pembiayaan, praktik pembibitan, pengendalian penyakit, dan penerapan praktik budidaya yang baik. Pekebun kakao dan kelapa juga menghadapi tantangan serupa, termasuk tanaman tua, perubahan iklim, serangan hama, mutu hasil panen, serta keterbatasan akses teknologi dan pasar.

Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya menghasilkan gagasan akademis yang menarik. Proposal riset harus berangkat dari persoalan nyata, memiliki analisis kesenjangan yang kuat, menggunakan metodologi yang tepat, dan menawarkan solusi yang memungkinkan untuk diterapkan di lapangan. Inovasi yang ditawarkan bisa meliputi pengembangan varietas unggul tahan iklim, perbaikan kesehatan tanah, pemupukan presisi, pengendalian hama ramah lingkungan, pengelolaan air, mekanisasi, hingga pemanfaatan Internet of Things, kecerdasan buatan, dan data geospasial.

Peluang riset juga terbuka pada bidang pascapanen, ketertelusuran rantai pasok, pemanfaatan limbah, ekonomi sirkular, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta penguatan kelembagaan dan kapasitas pekebun. “Riset harus mampu menjadi jembatan antara pengetahuan di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata industri serta pekebun. Ukuran keberhasilannya bukan hanya publikasi, melainkan juga seberapa besar solusi tersebut dapat memberikan dampak,” tambah Bandung.

Kepala Divisi Penyaluran Dana Riset BPDP, Rahmat Widiana, memaparkan mekanisme pengajuan proposal. Peserta lomba adalah mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia, dengan setiap kelompok terdiri atas tiga hingga lima mahasiswa didampingi satu dosen pembimbing.

“Kami mencari proposal yang mampu menunjukkan dengan jelas persoalan yang ingin diselesaikan, kebaruan solusi yang ditawarkan, dan manfaat yang dapat dihasilkan. Gagasan yang baik perlu diterjemahkan menjadi rancangan riset yang terukur, realistis, serta memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut,” kata Rahmat Widiana. Penilaian proposal mencakup analisis kesenjangan, kualitas dan kreativitas kegiatan riset, kebermanfaatan, serta prospek pengembangan hasil penelitian.

Ruang lingkup riset meliputi bidang budidaya, tanah dan lahan; pascapanen dan pengolahan; pangan dan kesehatan; bioenergi; biomaterial dan oleokimia; pengolahan limbah dan lingkungan; serta sosial, ekonomi, manajemen, bisnis, dan teknologi informasi. Melalui lomba ini, BPDP berharap lahir inovasi yang tidak hanya meningkatkan hasil per hektare, tetapi juga menekan biaya produksi, menjaga kesehatan ekosistem, meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, dan memperkuat kesejahteraan pekebun rakyat.