— JAKARTA – Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami masyarakat Makassar akibat kelangkaan dan antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU. Perusahaan sedang berupaya memulihkan pasokan agar kembali melimpah dan operasional SPBU berjalan optimal.

Sebagai langkah penanganan cepat, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menerapkan beberapa strategi operasional. Pertama, perpanjangan jam operasional SPBU untuk melayani pasokan secara lebih merata. Kedua, peningkatan alokasi serta pengiriman pasokan BBM ke titik-titik SPBU di Kota Makassar. Ketiga, penambahan armada dan fasilitas, termasuk jumlah nozzle, operator pengisi BBM, serta pembentukan Outlet Satgas Pelayanan BBM.

Untuk memastikan distribusi berjalan aman dan tepat sasaran, Pertamina membentuk Satgas Gabungan bersama Pemerintah Daerah, TNI, dan Polri. Petugas gabungan diterjunkan langsung ke lapangan untuk mengatur lalu lintas di sekitar SPBU dan mencegah kemacetan akibat antrean kendaraan.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Deny Sukendar menyatakan antrean di mayoritas SPBU Kota Makassar kini sudah mulai terurai dan pelayanan berangsur kembali normal. “Pertamina Patra Niaga memahami kesulitan dan aspirasi masyarakat. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Berbagai langkah recovery telah kami lakukan dan terus kami perkuat, termasuk bersama Satgas Gabungan di lapangan,” ujar Deny.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk memantau informasi terkini secara transparan melalui akun Instagram resmi @pertaminasulawesi. Pertamina juga mengapresiasi kesabaran warga Makassar serta berjanji akan terus melakukan evaluasi demi meningkatkan kualitas layanan energi di wilayah tersebut.

Kota Makassar memegang peranan kunci sebagai pusat aktivitas ekonomi, perdagangan, dan simpul transportasi utama di Kawasan Timur Indonesia. Ketergantungan masyarakat terhadap ketersediaan BBM sangat tinggi, baik untuk kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga moda transportasi logistik antarwilayah. Gangguan kelancaran distribusi BBM di Makassar dapat dipicu oleh pelbagai faktor teknis maupun nonteknis, seperti hambatan cuaca pada moda transportasi laut pembawa pasokan dari kilang utama, keterlambatan armada tangki darat, hingga kenaikan konsumsi masyarakat yang mendadak (panic buying).

Oleh karena itu, penguatan rantai pasok dan respons cepat melalui Satgas Gabungan menjadi krusial untuk menjaga stabilitas ketersediaan energi di Sulawesi Selatan.