DailyFX.ID — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan industri bioetanol di Indonesia tidak akan didominasi oleh korporasi besar. Pemerintah mewajibkan partisipasi masyarakat dalam seluruh aspek pengembangan, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengembangan usaha di area produksi.
Amran menekankan bahwa setidaknya 30% dari total pengembangan industri bioetanol harus melibatkan partisipasi masyarakat. Hal ini bertujuan agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata oleh rakyat.
“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30% rakyat. Jadi rakyat menikmati. Ini dia tumbuh bersama perusahaan,” ujar Amran di Jakarta, Selasa (22/9/2026). Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat adalah kunci agar industri bioetanol dapat tumbuh selaras dengan ekonomi kerakyatan.
Pemerintah bertekad memastikan bahwa pengembangan industri ini tidak hanya menguntungkan perusahaan semata, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan produksi. “Sekarang tidak boleh di bawah 20, harus 30% untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat. Ini yang kita dorong, ekonomi rakyat,” tegasnya.
Selain masyarakat, pemerintah juga mendorong partisipasi pengusaha daerah dalam pengembangan industri bioetanol. Langkah ini diharapkan dapat mencegah konsentrasi investasi hanya terpusat di kota-kota besar dan perusahaan raksasa.
Amran mengimbau pengusaha daerah untuk mengajukan diri dalam proyek bioetanol sesuai dengan kapasitas dan potensi wilayah masing-masing. “Kalau bisa ada pengusaha daerah, usulkan. Ini untuk pemerataan pembangunan. Kalau tidak ada, kabupaten ke provinsi baru nasional,” jelasnya.
Pengembangan bioetanol dinilai memiliki dampak ekonomi yang signifikan karena dapat meningkatkan permintaan terhadap komoditas pertanian dan mendorong pertumbuhan industri pengolahan. Rantai ekonomi ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, baik di sektor pertanian maupun industri pengolahan.
“Kalau ini terjadi, minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen,” ungkap Amran. Lebih lanjut, pengembangan bioetanol dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, karena bahan baku tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk energi.
Dengan demikian, manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh rantai pasok, mulai dari petani sebagai penyedia bahan baku, pelaku usaha daerah, industri pengolahan, hingga tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi.
Pengembangan Bioetanol Perkuat Kemandirian Energi Nasional
Di samping menjadi instrumen pengembangan ekonomi kerakyatan, pemerintah juga mengarahkan pengembangan bioetanol untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Peningkatan produksi biofuel dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada energi impor sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian.
Pemerintah menargetkan pengembangan bioetanol dilakukan secara bertahap, dengan tujuan implementasi E20 pada tahun 2029 dan peningkatan lebih lanjut di tahun-tahun berikutnya. Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk membangun kedaulatan energi sekaligus memperluas manfaat ekonomi dari sektor pertanian.
“Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insyaallah Indonesia menjadi negara besar, negara superpower ke depan,” pungkas Amran.
Ikuti DailyFX.ID
