— Aktivitas vulkanik Gunung Merapi, yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali meningkat. Pada Senin (21/9/2026) pagi, gunung api aktif tersebut tercatat meluncurkan guguran lava sebanyak lima kali ke arah sektor barat daya.

Berdasarkan laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), satu guguran lava teramati mengalir ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1.000 meter. Empat guguran lava lainnya meluncur hingga jarak 2.000 meter menuju hulu Kali Sat/Putih.

Selain guguran lava pijar, data kegempaan mencatat 16 kali gempa guguran dan 18 kali gempa hybrid/fase banyak. Aktivitas gempa ini mengindikasikan suplai magma di dalam tubuh gunung masih aktif.

Secara visual, puncak Merapi terlihat jelas dalam cuaca cerah tanpa asap kawah. Angin bertiup lemah ke timur dan barat. BPPTKG mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Merapi pada Level III (Siaga).

Imbauan Waspada Kebakaran Hutan di Musim Kemarau

Menanggapi perkembangan ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali mengimbau warga lereng Merapi untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini tidak hanya terkait ancaman bahaya vulkanik, tetapi juga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di musim kemarau.

“Saat ini kita memasuki musim kemarau. Kami mengimbau warga di kawasan lereng Merapi agar tidak sembarangan membakar ranting kering. Dikhawatirkan api dapat meluas dan memicu kebakaran hutan,” ujar Plt. Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo.

Ari juga mengingatkan masyarakat untuk mematuhi rekomendasi teknis dari BPPTKG dan tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam kawasan potensi bahaya.

Pemetaan Kawasan Potensi Bahaya

BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava serta awan panas guguran (APG). Bahaya ini berisiko meluncur ke beberapa sektor sungai.

Di Sektor Barat Daya, potensi bahaya mencapai maksimal 5 km dari puncak untuk Kali Boyong, serta maksimal 7 km dari puncak untuk Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng. Di Sektor Tenggara, potensi bahaya mencapai maksimal 3 km dari puncak untuk Kali Woro, dan maksimal 5 km dari puncak untuk Kali Gendol.

Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak. Masyarakat juga diminta mengantisipasi bahaya lahar dingin saat hujan di wilayah hulu, serta potensi sebaran abu vulkanik di area sekitar.

Gunung Merapi dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di dunia dengan siklus erupsi efusif yang khas, ditandai pertumbuhan kubah lava di puncak. Ketika kubah lava tidak stabil, gravitasi dan tekanan gas memicu runtuhnya material lava membentuk guguran lava pijar maupun awan panas guguran (pyroclastic density currents).

Sejak statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga) pada November 2020, Merapi berada dalam fase erupsi efusif jangka panjang dengan dua kubah lava aktif di sektor barat daya dan tengah kawah. Laju suplai magma yang tinggi menjadikan alur sungai di sektor barat daya dan tenggara sebagai jalur utama ancaman bahaya. Pemantauan berkala dan kesiapsiagaan masyarakat lokal menjadi kunci utama mitigasi bencana di kawasan ini.