— JAKARTA – PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), produsen permen kenyal Yupi, berhasil mencatatkan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan atau omzet sebesar Rp 1,46 triliun sepanjang paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan pertumbuhan tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp 1,43 triliun pada semester I-2025.

Pendapatan YUPI di enam bulan pertama tahun ini terbagi atas kontribusi domestik sebesar Rp 1,16 triliun dan pendapatan ekspor senilai Rp 358,77 miliar. Terdapat pula potongan penjualan dan rabat yang tercatat sebesar Rp 55,97 miliar.

Dengan beban pokok penjualan yang mencapai Rp 855,81 miliar, perusahaan berhasil membukukan laba kotor sebesar Rp 609 miliar. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp 322,4 miliar, mengalami peningkatan dari Rp 314,2 miliar pada semester I-2025.

Profil Yupi Indo Jelly Gum

Dalam situs resminya, Yupi memaparkan perjalanannya menjadi salah satu produsen gummy candy terbesar di Asia. Jangkauan distribusinya telah meluas hingga ke lebih dari 40 negara di dunia. Perusahaan mengoperasikan tiga fasilitas produksi utama di Indonesia, berlokasi di Gunung Putri (Jawa Barat), Karanganyar (Jawa Tengah), dan Samolo-Cianjur (Jawa Barat), yang ditunjang oleh total 22 lini produksi.

YUPI telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 25 Maret 2025, dengan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp 2.390 per saham. Namun, kinerja sahamnya sejak IPO menunjukkan tren pelemahan. Pada sesi I perdagangan Selasa (15/9/2026), saham YUPI diperdagangkan di level Rp 1.300, melemah 0,30% dari hari sebelumnya. Secara kumulatif sejak IPO, saham YUPI telah terkoreksi 45,61%.

Penerima manfaat akhir dari PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk saat ini adalah Robin Ong Eng Jin.